Bagian 1

1.6K 72 3
                                        

Semua orang di ruangan rasanya ingin menjerit dengan deadline yang mereka terima. Target-target yang belum terpenuhi, serta kerjasama kontra baru dengan partnership yang belum terlaksana.

Santa memijat pelipisnya menatap monitor komputernya. Dalam skala 1-10 dia sudah di 9 poin menuju stres akut. Ia tidak terkejut ketika ia merasakan seseorang memijat bahunya.

"Sudah jangan dipikirkan." kata Perth.

"Aku pusing sekali. Ini baru Q2."

"Belum Q3 dan Q4 kan? Masih bisa kau tambahkan dari Q3 yang akan datang."

"Pengajuannya akan rumit."

"Memang akan sedikit rumit tetapi jika di bagi menjadi dua kali pengajuan, tidak akan menghabiskan separuh budget Q2."

Santa mendengus kesal. "Jadi harus kerja dua kali. Juga dalam satu tahun... ohh! Aku buatkan targeting saja ya."

"Benar. Jadi jika achive baru tambahkan lagi."

"Meskipun pengajuannya sulit." kata Santa pelan.

"Perth, kesini sebentar." Tay yang merupakan kepala bagian di divisi mereka memanggil Perth ke ruangannya. Santa hanya melirik sekilas.

"Ah malas sekali." cibir Perth.

"Siap-siap ya."

"Telingaku harusnya kuat mendengar keluhannya."

Santa terkekeh. "Semangat!"

"Tidak perlu begitu, berikan aku satu ciuman, baru aku bisa semangat."

Santa memberikan jari tengahnya. Perth tertawa. Perth segera pergi menuju ruangan Tay. Boom menarik kursinya mendekat pada Santa.

"Siapapun yang melihatmu dengan Perth akan percaya kalau kalian berpacaran." bisik Boom.

Santa memutar bola matanya. "Aku sudah punya pacar jika kau lupa."

Boom tertawa. "Kalau aku boleh jujur, kalian sangat serasi."

"Darimana? Kau lihatnya pakai matamu kan? Bukan mata yang lainnya?"

"Ini aku serius mengatakannya."

"Jangan aneh-aneh ya. Aku tidak suka dengan pria hidung belang sepertinya. Kau tahu sendiri dia seperti apa."

"Ya, dia mungkin begitu karena kau belum mau berpacaran dengannya."

Santa mengernyit. "Tidak ada hal seperti itu. Jika kau bertanya padanya, dia bisa langsung meminta bantuan biksu untuk membuatmu sadar."

"Baik kau dan aku tidak ada yang tahu masa depan."

"Dengarkan aku ya, dia itu straight. Jadi kau tidak perlu berimajinasi."

"Dulu aku juga straight. Sejak bertemu dengan Aou semua berbeda. Ini tentang cinta, bukan orientasi sex kan?"

"Tentu berkaitan juga. Sudah, aku ingin menarik data untuk pengajuan Q2."

"Ah! Kau mengingatkanku juga."

"Memangnya dari tadi kau sedang apa?"

"Membalas pesan Aou." Boom terkekeh. "Dia mengajakku makan siang. Aku belum memikirkannya. Kau ingin ikut?"

"Ya, boleh nanti."

"Aku akan mengajak Perth juga."

"Tidak sekalian kau mengajak semua orang disini."

Boom menjulurkan lidahnya. Santa tertawa dan kemudian keduanya kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Semua berjalan hening, hanya terdengar suara ketukan keyboard hingga seseorang menarik kursi disebelah Santa dan menyandarkan kepalanya di bahu Santa.

PerthSanta - Bed Friend (END)La tua prossima ossessione. Scoprilo ora