...

175 3 1
                                        



Tiga tahun. Seribu sembilan puluh lima hari sejak langkah kakinya menghilang di gerbang kota ini, tak pernah kembali.

Raga pergi, tapi kenangan tertinggal di setiap sudut jalan yang dulu mereka lalui berdua. Dia perempuan yang dulu tertawa lepas di sampingku pergi karena luka yang aku pun tak sanggup menambalnya. Perpisahan itu bukan sekadar berakhirnya hubungan, itu adalah retakan yang memecahkan seluruh dunianya, dan aku, orang yang paling mencintainya, justru menjadi salah satu alasannya pergi.

Orang bilang waktu menyembuhkan, tapi bagiku tiga tahun tak cukup meluruhkan satu namamu dari kepala. Aku tak pernah berani melangkah ke tempat baru, tak berani membiarkan siapa pun menggantikanmu. Setiap hari aku menunggu bukan hanya menunggu kamu pulang, tapi menunggu hatiku sendiri akhirnya bisa berhenti berharap. Namun semakin lama berlalu, semakin aku sadar aku belum pergi. Aku masih berdiri di tempat terakhir kali kita berpisah, menantang angin yang tak pernah membawa kabarmu.

Dan entah mengapa, di sudut paling dalam hati, aku masih percaya suatu hari kau akan kembali. Bukan sekadar pulang ke kota ini, tapi pulang ke aku.

MIRAStories to obsess over. Discover now