Bab 1 - Yang Pergi Lebih Dulu

3 0 0
                                        


Setelah semuanya selesai, tidak ada suara apa pun. tidak ada pintu dibanting. Tidak ada tangisan dramatis.

Hanya sunyi yang terlalu rapi, seolah dunia sepakat untuk tidak ikut campur.

Aku duduk di tepi kasur, masih pakai baju yang sama sejak sore. Lampu kamar menyala setengah terang aku bahkan tidak ingat kapan menyalakannya... Ponsel di tanganku tidak bergetar lagi. Percakapan terakhir itu berhenti di satu titik.

Tidak ada tanda baca penutup.
Tidak ada

“jaga diri baik-baik”.

Hanya selesai.

Aku menatap layar cukup lama, berharap ada sesuatu berubah. Satu pesan tambahan. Satu kesalahan kirim.

Apa pun yang bisa membuktikan bahwa ini belum benar-benar berakhir.

Tidak ada.

Waktu tetap bergerak. Jam di dinding berdetak tanpa rasa bersalah. Di luar, motor lewat. ANJING menggonggong.
Hidup berjalan seperti biasa dan itu yang paling menyakitkan.

Ponselku akhirnya bergetar.
Bukan darinya.

“Lu di mana?”

Pesan dari seorang teman masuk begitu saja, tanpa tahu apa yang baru saja runtuh.

Aku membaca pesan itu, lalu meletakkan ponsel kembali. Tidak langsung membalas. Tidak juga mematikannya.

Aku hanya menatap kosong ke lantai.
Beberapa menit kemudian, getaran itu datang lagi.

“Lu baik-baik aja kan fai?”

Aku menghela napas panjang.
Mengetik balasan dengan jari yang terasa asing.

“Aman bree.”

Satu kata. Pendek. Aman. Bohong.

Aku mengangguk sendiri, seolah ada orang di depanku. Padahal aku bahkan tidak tahu siapa diriku hari itu.

Kepalaku penuh, tapi tidak ada satu pun pikiran yang utuh.
Ada rasa sesak di dada bukan karena ingin menangis, tapi karena tidak tahu harus melakukan apa.

Aku tidak ingin menghubunginya. Aku juga tidak ingin benar-benar kehilangan.

Aku berdiri, berjalan ke jendela, dan membukanya sedikit.

Udara malam masuk pelan, membawa bau hujan yang belum turun. Lampu-lampu rumah tetangga menyala seperti biasa.

Tidak ada yang berubah di luar sana.

“Hidup aneh ya,” gumamku pelan.

Kenapa bisa tetap jalan, padahal rasanya aku berhenti?”

Aku menutup jendela lagi dengan waktu yang cukup lama kali ini sembari satu batang rokok yang ga ku isep cuma untun menemenin aku bahwa aku masih menyala dengan sisa bara api ditangan. Setelah itu aku duduk kembali di kasur.

Kali ini menatap cermin kecil di sudut kamar. Wajah itu terlihat lelah.
Mata cekung.

"bused, ini manusia apa zombie" gumam ku dalam hati

Rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang tidak mau keluar.

“Lu siapa sih sekarang?” tanyaku pada bayangan sendiri.

Tidak ada jawaban.

Aku baru sadar satu hal malam itu
yang pergi lebih dulu bukan dia. Yang pergi lebih dulu adalah versi diriku yang percaya bahwa cinta bisa menunggu aku beres.

Dan di kamar kecil itu, untuk pertama kalinya,

aku benar-benar sendirian bukan karena ditinggal, tapi karena belum siap menemani diriku sendiri.

Yang Tertinggal Bukan DiaStories to obsess over. Discover now