Bagian 1 - Bangku Dekat Jendela [frelana]

550 44 7
                                        

Freyan selalu duduk di tempat yang sama setiap pagi.

Bangku dekat jendela, barisan kedua.
Tidak pernah berubah, bahkan ketika wali kelas sempat menyuruh beberapa murid bertukar tempat. Freyan hanya menggeser tasnya sebentar, lalu kembali ke bangku itu lagi keesokan harinya. Tidak ada yang benar-benar mempersoalkannya. Dia bukan murid yang suka membuat keribut. Tidak juga mencolok. Dia hanya... ada.

Dan bangku itu seperti bagian dari dirinya.

Dari sana, Freyan bisa melihat halaman sekolah dengan jelas. Aspal abu-abu yang sedikit retak. Pohon ketapang yang daunnya sering rontok saat angin datang. Gerbang besi yang setiap pagi dibuka setengah, lalu ditutup penuh saat bel masuk berbunyi.

Selama setahun terakhir, tanpa ia sadari, pemandangan itu menjadi kebiasaannya.

Karena dari sanalah biasanya Lana muncul.

Lana yang turun dari mobil dengan langkah malas. Kadang sambil menguap. Kadang sambil menatap layar ponsel. Earphone hampir selalu terpasang. Rambutnya kadang diikat asal, kadang dibiarkan tergerai, seolah ia tidak terlalu peduli dengan kesan pertama.

Wajahnya datar.

Tapi cantik.

Cantik yang dulu selalu membuat Freyan lupa bagaimana caranya menghela napas dengan benar.

Dulu, setiap kali melihat Lana turun dari mobil, ada reaksi kecil yang tidak bisa ia kendalikan. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Dadanya terasa hangat tanpa alasan. Bahkan hari-hari yang buruk terasa lebih ringan hanya karena melihat Lana ada di sana.

Kadang Freyan berpikir, mungkin begini rasanya mencintai seseorang secara diam-diam tapi terlalu dalam.

Sekarang?

Freyan menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun.

Matanya tetap mengarah ke halaman sekolah, tapi pikirannya melayang ke tempat yang tidak ia pahami. Seperti ada lapisan tipis yang memisahkannya dari dunia. Suara teman-teman sekelas terdengar samar. Tawa, obrolan, kursi yang digeser-semuanya lewat begitu saja.
Tangannya menopang dagu. Tatapannya kosong.

Satu hal yang terus ia ulang dalam kepala:
Hari ini harus lewat seperti hari-hari sebelumnya.

Biasa saja.
Tenang saja.
Tidak perlu berharap apa-apa.

Bel masuk berbunyi.
Beberapa detik setelah itu, Lana masuk kelas.

Langkahnya malas, sama seperti biasanya. Bahunya sedikit turun. Rambutnya terlihat agak berantakan, seolah ia tidak sempat merapikannya dengan benar. Wajahnya tampak lelah-bukan lelah fisik, tapi lelah yang sulit dijelaskan.

Begitu masuk, matanya refleks mencari satu sosok.

Freyan.

Tatapan itu refleks. Kebiasaan lama. Sesuatu yang bahkan tidak perlu ia pikirkan. Seolah ada magnet yang selalu menarik pandangannya ke arah bangku dekat jendela.

Dan di sanalah Freyan.
Masih di tempat yang sama.
Lana hampir tersenyum.
Hampir.

Tatapan mereka nyaris bertemu. Hanya terpaut beberapa derajat. Satu detik. Mungkin bahkan kurang.

Tapi Freyan tidak menoleh.

Tidak ada senyum kecil yang dulu selalu muncul, meski hanya sekilas. Tidak ada anggukan ringan. Tidak ada tatapan yang seolah berkata, "pagi."

Tidak ada apa-apa.

Freyan tetap diam, menatap ke luar jendela, seolah halaman sekolah jauh lebih menarik daripada seseorang yang dulu selalu menjadi pusat dunianya.

freya x gen 12Stories to obsess over. Discover now