1.

6.2K 481 19
                                        

Happy Reading
[Don't forget to Vote and Comment]

🎀🌴

Lorong kelas dua belas pagi itu riuh seperti biasa. Suara sepatu yang diseret malas, tawa yang pecah tanpa sebab, dan gumaman siswa yang berkumpul di satu titik paling strategis di sekolah, papan mading peringkat akademik. Tempat suci sekaligus medan perang kecil bagi mereka yang peduli, dan bahan hiburan bagi yang sekadar ingin tahu.

Carmen berdiri paling depan, tangan terlipat di dada, tubuhnya condong sedikit ke depan. Rambutnya diikat asal, wajahnya santai, tapi sorot matanya tajam, penuh keyakinan yang nyaris arogan.

Dan seperti yang ia duga, namanya berada di posisi teratas.

Nomor satu Carmen.
Nomor dua Yuha.

Selisih nilai di antara mereka tipis. Selalu begitu. Tidak pernah jauh, tidak pernah benar-benar aman. Persaingan yang tidak pernah diumumkan, tetapi selalu terasa.

Carmen tidak langsung bereaksi. Ia hanya menarik napas pelan, lalu kembali menyandarkan tubuhnya ke dinding.

“HAHAHA masih lo lagi, men,” seru Ian sambil menepuk bahu Carmen keras-keras. “Ini tuh bukan papan peringkat, tapi papan nama lo sama Yuha.”

Eina mengangguk setuju. “Sumpah, yang lain cuma figuran.”

Carmen tersenyum bangga. “Namanya juga belajar.”

Ian menoleh tajam. “Lo ngomong gitu kayak orang lain nggak belajar aja.”

“Orang pinter mah bebas,” sahut Carmen ringan.

Ian hendak membalas, tapi Eina menyenggol lengannya. “Eh, itu Yuha.”

“Lo tuh nyebelin tau nggak.”

Carmen menoleh. Yuha berdiri beberapa langkah dari papan pengumuman, sedikit menjauh dari keramaian. Buku-bukunya dipeluk rapi di dada, seragamnya selalu tampak rapi tanpa kesan berusaha. Wajahnya tenang, tetapi matanya bergerak pelan, membaca ulang daftar itu seolah ingin memastikan tidak ada yang terlewat.

“Halo, Yuha,” kata Carmen santai. “Salam buat ranking dua.”

Yuha mendengus. “Lo jangan geer dulu. Itu cuma beda tipis.”

“Tipis tapi menang,” jawab Carmen cepat. “Fakta tetep fakta.”

Yuha melangkah mendekat, jaraknya sekarang terlalu dekat untuk sekadar basa-basi. “Lo sengaja, ya? Belajar sampe begadang cuma buat ngalahin gue?”

Carmen menatapnya dengan senyum yang terlihat menyebalkan menurut Yuha. “Gue belajar buat diri gue sendiri. Kalo lo kelempar, ya bonus.”

“Nyebelin,” kata Yuha, tapi matanya justru menyala. “Suatu hari gue bakal ngambil posisi itu.”

Carmen tertawa kecil. “Mana buktinya? Jangan ngomong doang.”

Ian langsung maju selangkah. “Eh, ini vibes-nya kok kayak mau berantem tapi romantis sih?”

Yuha menoleh tajam. “Diem lo.”

Eina cekikikan. “Jadi penonton bayaran aja deh gue.”

Carmen menatap Yuha lebih lama dari yang seharusnya. Ada sesuatu dari cara Yuha berdiri, tidak mau kalah, dan tidak mundur. Dadanya terasa hangat tanpa alasan yang jelas.

“Gini aja,” kata Carmen tiba-tiba.

Yuha menyipitkan mata. “Apaan?”

“Gimana kalo kita taruhan?”

[END] Saingan Tapi Mesra || MenuzStories to obsess over. Discover now