Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

Peramal Cantik

2 0 0
                                        


Hari penobatan Pangeran Pertama Kerajaan Nyiur telah tiba. Raja Edo mengetuk pintu tua di perpustakaan terlarang istana. Ketukan yang merangsang guratan pintu untuk bercahaya. Terukir di pintu itu nama pemilik ruangan dan usianya saat ini. 'Liora 13 abad'. Begitu pintu terbuka, seorang peramal cantik keluar dari sana.

"Salam, Baginda," sapa Liora penuh hormat.

"Bangunlah, Liora. Sebelum menuju ballroom istana, aku ingin mengenalkan seseorang padamu. Ini putraku, Pangeran Edwin. Dia calon putra mahkota yang akan kutetapkan sebagai pewaris takhta Kerajaan Nyiur ini."

"Salam, Pangeran Edwin," sapa Liora pada pangeran muda di samping sang Raja.

Alih-alih bersikap formal, Edwin malah mendekati Liora dan mengulurkan tangannya. "Salam kenal, Liora," ucapnya sambil tersenyum.

Liora tersenyum. Dibalasnya ukuran tangan  Edwin sambil meninggalkan secarik surat dari daun mapel kering. Edwin terkejut tapi tetap tenang. Disimpannya daun mapel itu dalam saku bajunya.

"Pangeran Edwin sudah tumbuh besar, Baginda. Saya merasakan kekuatan besar dalam dirinya yang akan membawa Kerajaan Nyiur dalam kejayaan."

"Aku senang sekali mendengarnya, Liora. Jika demikian, hari penobatannya sebagai putra mahkota adalah hari yang baik. Nanti pergilah ke kastil leluhur, Edwin. Berterima kasihlah kepada Tuhan atas anugerah yang Dia berikan kepadamu."

"Baik, Ayahanda."

"Namun, Baginda Raja Edo. Saya merasakan hal tidak menyenangkan akan terjadi di Negeri Nyiur ini. Bencana besar akan datang sebagai jalan menjemput kejayaan Kerajaan Nyiur."

Edwin menjadi penasaran dan bertanya, "Bencana apa itu, Liora?"

Liora hanya tersenyum. Kemudian dia melangkah mundur, masuk ke dalam ruangannya dan mulai menutup pintu tua dengan halus dan anggun. "Saya undur diri, Baginda Raja Edo. Senang dapat bertemu lagi dengan Anda, Pangeran Edwin."

Pangeran Edwin terkejut. Kali ini dia tidak bisa bersikap tenang seperti sebelumnya. Saat menyadari sesuatu, barulah dia sadar jika pintu tua itu sudah tertutup dengan sempurna.

Dengan setengah berteriak dia memanggil peramal cantik itu. "Liora, bisakah kamu kembali?"

Raja Edo tertawa. "Kamu sepertinya menyadari sesuatu, putraku?"

Dengan menggebu-gebu Edwin menjawab. "Ya, Ayahanda. Saya ingat betul saat usia saya tujuh tahun saya juga bertemu dengannya di istana. Dia meramal saya dan saudara kembar saya, Edward. Saat itu wajahnya juga secantik ini. Apakah Liora saat itu dengan Liora saat ini adalah orang yang sama, Ayahanda? Mengapa usianya seperti tidak berpengaruh pada kecantikan wajahnya? Ini tidak mungkin, Ayahanda."

Raja Edo tertawa terbahak-bahak. "Kau akan mengerti dengan sendirinya, Putraku. Karena itulah yang kurasakan saat masih seusia denganmu dulu."

"Jadi sejak Ayahanda masih muda sampai sekarang Liora tidak menua?"

Raja Edo tidak menjawab. Dia justru pergi meninggalkan perpustakaan terlarang sambil tertawa. Sementara Edwin yang masih penasaran mencoba mengetuk pintu tua itu dan memanggil Liora keluar.

"Liora, bisakah kamu keluar sebentar? Ada yang ingin kutanyakan padamu!"

"Dia tidak akan keluar kecuali kamu benar-benar membutuhkan bantuannya, putraku," ucap Raja Edo sambil lalu.

Edwin mengejar Raja Edo. "Benarkah? Lalu mengapa tadi dia keluar? Padahal Ayahanda tidak terkesan benar-benar membutuhkan bantuannya?" selidik Edwin curiga.

"Karena dia ingin menyampaikan ramalannya, Edwin. Dia hanya akan keluar kalau dia mau keluar. Kita tidak bisa memaksanya. Kita tidak bisa mengaturnya, memerintahnya, bahkan tidak akan tahu rahasianya."

"Jadi statusnya lebih tinggi dari Ayahanda?"

Raja Edo menggeleng. "Tidak, putraku. Dia tetap rakyatku. Namun kewajibannya hanya satu, menyampaikan ramalannya pada keluarga kerajaan. Karena prediksinya adalah kunci kejayaan Negeri Nyiur ini."

"Tapi, Ayahanda. Ini sangat tidak masuk akal."

"Kamu akan mengerti suatu saat nanti, putraku. Sekarang pergilah ke ballroom. Sambut tamu-tamu kita. Ayahanda akan bersiap-siap untuk upacara penobatanmu sebagai putra mahkota."

Ayah dan anak itu berpisah di persimpangan jalan. Meski masih penasaran, Edwin menahan diri hingga penobatan dirinya sebagai putra mahkota usai. Baru kemudian mencari tahu lebih lanjut tentang siapa itu Liora.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Jan 13 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Rahasia Peramal KerajaanHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora