Aku gak tau apakah aku bisa melaluinya. Sementara ini aku hanya duduk terdiam menatapi beberapa lowongan kerja di aplikasi pencari kerja. Semua lowongan ini bukan bidangku. Apakah mereka akan menerimaku? Apakah mereka akan mempertimbangkanku untuk bergabung dengan mereka? Apakah aku layak? Aku bahkan belum update CV ku. Itu poin yang paling utama.
Aku cuma bisa mendesah, overthinking, takut gagal, takut kecewa, takut mencari cari hingga akhirnya aku kembali menjadi pengangguran.
Aku sedikit menyesal karena berhenti di tempat lama. Setidaknya aku bertahan sampai setahun meskipun bosnya bipolar, tapi aku punya pengalaman yang bisa kupakai untuk di tempat lain. Pantas saja mereka mau menerima aku. Di sana ternyata banyak yang keluar masuk. Sisi bagusnya adalah aku berteman baik dengan managerku. Yang sudah duluan pergi.
"Aku bisa, ya." Kataku pada diri sendiri.
Aku cuma mandangin laptop bermenit-menit tanpa ada hasil, aku harus punya hasil, kataku memotivasi diri sendiri.
Aku menarik napas lalu mulai dari update CV lalu mengklik mana saja pekerjaan yang bergaji besar di atas lima juga. Kadang yang gajinya empat juta aku juga apply. Aku butuh uang. Semua orang butuh uang. Siapa sih yang gak butuh uang? Seenggaknya aku masih bisa menangis karena kerjaan daripada nangis karena gak punya kerjaan.
Setelah selesai apply ke beberapa perusahaan, aku melihat profile ku. Aku gak sadar kalau aku sudah apply lebih dari lima puluh perusahaan. Aku malu tapi tetap gak nyerah. Setidaknya aku saja orang yang saat ini belum nyerah.
Aku lihat suamiku. Dia masih sibuk menggambar, entah kapan dia akan punya semangat seperti aku. Mencari peluang dengan bakatnya. Aku gak punya bakat, tapi aku suka cari peluang untuk menghasilkan uang. Aku juga ingin mengumpulkan uang untuk promil. Sudah lima tahun kami menikah dan belum ada hasil. Tapi di satu sisi aku bersyukur, bagaimana kalau hanya aku saja yang mengurus bayiku? Bagaimana kalau hanya aku yang berjuang demi bayiku? Oleh karena itu, aku gak pernah berharap banyak. Masih ada hal yang harus kami perbaiki dulu; komitmen dan ego.
