1

539 65 2
                                        

Lee Jeno/Jeno as Kenzo Ardenth

Lee Haechan/Haechan as Sena Valerie

BAB 1

"Khawatir"

Kantin fakultas seni itu terlihat ramai oleh suara tawa, dentingan sendok dan obrolan mahasiswa yang saling bersahutan. Aroma mie goreng dan kopi memenuhi udara siang yang panas itu.

Di salah satu sudut meja kantin, Sena duduk sendirian menunggu temannya memesan makanan. Jarinya mengetuk pelan, sesekali matanya menatap sekitar.

Pandangan tersebut lalu buyar karena kedatangan Naren di sampingnya.

"Jahat banget lu ninggalin gue ya"

Sena menatap malas temannya "Elu yang kelamaan ya Naren Mahendra. Perut gue udah minta diisi dari tadi" keluh nya.

Pemuda itu lalu tertawa kecil sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal dan mendudukkan dirinya di depan Sena.

"Rendra mana?" tanya Naren.

Belum sempat Sena membalas, Rendra datang membawa nampan berisikan 2 piring mie goreng dan 2 es jeruk.

"Nah ini orangnya"

"Lu ga pesenin punya gua ya nyet?" tanya Naren, sambil diam-diam mengambil minuman milik Rendra.

"Lu ga ngasi tau ya Naren cakep, dan stop minum punya gua anjing" kesal Rendra sambil merebut minumannya kembali.

Sena terkekeh pelan melihat tingkah dua sahabatnya itu. Namun senyum itu perlahan mumudar saat ia melihat pemuda yang baru saja masuk ke dalam.

Beberapa orang langsung menoleh spontan.

'Eh kak Kenzo kenapa kesini?'

'Ganteng banget buset.'

'Ngapain dia ke fakultas seni? Bukannya dia dari fakultas teknik"

'Fix nyari si Sena itu mah.'

'Kalau Kenzo udah muncul di sini, berarti ada Sena'

Sementara itu, Kenzo berjalan masuk dengan langkah santai. Pemuda tersebut memakai baju hitam polos yang membalut tubuh tegapnya, memperlihatkan garis otot di lengan dan bahunya. Tatapannya dingin dan rahangnya tegas.

Kenzo lalu menyapu isi kantin sekilas sebelum sorot matanya berhenti tepat ke arah Sena.

Dan sialnya, Sena langsung tahu.

Beberapa mahasiswa mulai berbisik pelan sambil menoleh bergantian ke arah mereka. Bahkan ada yang diam-diam mengeluarkan ponsel karena penasaran melihat Kenzo datang ke fakultas seni lagi.

Sena buru-buru menundukkan kepala.

"Mampus," lirihnya pelan.

Naren langsung terkekeh. "Tuh kan. Gue bilang juga apa."

Sedangkan Rendra menatap dengan malas. "Noh cowo lu setiap dateng langsung di buat heboh ini kantin seni."

Kenzo berhenti tepat di samping kursinya.

Sena bisa mencium samar aroma parfum citrus bercampur musk yang menempel di baju pemuda itu.

Belum sempat ia mendongak, sebuah tangan lebih dulu mengusap pelan kepalanya.

"Hp lo mati?"

Suara rendah itu langsung membuat Sena menelan ludah.

Pelan-pelan ia mengangkat wajah, lalu mendapati Kenzo sedang menatapnya tanpa ekspresi.

Sena langsung mengalihkan pandangan "Engga kak."

"Terus kenapa chat gue ga di bales?"

Pertanyaan itu ada nada khawatir bercampur kesal yang terlalu jelas untuk disembunyikan.

Di depan mereka, Naren dan Rendra langsung mendadak anteng. Keduanya pura-pura fokus sama minuman masing-masing meski sesekali masih curi-curi pandang ke arah Sena yang mulai salah tingkah.

Sena menghela nafasnya pelan. "Tadi ada kelas, kak ken."

"Kelas tiga jam?"

Sena langsung terdiam.

Kenzo menatap manik indah itu beberapa detik lalu manarik kursi di sebelah Sena "Gue nyariin lo dari tadi sampe ke gedung belakang." jujurnya.

"Lebay ih" canda Sena pelan.

Tapi Kenzo sama sekali ga keliatan ikut bercanda.

"Gue serius."

Sena langsung diam.

Rahang Kenzo menegang samar. "Lo tuh kalau ngilang bisa kabarin dulu susah banget, ya?"

"Iya-iya maaf kak, aku tadi ada rapat kepanitiaan. Hp aku lowbat, nih aku baru aja bisa ngecas" kata Sena yang semakin merasa bersalah.

Kenzo menghela nafas pelan "Yaudah."

Sena menahan senyum tipis "Ngambek ya?"

"Engga."

"Boong."

"Gue bilang eng—" ucapan itu terputus saat kedua tangan Sena menangkup pipinya. Kenzo langsung terdiam, rahangnya sedikit menegang. Padahal selama ini dia yang paling sering cari alasan buat nyentuh Sena, tapi entah kenapa saat pemuda itu yang duluan melakukannya, suasananya jadi beda.

"Bilang aja kamu ngambek kak," goda Sena pelan, ibu jarinya sedikit menekan pipi Kenzo. "Masa cowo tampang serem kaya kakak ternyata gampang ngambek."

Kenzo mengembuskan napas kasar, berusaha mempertahankan wajah datarnya walau ujung telinganya mulai memerah tipis.

"Awas aja lo ngilang tanpa kabar lagi," gunamnya, suara rendahnya terdengar lebih seperti khawatir daripada marah.

"Ekhem."

Sena langsung tersentak.

"kita masih di sini kalau kalian lupa."  celetuk Naren.

Dengan cepat Sena menarik kedua tangannya lalu menunduk pura-pura fokus mengaduk mie gorengnya yang bahkan belum disentuh dari tadi. Pipinya perlahan mulai menghangat karena malu.

Berbeda dengan Kenzo yang tersenyum tipis melihat Sena seperti itu.

"Makan yang banyak," ucapnya lebih lembut

Setelah itu Kenzo berdiri, mengusap singkat puncak kepala Sena sebelum melangkah pergi meninggalkan kantin yang sejak tadi masih diam-diam memperhatikan mereka.

_________

Vote and comment juseyo.

Hai, ini book pertama aku setelah sekian lama ga nulis lagi. Maaf ya kalau misalnya belum seru dan tulisannya masih kaku. Soalnya masih kena writer block 😭

Semoga kalian suka ya sama universe Kenzo - Sena ini 😖🙏🏻

Closer Than Lovers | nohyuckStories to obsess over. Discover now