Prolog

0 1 0
                                        

Angin berhembus kencang, di hamparan rumput hijau yang telah rusak terdapat segel yang terukir bewarna emas. Sosok pria berambut perak kemerahan tengah berdiri ditengah segel, kedua tangannya dirantai.

Suara teriakan memekakkan telinga. Morveth menjerit kesakitan. Tubuhnya seolah dirobek paksa, organ tubuhnya seolah diremas. Darah merembes dari mulutnya. Walaupun begitu, tak ada kata yang keluar dari mulutnya.

"Aether yang suci tidak seharusnya berada di wadah yang kotor." Suara tanpa wujud masih terus ada.

"Kumohon hentikan, dia bisa mati!" Ravel berteriak kencang, ia meraung-raung ke udara. Sungguh ia tidak tega melihat orang di depannya kesakitan begitu hebat.

Rhydan menyerang segel, namun belum sempat berhasil mendekat ia sudah terpental. "Kau tidak boleh mati di sini, kau harus mati di tangan ku, Morveth!"

"Raja kegelapan mana yang ditakuti oleh semua orang, dia bahkan tidak memberontak sama sekali dihukum secara tidak adil," ujar Nareth.

Varen memandang datar Morveth yang tengah kesakitan. "Percuma kalian membantunya, kalau orang yang kalian bantu ingin mati."

Cahaya keemasan menyilaukan mata, tubuh Morveth diselimuti cahaya Aether, sedangkan Umbra di tubuhnya terus ditekan. Teriakan pilu kembali terdengar. Morveth menggenggam tangannya kuat, mencoba menahan. Bahkan untuk mati saja, ia masih harus merasakan sakit yang luar biasa.

"Jangan diam saja, kalian bantu Morveth!" Ravel berteriak marah ke teman-temannya, setidaknya itu yang ia anggap.

Tidak ada satu pun yang bergerak.

Mereka berdiri mengelilingi segel dengan wajah pucat, sebagian menunduk, sebagian lain memalingkan muka. Mereka semua tahu, walaupun kekuatan mereka berlima jika disatukan sekalipun, belum tentu bisa menghancurkan segel tingkat langit.

Langit di atas mereka menggelap perlahan. Awan berputar membentuk pusaran besar. Rantai yang mengikat pergelangan tangan Morveth bergetar, memancarkan cahaya keemasan yang kian menyilaukan. Setiap denyut cahaya itu terasa seperti paku yang ditancapkan ke tulangnya.

Morveth terengah. Napasnya pendek, berat. Dadanya naik turun tidak beraturan, namun matanya... tetap terbuka.

Ia menatap lurus ke depan.

Kosong.

"Aether yang kau bawa bukan lagi milikmu," suara tanpa wujud itu kembali berbicara, dingin dan tanpa cela. "Ia menolakmu. Dunia menolakmu."

Umbra di dalam tubuh Morveth meronta, hitam dan keruh, berusaha keluar seperti asap yang tercekik. Namun setiap kali ia mencoba bangkit, cahaya emas menekannya kembali, memaksanya berlutut lebih dalam.

Morveth tersenyum tipis—nyaris tak terlihat.

Jadi begini rasanya, pikirnya samar.

Ditolak oleh dua sisi sekaligus.

Ravel kembali berteriak, suaranya pecah. Ia memukul segel dengan kepalan tangan, tak peduli darah mulai mengalir dari buku-bukunya. "Hentikan! Dia sudah cukup dihukum! Apa lagi yang kalian inginkan?!"

Tidak ada jawaban.

Rhydan bangkit tertatih. Wajahnya penuh amarah, matanya merah menyala. "Kalau dia memang harus mati," geramnya, "biarkan aku yang mengakhiri! Jangan sembunyikan dirimu di balik cahaya suci seperti pengecut!"

Cahaya di segel justru semakin terang.

Morveth akhirnya menunduk. Rambut peraknya yang telah ternodai darah jatuh menutupi wajahnya. Bahunya bergetar pelan,  tubuhnya mulai kehilangan kemampuan untuk menahan rasa sakit.

Namun di antara denting rantai dan dengung Aether, suaranya terdengar. Pelan. Hampir tak ada.

"Cukup..."

Ravel terdiam.

Rhydan membeku.

Morveth mengangkat kepalanya sedikit, cukup untuk memperlihatkan senyum yang dipaksakan.

"Jangan... melawan," bisiknya. "Kalian... hanya akan membuatnya lebih lama."

Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada teriakan mana pun.

Cahaya mencapai puncaknya. Segel bergetar hebat. Tanah di sekitarnya mulai retak, rumput yang tersisa berubah menjadi abu. Rantai-rantai itu menarik lebih kuat, seolah ingin merobek sesuatu yang jauh lebih dalam dari daging dan tulang.

Morveth memejamkan mata.

Untuk sesaat—hanya sesaat—ia berharap ini cukup. Bahwa dunia akan menepati janjinya dan mengakhiri segalanya di sini.

Namun kemudian... cahaya itu tersendat.

Denting rantai berhenti.

Udara yang menekan dadanya tiba-tiba mengendur. Umbra di dalam tubuhnya ditahan, semakin kuat. Morveth menggigit bibirnya, menahannya.

Suara tanpa wujud itu terdiam.

Segel tidak runtuh.

Namun juga tidak menyempurna.

Morveth terjatuh ke depan, rantai di tangannya mengendur namun tidak lenyap. Tubuhnya menghantam tanah dengan suara tumpul. Ia terengah, napasnya berat. Rasanya semua tubuhnya remuk, dan kembali dihancurkan.

Ravel berlari menghampirinya, berlutut di sisinya. "Morveth—Morveth! Buka matamu! Tolong—"

Udara tampak dingin. Semua orang tampak cemas, takut dengan kemungkinan terburuknya. Tak ada yang bersuara, hanya suara detak jantung mereka yang mendominasi.

To be Continued
210126

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Jan 21 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

The Snare of Eternity Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora