Prolog

3 1 0
                                        

The Language Between Us

Tidak semua perasaan ingin didengar.
Sebagian hanya ingin dipahami.

Di dunia yang terlalu berisik ini,
banyak orang berbicara tanpa sadar
bahwa kata-kata mereka bisa menusuk,
meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat.

Aluna tumbuh dengan keyakinan
bahwa dunia selalu berjalan dengan suara—
tawa yang ramai, percakapan yang berlapis-lapis,
dan pengakuan yang harus diucapkan
agar perasaan dianggap nyata.
Ia tidak pernah benar-benar memikirkan tentang diam,

hingga suatu hari,
diam justru mengajarkannya tentang banyak hal.

Tentang perhatian yang tidak meminta balasan.
Tentang kehadiran yang tidak menuntut penjelasan.
Dan tentang perasaan
yang tinggal terlalu lama di hati,
tanpa pernah tahu bagaimana cara keluar.

Di kota yang asing,
di antara hari-hari kuliah dan malam-malam yang sunyi,
Aluna belajar bertahan dengan caranya sendiri.
Ia membagi waktunya antara mimpi dan kenyataan,
antara tanggung jawab dan rasa lelah yang jarang ia ceritakan pada siapa pun.
Bukan karena ia selalu kuat,
melainkan karena ia terbiasa sendiri.

Hingga suatu ketika,
takdir mempertemukannya dengan seseorang
yang tidak banyak bicara,
namun selalu ada.
Seseorang yang memperhatikan hal-hal kecil,
yang memahami tanpa bertanya,
yang hadir tanpa pernah memaksa.

Ia tidak tahu kapan perasaan itu mulai tumbuh.
Mungkin sejak tatapan pertama yang terasa berbeda,
atau sejak keheningan
tidak lagi terasa canggung.
Yang jelas, untuk pertama kalinya,
Aluna merasa dipahami—tanpa harus menjelaskan apa pun.

Dan di sanalah semuanya bermula.
Sebuah kisah tentang dua hati
yang saling belajar memahami
bahwa cinta
tidak selalu membutuhkan suara.

Karena ada bahasa lain,
yang hanya bisa dirasakan
oleh mereka
yang berani tinggal
di dalam sunyi yang tenang.

The Language Between UsWhere stories live. Discover now