"*Selamat membaca semoga terhibur*"
Di tengah hiruk-pikuk kota Surakarta, di lantai tujuh gedung perkantoran swasta yang megah, Lina duduk di mejanya yang dipenuhi dengan tumpukan dokumen. Jam menunjukkan pukul 17.30, tapi dia masih harus menyelesaikan laporan untuk rapat esok hari. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard, jari-jarinya terbiasa dengan ritme ketukan yang terus-menerus, tapi hatinya terasa kosong—seperti kertas kosong yang tidak pernah terisi dengan makna. Hubungannya dengan Ryan, pacarnya selama dua tahun, semakin membebani. Setiap kali Lina mau pergi ke rumah ibunya untuk buka puasa atau shalat Id, Ryan selalu mengeluh. “Kenapa harus repot? Kita bisa bersenang-senang dengan teman-teman aja,” katanya, sering menyalahkan Lina yang masih mau menjaga batasan agama, bahkan menyuruhnya melewatkan acara keluarga untuk menghadiri pesta yang penuh dengan suara keras dan minuman keras.
Suatu sore, setelah bekerja lembur selama tiga jam berturut-turut, Lina berjalan ke taman dekat kantor untuk menghirup udara segar. Udara kota yang sedikit panas bercampur dengan aroma bunga kamboja yang tumbuh di sekeliling taman membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Di sana, dia menyaksikan seorang ibu yang duduk di bangku, mengenakan jilbab biru muda yang rapi, mengajarkan anak laki-lakinya yang berusia sekitar lima tahun cara berdiri shalat. Anak itu dengan tekun menirukan gerakan ibunya: berdiri tegak, tangan menyatu di dada, kemudian membungkuk dengan posisi yang masih goyah. Meskipun tangannya masih gemetar dan badannya sedikit bergoyang, dia tidak berhenti. “Yang benar, sayang. Jangan lupa membaca doa dengan hati yang tulus,” ucap ibu itu dengan lembut, menyentuh kepala anaknya dengan penuh kasih. Gambar itu menusuk hati Lina; dia tiba-tiba ingat masa kecilnya, ketika ibunya juga mengajarkannya shalat sebelum sekolah. Pada waktu itu, hatinya penuh dengan ketakwaan, dia selalu senang mengikuti gerakan ibunya dan membaca doa dengan suara yang kecil tapi jelas. Tapi seiring bertambahnya usia dan terjebak dalam kehidupan modern yang sibuk, dia lupa—lupa akan rasa takut kepada Allah, lupa akan makna ibadah, dan lupa akan tujuan hidupnya.
Malam itu, Lina tidak tidur nyenyak. Dia berbaring di ranjang, memikirkan gambar ibu dan anak di taman. Akhirnya, dia bangkit dan mengeluarkan Al-Qur’an tua yang tersimpan di lemari, yang diberikan ibunya saat dia memasuki kuliah. Buku itu memiliki penutup kulit yang sudah aus, dan halaman-halamannya sudah agak kusut akibat sering dibaca dulu. Ada catatan kecil ibunya di sisi halaman, tulisan tangan yang rapi menjelaskan arti ayat-ayat yang sulit dipahami. Lina membaca ayat-ayat yang dia ingat, ayat tentang kesetiaan dan kembali kepada Allah, dan perasaan yang lama hilang kembali muncul—rasa takut kepada Allah, rasa rindu akan kehadiran-Nya, dan keinginan untuk mendekati-Nya. Dia menangis diam-diam, menyadari bahwa dia telah jauh dari jalan yang benar.
Beberapa hari kemudian, dengan keberanian yang tiba-tiba, Lina mengunjungi Masjid Agung Surakarta—pertama kalinya dalam lima tahun. Saat memasuki masjid, dia merasa gugup. Lantai marmer yang bersih memantulkan cahaya dari lampu-lampu gantung, suara azan yang merdu dan penuh kesedihan menyebar di seluruh ruangan, dan orang-orang yang sedang beribadah dengan hati yang tulus membuat hatinya tenang secara tiba-tiba. Dia duduk di sudut, mengamati orang-orang yang sedang bersiap shalat Ashar. Mereka berbaris dengan rapi, mengenakan pakaian yang sopan, dan wajah mereka dipenuhi dengan ketenangan. Di sana, dia bertemu Ustadz Amir, seorang pemuda yang tampan dan ramah, yang sedang memberikan penjelasan tentang hijrah kepada beberapa pemuda yang duduk di sekitarnya. “Hijrah bukan hanya pindah dari Mekah ke Madinah, seperti yang banyak orang tahu,” ucap Ustadz Amir dengan lembut, matanya yang cerah memandang setiap orang yang mendengar. “Tetapi hijrah adalah perubahan hati dari yang jahat ke yang baik, dari yang lalai ke yang taat. Ini adalah perjalanan yang tidak mudah, penuh dengan tantangan, tapi juga penuh dengan berkah dari Allah.”
Kata-kata itu terasa seperti kilat di hati Lina. Dia merasa seolah-olah Ustadz Amir berbicara langsung kepadanya. Setelah shalat selesai, dia mendekati Ustadz Amir dan bercerita tentang perasaannya yang kosong, tentang hubungan yang tidak sehat dengan Ryan, dan tentang keinginannya untuk mengubah hidupnya. Ustadz Amir mendengarkan dengan penuh perhatian, tanpa mengganggu, dan kemudian berkata, “Setiap orang memiliki waktu untuk kembali kepada Allah, Lina. Tidak ada yang terlambat selama kita mau mengambil langkah pertama. Allah selalu menunggu kedatangan kita dengan lapang dada.” Ketika dia ceritakan kepada Ryan tentang pengalaman itu malam itu, Ryan marah. Dia memegang pundak Lina dengan kaku dan berkata, “Kau mau jadi orang yang kaku aja ya? Tidak mau bersenang-senang lagi? Apakah agama itu lebih penting dariku?” Lina merasa bingung, hatinya terbagi antara cinta yang dia miliki untuk Ryan dan keinginannya untuk mendekati Allah. Tapi benih kesadaran sudah tumbuh di hatinya; dia tahu bahwa dia tidak bisa terus hidup seperti ini.
Beberapa hari kemudian, Lina mengikuti kajian pertama di masjid. Kajian itu bertema tentang “Hidup yang Sesuai dengan Nilai-Nilai Islam” dan diikuti oleh banyak pemuda dan pemudi. Di sana, dia bertemu Siti, seorang wanita yang berusia sama dengannya, yang juga sedang menjalani perubahan hidup. Siti ceritakan bahwa dia pernah terjebak dalam kebiasaan merokok dan mabuk selama bertahun-tahun, dia merasa hidupnya tidak ada makna dan selalu tertekan. Tapi setelah mendekati agama dan bertemu Ustadz Amir, dia bisa meninggalkan semua kebiasaan buruk itu dan hidup dengan lebih tenang. Cerita Siti memberinya semangat; dia merasa tidak sendirian dalam perjalanan ini. Mereka bertukar nomor telepon dan sepakat untuk saling mendukung.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIJRAH CINTA
RomanceKisah cinta yang lahir dari perjalanan hijrah dan pertumbuhan iman. Lina dan Rizki sama-sama melewati masa lalu yang tidak menyenangkan dan memilih berubah menjadi lebih baik melalui jalan agama. Pertemuan di lingkungan masjid membawa mereka saling...
