Jiang Changming

5 1 0
                                        

‎Malam selalu menyambut Jiang Changming dengan tangan terbuka. Bukan seperti pelukan,lebih seperti pintu yang tidak pernah ditutup.

‎Lampu club di distrik Xiacheng menyala bahkan sebelum matahari benar-benar tenggelam, musik mulai berdentum saat langit masih menyisakan warna abu-abu. Dunia malam tidak menunggu siapa pun siap; ia hanya menuntut kehadiran.

‎Changming masuk lewat pintu belakang, tas kecil disampirkan di bahu. Rambutnya masih diikat seadanya, wajahnya polos tanpa riasan. Ia menyapa penjaga dengan lambaian tangan.

‎“Ah Liang, kau kelihatan makin gemuk,” katanya sambil terkekeh. “Kerja malam bikin makmur ya?”

‎“Mulutmu itu,” balas pria itu sambil tertawa. “Cepat masuk. Manajer sudah cari-cari.”

‎Changming mengangguk santai. Di ruang ganti, beberapa gadis sudah berdandan. Ada yang diam, ada yang merokok, ada yang menatap cermin seperti sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri.

‎Changming duduk di kursinya, membuka tas, mengeluarkan lipstik merah tua.

‎“Pagi, Changming,” sapa salah satu gadis.

‎“Ini sudah malam,” jawabnya. “Tapi iya, selamat datang kembali ke neraka berlampu.”

‎Beberapa tertawa kecil. Beberapa hanya melirik sekilas. Changming tidak pernah menjadi bagian dari kelompok mana pun. Ia terlalu cerah untuk para gadis yang hidup dengan kewaspadaan, terlalu santai untuk mereka yang masih menyimpan mimpi keluar dari sini.

‎Ia tidak menutup luka, ia hanya tidak membiarkannya mendefinisikan dirinya.
‎Ia berdandan tanpa tergesa. Gerakannya tenang, percaya diri. Saat lipstik menyentuh bibirnya, senyum muncul begitu saja, bukan senyum palsu, bukan senyum untuk klien. Itu hanya … dirinya.

‎Di luar, musik menguat. Changming melangkah ke lantai club seolah melangkah ke panggung miliknya sendiri. Ia menyapa bartender, melirik DJ, lalu duduk di sofa dengan kaki disilangkan santai. Beberapa pria menoleh. Beberapa langsung mendekat.

‎“Kau ceria sekali malam ini,” ujar seorang pelanggan sambil menuangkan minuman.

‎“Kalau aku muram, kau tidak akan membayar,” jawab Changming jujur.

‎Pria itu tertawa.

‎Changming ikut tertawa.

‎Ia tidak pernah menjual kepura-puraan. Ia menjual kehadiran berupa tawa, percakapan, keberanian untuk jujur di tempat yang penuh dusta.

‎“Kenapa kau masih di sini?” tanya seorang klien lain suatu malam, setengah mabuk, setengah penasaran. “Dengan wajah dan caramu bicara, kau bisa pergi.”

‎Changming memiringkan kepala, menatap lampu di langit-langit.

‎“Karena aku memilihnya,” katanya ringan. “Dan karena keluar dari dunia ini tidak sesederhana melangkah pergi.”

‎Ia meneguk minumannya, lalu tersenyum lagi. “Aku tidak terjebak,” lanjutnya. “Aku hanya terlalu jauh berjalan.”

‎Itulah Changming, ia tidak menyembunyikan kenyataan, tapi juga tidak mengeluhkannya.

‎Saat seorang klien kasar mencoba menarik tangannya, Changming menepis dengan tenang, matanya tetap dingin.
‎“Sentuhanku tidak gratis,” katanya datar. “Dan keberanianmu tidak sebesar dompetmu.”

‎Manajer datang, situasi reda. Changming kembali tertawa, kembali bercanda, seolah tidak ada yang terjadi.  Ia tidak sedih. Ia hanya sadar dan kesadaran itu membuatnya semakin berani.

‎Malam itu, ponselnya bergetar.Satu pesan masuk.

‎Ye Zixuan: "Besok malam. Tempat yang sama."

‎Changming menatap layar beberapa detik, lalu tersenyum, bukan senyum nakal, melainkan senyum seseorang yang tahu ia sedang melangkah lebih jauh lagi ke sesuatu yang rumit.

‎“Masalah datang,” gumamnya pelan."Dan aku selalu penasaran pada masalah.”

‎Ia memasukkan ponsel ke tas, bangkit, lalu kembali ke tengah cahaya dan musik, ke dunia yang tidak pernah ia sangkal sebagai rumah sementaranya.

‎Terlalu ceria untuk seorang pelacur.
‎Terlalu jujur untuk dunia malam.
‎Dan terlalu jauh melangkah untuk berpura-pura masih bisa kembali.

Hand in HandHistórias para pegar e não largar. Descubra agora