prolog

168 26 1
                                        

“pakein sambelnya dong sa.”

“nanti kalau mules lo sendiri yang ribet, wu.”

“kagak bakal… dikit aja. gak enak, gak ada rasanya kalau gak pake sambel.”

asahi pun menuruti keinginan jeongwoo yang lagi dia suapin sarapan nasi kuning.

“lo nya makan gak sih?” tanya jeongwoo.

“makan kok,”

jeongwoo ngelirik sebentar dan ngangguk pelan ketika liat asahi juga menyendok nasi kuning itu. cuma emang makannya asahi lama, jadi kesusul sama jeongwoo terus.

by the way, mereka sekarang lagi otw kantor masing-masing. dan untuk mengefisiensikan waktu, mereka milih buat sarapan di jalan—dengan jeongwoo yang disuapin asahi.

nasi kuningnya habis bertepatan dengan beberapa menit mereka sampai ke kantor asahi. bungkus nasinya asahi beresin dengan rapi dan bakal dia buang di tempat sampah nanti.

“nanti malem makan mie aja kali ya, sa?”

asahi menoleh, keningnya ngerut tipis. “lo yang masak tapi.”

“aman ajaa!”

gak lama kemudian asahi udah rapi dengan ranselnya dan siap keluar mobil, tapi sebelum itu dia tiba-tiba ngasih kotak ke atas pangkuan jeongwoo.

“dari junkyu,” katanya. “gue gak suka, jelek. mirip lo.”

jeongwoo liat kotak itu, ternyata blind box. ketika dibuka, ada boneka fuggler warna hitam dari dalemnya.

“cie inget gue…” goda jeongwoo.

“ya kalau yang jelek-jelek ingetnya lo.”

jeongwoo senyum, “makasih ya asa…”

“ya.” jawab asahi singkat sambil buru-buru keluar mobil. ninggalin jeongwoo yang lagi senyam-senyum salting.

karena matanya gak sengaja liat boneka fuggler yang tergantung di tas asahi—dan bentuknya persis kayak yang lagi dia pegang sekarang.

“mau sampai kapan sih sa…”

jeongwoo menggeleng pelan dan milih lanjut otw kantor dengan hati berbunga.

-

hai ^____^

call you mine ; jeongsahiStories to obsess over. Discover now