Pagi datang dengan cahaya lembut yang menyelinap melalui celah tirai, jatuh tepat di wajah Gita. Ia mengerjap pelan, mengerang kecil sebelum akhirnya membuka mata sepenuhnya. Ada rasa hangat di dadanya, namun juga ada sesuatu yang terasa ganjil. Gita menoleh ke samping. Kosong.
“Lana?” gumamnya lirih.
Tak ada sosok dengan rambut sedikit berantakan yang biasanya meringkuk terlalu dekat. Tak ada napas pelan yang semalam menenangkan pikirannya. Ranjang itu rapi, selimut terlipat di sisi lain, seolah tak pernah ada Lana yang tidur di sana.
Gita bangkit, duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya dengan satu tangan.
“Anak itu,” gumamnya sambil berdiri.
Ia menyapu pandangan ke seluruh kamar. Sunyi. Gita melangkah keluar kamar, langkahnya pelan, masih setengah sadar. Begitu mencapai ruang makan, ia tertegun.
Lana berdiri di dekat meja makan, mengenakan seragam SMA lengkap, rambutnya diikat setengah, tampak jauh lebih dewasa dari biasanya. Di atas meja tersaji sarapan yang lengkap.
Gita mengerjap. “Sejak kapan kamu bisa masak?”
Lana menoleh, lalu cekikikan, bahunya naik turun. “Ih, kakak. Aku nggak masak.”
“Terus itu?” Gita menunjuk meja.
“Beli,” jawab Lana ringan sambil mengangkat bahu. “Tenang aja, aman kok.”
Gita terdiam beberapa detik, lalu menggeleng-geleng kecil, senyum tipis terbit di bibirnya. Ada rasa gemas yang tak bisa ia sembunyikan. “Kamu ya, bikin kaget aja pagi-pagi udah ngilang.”
Lana mendekat, menarik tangan Gita dengan manja. “Udah, duduk. Kita sarapan bareng. Nanti aku telat.”
Gita menurut, duduk di kursi, masih menatap Lana dengan ekspresi tak percaya. “Kamu serius bangun sendiri, siap-siap sendiri, beli sarapan sendiri?”
Lana mendengus. “Aku tuh mandiri Kak. Dari dulu.”
“Katanya kemarin kangen Mama,” sahut Gita sambil tersenyum kecil.
“Kan kangen, tapi bukan berarti nggak bisa apa-apa,” balas Lana cepat. “Aku cuma capek.”
Gita mengangguk-angguk, seolah mengiyakan semuanya. “Iya iya. Mandiri.”
Mereka sarapan bersama. Suasananya ringan, hangat, diselingi canda kecil. Sesekali Lana bercerita tentang sekolah, tentang temannya yang ribut, tentang guru yang galak. Gita mendengarkan, sesekali tertawa kecil, sesekali mengangguk.
Selesai makan Lana berdiri, meraih tasnya. “Aku berangkat ya Kak.”
“Mau dianter?” tawar Gita spontan.
Lana menggeleng. “Nggak usah. Kakak kan juga ada kelas.”
Gita mengangguk. “Hati-hati.”
“Iya,” jawab Lana sambil tersenyum, lalu pergi.
.
.
.
.
.
.
.
Sore hari langkah Lana terasa lebih berat dari biasanya. Full day school benar-benar menguras energinya. Begitu sampai depan rumah, ia berhenti. Matanya langsung tertuju pada motor Gita yang terparkir rapi.
“Hah?” Lana mengernyit. “Bukannya Kak Gita hari ini full kuliah?”
Perasaan aneh menjalar di dadanya. Ia membuka pintu, masuk ke dalam rumah. Sepi.
“Kak?” panggilnya.
Tak ada jawaban.
Ia melangkah ke ruang keluarga. Kosong. Ke dapur. Kosong. Ke taman belakang. Kosong. Jantung Lana mulai berdetak lebih cepat. Ia berbalik, melangkah cepat ke kamar Gita.
YOU ARE READING
KOPAL KAPAL JEKESRI-9
FanfictionIni lanjutan kopal kapal yaa gursss, karena yg kedelapan udah full kapasitas. update tiap hari selagi ada yg request, dan untuk request lewat link saweria di bio aku yawww sengg😗🤙🏻 📍100% fiksi
