We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Bab 1

49 11 2
                                        

Titik hujan menampar wajah Aruna dengan tetes-tetes yang membeku saat ia melangkah di antara nisan-nisan tua. Kuburan selalu sepi, kecuali di hari-hari tertentu, dan siang itu adalah salah satunya. Payung hitamnya bolong di banyak tempat, beberapa jeruji besinya menyembul seperti tulang rusuk yang patah, namun Aruna tidak peduli. Pikirannya sibuk memikirkan tagihan sewa kantor yang melambai-lambai di ujung bulan.

“Maafin Aruna, Ayah, Bunda,” gumamnya lirih pada sepasang nisan yang tertulis Setya. “Aruna belum bisa kasih bunga mawar merah lagi. Harga bunga lagi melambung tinggi. Uang Aruna sedang tipis.”

Gadis yang baru merayakan usianya yang genap 30 tahun itu menabur bunga tujuh rupa seadanya, lalu meletakkan dua tangkai mawar putih yang layu—hasil diskon di kedai bunga depan—di atas makam orang tuanya. Air menetes dari mata Aruna. Bukan airmata karena kesedihan, tapi karena tetesan hujan yang mengaburkan pandangannya. Ia menyesap kopi hitam dingin dari termos reyotnya. Pahit, seperti kenyataan bironya, Lensa Setya, yang hanya menyisakan dirinya dan satu-satunya asisten yang masih bertahan, Dimas.

Sebuah bayangan hitam tiba-tiba muncul di samping Aruna, lengkap dengan payung mahal yang seolah menertawakan payung bolongnya. Aroma parfum high-end yang kuat menusuk hidung Aruna, mengalahkan aroma tanah basah dan kembang kuburan.

“Maaf, Nona. Apa Anda sudah selesai?” Suara itu lembut, terlalu lembut untuk suasana kuburan yang kelam.

Aruna mendongak. Di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya, rapi dalam balutan jas mahal, rambut klimis sempurna, dan kacamata tanpa bingkai yang bertengger di hidungnya. Senyumnya ramah, tapi mata di balik kacamatanya tampak misterius. Hendra Pratama. Namanya terlintas begitu saja di benak Aruna. Ia adalah pria yang fotonya pernah Aruna lihat di koran bisnis. Direktur Operasional Dirgantara Grup.

“Memangnya kenapa?” jawab Aruna, jengkel. “Kuburan ini, kan, bukan milik pribadi Bapak.”

Hendra terkekeh pelan. “Tentu saja bukan. Hanya saja, saya sedang menunggu giliran untuk berziarah.” Ia menunjuk nisan di sebelah makam orang tua Aruna dengan payungnya. Sebuah nisan yang lebih baru, dengan taburan bunga segar yang kontras dengan mawar putih Aruna yang layu. “Mendiang adik saya. Dia dimakamkan di sini, di sebelah makan mendiang Bapak dan Ibu Anda.”

Aruna menatap nisan itu. Nama Pratama yang terukir di sana, seketika saja memicu memori samar. Sebuah kenangan tentang desas-desus lama di kepolisian, tentang sebuah keluarga yang hancur karena skandal bisnis dengan keluarga Dirgantara. Namun, sebelum Aruna sempat mencerna lebih jauh, Hendra kembali bicara.

“Saya mengamati Anda, Nona. Cukup lama.” Senyum Hendra melebar, memperlihatkan deretan gigi putih yang terlalu sempurna. “Saya yakin Anda adalah detektif swasta. Biro Lensa Setya, bukan?”

Aruna mengerutkan kening. Alisnya bertaut. Instingnya langsung berteriak waspada. “Kalau iya kenapa?”

“Saya memiliki sebuah kasus untuk Anda,” kata Hendra, lalu menyerahkan kartu nama dari balik jasnya. “Seorang wanita muda bernama Clarissa Wijaya akan menghubungi Anda besok. Dia punya masalah dengan tunangannya, Adrian Dirgantara.”

Mata Aruna membulat. Adrian Dirgantara? Pewaris Dirgantara Grup yang terkenal arogan dan playboy? Jika benar, itu bisa menjadi kasus besar yang bisa menyelamatkan bironya! Tapi kenapa Hendra, orang kepercayaan keluarga Dirgantara, malah merekomendasikan dirinya untuk pekerjaan tersebut?

“Kenapa saya?” tanya Aruna curiga. “Bapak, kan, orang dekat keluarga Dirgantara. Kenapa tidak minta detektif yang lebih… terkenal?”

Hendra menghela napas, matanya menatap nisan adiknya lagi. “Saya tidak terlalu percaya pada ‘keterkenalan’, Nona Aruna. Saya lebih percaya pada seseorang yang tahu rasanya berjuang dari bawah. Seseorang yang tahu bagaimana rasanya berdiri di samping makam orang yang mereka cintai, sementara orang lain hidup dalam kemewahan.”

Wajah Aruna mengeras. Kata-kata itu terdengar seperti simpati, tapi ada nada ironi yang menusuk di sana. Seolah Hendra sedang membaca buku harian emosionalnya. Aruna tidak menyukainya.

“Tugaskan Nona Clarissa untuk menghubungi saya saja,” kata Aruna, memaksakan senyum tipis yang terasa dingin. “Saya tidak menerima klien dari rekomendasi yang mencurigakan.”

Aruna berbalik pergi, membiarkan payung bututnya terus menangkis hujan. Di belakangnya, Hendra masih berdiri, mengamati nisan adiknya, namun sebuah senyum tipis dan dingin tersungging di bibirnya. Aruna tidak menyadari hal itu, tapi tali perangkap yang akan mengubah hidupnya telah direntangkan oleh Hendra, di tengah kuburan yang sepi, di bawah guyuran hujan. Baru saja Aruna mengambil langkah pertamanya ke dalamnya.

Di pelataran parkir Aruna menerima pesan dari Dimas yang menginformasikan pemilik ruko yang menagih uang sewa. Ia meminta Dimas tenang dan fokus pada tugas yang tengah dikerjakan sebagai balasan. Aruna yang berniat ingin langsung kembali ke kantor detektifnya, jadi berubah pikiran. Ia berdiri di bawah atap bangunan semi permanen yang ada di tempat parkir. Biasanya ada petugas jaga, tapi hari itu tidak ada siapa-siapa. Mungkin karena hujan.

Situasi seperti itu membuat Aruna jengkel. Bukan soal hujan. Bukan juga soal payung bolongnya yang tidak bisa menghalau air hingga pakaiannya basah. Ia sedang menyesali keputusan impulsifnya. Keputusan yang didorong luka lama.

“Harusnya tadi aku ambil saja kartu namanya,” gumamnya, tapi kemudian dia meralat lagi ucapannya dengan gelengan kepala. “Itu sudah benar. Aku nggak boleh lengah, apalagi sampai terima pekerjaan dari orang kaya macam Hendra Pratama,” katanya lagi.

Aruna memikirkan pekerjaan yang kemarin diterimanya. Apakah mencari kucing yang hilang bisa disebut pekerjaan detektif, Aruna tidak peduli. Yang terpenting, pemilik kucing itu bersedia membayar jasanya. Memang belum bisa menutupi biaya sewa kantornya, paling tidak dia bisa tetap makan untuk menyambung hidup.

Hujan mulai reda ketika Aruna memutuskan untuk kembali. Sialnya, ia lupa menjemur jas hujan yang kemarin dipakai. Alhasil, jas hujan itu terasa licin, lengket, dan berbau tidak sedap. Daripada membiarkan tubuhnya terbungkus benda itu, Aruna memilih untuk menerobos hujan. Perjalanan ke kantornya tidak sampai satu jam. Ia juga bisa berteduh jika hujan kembali deras. Namun, pemikiran sederhana itu pun dipatahkan semesta. Sebuah sedan mewah melesat, menggilas kubangan air lumpur yang menyiram sebagian tubuh Aruna yang tidak sanggup dihalau payung bolongnya.

“Dasar orang kaya nggak punya otak!” makinya pada kendaraan yang terus melaju.

Nona Detektif, Ayo Beraksi!Stories to obsess over. Discover now