Tidak semua pertemuan dimulai dengan rencana. Sebagian hadir begitu saja, di malam yang terlihat biasa, lalu diam-diam mengubah arah cerita.
Inilah awal sebuah kisah yang tidak pernah Zeya bayangkan.
Danau Biru menjadi salah satu tempat favorit Zeya. Tempat yang tepat untuk menyaksikan ribuan bintang bertabur di cakrawala.
Sendirian, hanya ditemani suara air yang pelan memecah ketenangan.
Ia duduk di tepi danau, mendongak menatap bulan, lalu menghembuskan napas panjang-menghempas seluruh beban hari ini sambil tersenyum kecil.
Hingga langkah kaki memecah keheningan.
Sosok laki-laki bertubuh tinggi mendekat dan duduk tidak jauh darinya. Raga yang terasa asing, padahal Zeya sering berkunjung ke tempat ini.
Ia menatapnya sejenak, dahi berkerut tipis, lalu bergumam dalam hati,
"Ini pasti kiriman dari semesta buat aku malam ini."
Seolah dunia tak mengizinkannya duduk sendiri malam ini.
Binar mata Zeya menandakan satu hal: ia sudah memutuskan-laki-laki itu akan menjadi teman bicaranya.
Tanpa pikir panjang, Zeya berdiri, menghampiri sosok itu, lalu menyapa dengan ceria,
"Hai... akuu Zeya, bisa dipanggil Zee. Salam kenal!"
Berbanding terbalik dengan antusiasmenya, laki-laki itu menjawab singkat tanpa menoleh,
"Samudra."
Zeya terkekeh kecil. Tidak tersinggung sedikit pun.
"Mau nggak jadi teman bicaraku? Tenang aja, aku baik kok nggak gigit."
Samudra hanya mengangguk malas. Mungkin di pikirannya, Zeya akan kecewa lalu pergi. Namun kenyataannya justru sebaliknya.
Perempuan itu terlihat sangat girang. Ia langsung duduk di samping Samudra-tanpa izin dan mulai mengeluarkan ribuan kata yang seakan tak ada habisnya. Mau tak mau, Samudra harus menanggapi, meski hanya seperlunya.
"Kamu bukan orang sini ya? Aku baru liat soalnya?" tanyanya hati-hati.
"Pindahan."
Zeya mengangguk-angguk. "Darimana? Kenapa pindah?"
Samudra tak menoleh sedikitpun. Pandangan nya tetap pada danau.
"Bandung, ada urusan."
"Wahh Bandung ya?! Ada Dilan dong" ucapnya santai.
Samudra hanya terkekeh kecil.
Zeya menatap danau lebih lama dari biasanya.
"Sam," katanya pelan, "kenapa ya... orang bisa seberubah itu?"
"hmm?" Samudra menoleh.
"Kayak Dilan. Awalnya Milea terus sekarang Ancika. Dia sayang tapi gamau di kekang, padahal kan buat kebaikan dia sendiri."
Samudra diam sebentar.
"Mungkin dia ga siap disayang dengan cara itu," katanya.
"Sama aja ngeselin. Udah ih mending cerita lucu lucu."
"hmm."
Dan begitu seterusnya.
Zeya memang mudah akrab dengan siapa pun. Tak butuh waktu lama, bahkan lima detik pun cukup jika frekuensinya sejalan.
•••
Di sisi lain, Samudra memilih diam, mendengarkan seluruh ocehannya. Sesekali, ia menatap wajah ceria perempuan di sampingnya dan tersenyum tipis... terlalu tipis untuk benar-benar disadari.
YOU ARE READING
Aku Tak Menyimpanmu Lagi
RomanceZeya selalu percaya bahwa beberapa pertemuan tidak perlu alasan. Danau Biru, malam yang sunyi, dan satu sosok asing bernama Samudra menjadi awal dari kisah yang tak pernah ia rencanakan. Zeya perempuan ceria dengan ribuan kata, bertemu Samudra yang...
