BAB 1

3.9K 264 39
                                        

Kenapa Omega? Kenapa bukan Beta?

Dalam  jagad Omegaverse, Alpha menduduki hierarki paling tinggi, kemudian ada Beta di urutan selanjutnya, dan paling bawah diisi oleh Omega, tempatnya kelak. Dengan sadar, Nala menghendaki menempati posisi terbawah  karena Omega begitu lemah dan submisif sepenuhnya. Sedang Beta biasanya netral. Tidak submisif-submisif amat dan Nala tidak ingin setengah-setengah. Lagi pula, tidak ada yang menarik dengan Beta, mereka biasanya difungsikan hanya sebagai karakter pendukung saja. Dalam jagad Omegaverse, Alpha biasanya menduduki posisi-posisi tinggi, posisi yang memerintah, yang memegang kendali. Alpha terkuat seringnya jatuh cinta pada Omega yang lemah.

                                                                                          ***

"Pak Adi, WA-ah......." Nala  membaca sejenak rentetan chat di grup yang  membuat ponsel-nya bergetar-getar di sebelah bantal.

Bibir yang lapar menyusu itu terlepas dari payudaranya.

"Apa katanya?" Arzam, lelaki yang berada di antara dua  pahanya dan tinggal pakai celana dalam itu segera menatap tegang.

"Shit!" Nala menatap frustrasi layar ponselnya, sebelum memutarnya pada seraut wajah tampan yang menanti-nantikan jawabannya.

Dengan dahi berkerut Arzam mulai membaca. "All, balik kantor sekarang juga. Area Head mau meeting bareng kita di jam empat......"

Nala mendapati bibir yang memiliki sudut tajam di bagian atas itu menganga. Jadi agak merah dan  bengkak di sana, akibat hisapan gemasnya tadi, sebelum mereka saling berlomba melucuti satu sama lain.

"Kita balik kantor,  Mbak?"  Arzam menatap bingung.

Nala masih bisa merasakan sesuatu yang mengeras di balik celana dalam Arzam ketika mengangguk tegas.

"Ya, waktunya udah mepet," jawabnya sambil mengecek jam digital di ponsel. Di ruangan kecil ini, tidak ada jam dinding.

"Ta....tapi, Mbak Nala udah bayar room...."

"Kita harus  balik sekarang atau kita bakal telat...." Nala mendorong dada bidang Arzam, menyuruh lelaki yang lebih muda empat tahun darinya itu menjauh.

"Mbak Nala nggak rugi?" 

Nala, menatap sambil menahan senyumannya yang  nyaris berubah jadi tawa. Rugi apa? Dia bisa mendapatkan Arzam  kapan pun, mereka bisa mengulanginya lagi. Oh, mungkin maksud Arzam seratus ribu  sekian-sekian itu.  Ia bahkan nyaris lupa memikirkannya  karena seratus ribu sekian-sekian tidak berarti apa pun daripada terlambat dan menjadi pusat perhatian, lalu mendapatkan raut sewot Pak Adi sampai besok. Nala sudah jengah membayangkan mereka akan disinggung di briefing pagi, sambil menahan telinga panas karena Pak Adi yang merasa mereka kelewatan akan betah membahas ketidakdisiplinan para sales selama tiga puluh menit. Lalu, semua teman-temannya sesama sales akan ikut terkena nasihat yang sebenarnya adalah omelan itu. Pak Adi selama ini memang baik, memang sabar, tapi beliau paling tidak suka ada yang slebor, khususnya saat para pimpinan yang lebih tinggi datang. Lagii pula, siapa yang nekat terlambat saat ada Area Head datang?  Sungguh cari mati. Nala memilih  mengikhlaskan seratus ribu sekian-sekian  itu.

"Kamu mau kasih  kita alasan terlambat apa?" tanya Nala sambil memungut  kutangnya yang tercecer di lantai bersama pakaian lainnya.

"Nanti pulang  kantor, aku traktir Nasi Padang ya?" Dengan gerak halus Arzam memutar bahu indah Nala. Bahu yang ia merasa beruntung karena pada akhirnya melihatnya. Dari sekian banyak  laki-laki di kantor, hanya ia yang beruntung bisa melihatnya juga mencecap wangi di sana. Ia yakin begitu.

"Gampang,"  jawab Nala singkat. Ia tahu Arzam merasa bersalah, meski kejadian ini bukan kesalahannya. Sudut mata Nala berusaha menangkap Arzam yang membantunya mengaitkan tali kutang, tapi ia hanya menangkap lengan kecokelatan yang terbentuk liat. Sedikit  lama dan membuatnya diam-diam menyimpan kesal. Ia  bisa melakukannya sendiri dengan sangat becus, tapi ia mengizinkan Arzam yang baru bisa melepas dan mengaitkan tali kutang  untuk membantu. Setidaknya ini mending  daripada  beberapa  bulan yang  lalu, saat jari Arzam benar-benar kaku  melepas pengait  kutangnya.

H E A TTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang