Lampu-lampu kristal di koridor kediaman megah itu berpendar temaram, memantulkan bayangan seorang pria yang melangkah dengan bahu yang tampak sedikit merosot. Arkananta Wiranatakusuma, seorang politikus muda yang dikenal dengan reputasi sedingin es dan integritas seteguh karang, baru saja menuntaskan hari yang melelahkan di gedung parlemen.
Sepanjang hari, pikirannya terkuras oleh perdebatan kebijakan publik, negosiasi alot antar-fraksi, hingga tuntutan konstituen yang tak ada habisnya. Menjadi politikus yang adil di tengah riuh rendah kepentingan pribadi banyak orang adalah beban yang luar biasa berat.
Namun, di balik jas mahal dan raut wajahnya yang senantiasa datar serta mengintimidasi, Arkan hanyalah seorang pria yang merindukan rumah. Lebih tepatnya, ia merindukan sosok yang kini sah menjadi istrinya setelah bertahun-tahun mereka terikat dalam janji pertunangan yang kaku.
"Sudah jam sebelas malam," gumamnya seraya melonggarkan simpul dasi.
Langkahnya terhenti sejenak di depan tangga. Arkan menduga istrinya, Keana Maharani, sudah terlelap. Keana adalah antitesis dari kepribadian Arkan. Jika Arkan adalah malam yang sunyi, maka Keana adalah matahari pagi yang cerah—hangat, periang, dan selalu punya cara untuk meruntuhkan tembok pertahanan Arkan dengan godaan-godaan kecilnya.
Niat awal Arkan adalah menyelinap ke kamar, lalu merebahkan diri di samping Keana, memeluk wanita itu dalam diam untuk mengisi kembali energi jiwanya yang terkuras habis. Ia butuh kehangatan itu tanpa harus banyak bicara. Namun, indra penciumannya menangkap aroma gurih bawang putih yang ditumis dan aroma rempah yang menenangkan dari arah dapur. Arkan mengernyit. Kenapa dia belum tidur?
Arkan melangkah perlahan menuju dapur. Di sana, ia melihat pemandangan yang seketika melunakkan hatinya. Keana berdiri di depan kompor, masih mengenakan piyama sutra berwarna merah muda pucat, rambutnya dicepol asal-asalan, dan ia tampak asyik mengaduk sesuatu di dalam panci kecil sambil bersenandung pelan.
Keletihan Arkan seolah mencapai puncaknya, namun kali ini rasa lelah itu menuntut pelampiasan berupa afeksi yang jarang ia tunjukkan secara terang-terangan.
Tanpa suara, Arkan mendekat. Ia menanggalkan jasnya di kursi meja makan, lalu melangkah di belakang Keana. Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia melingkarkan lengannya yang kokoh di pinggang ramping sang istri. Arkan menyandarkan dagunya di bahu Keana, menghirup aroma vanila dari rambut wanita itu, dan mulai mendaratkan kecupan-kecupan kecil di tengkuk serta leher belakang istrinya.
"Eh?!"
Keana tersentak hebat. Refleks, ia memutar tubuhnya dengan cepat hingga mereka kini berdiri berhadapan, nyaris tanpa jarak. "Mas Arkan?!" seru Keana dengan mata membelalak.
Arkan mematung. Wajahnya yang tadi terlihat sangat haus akan kasih sayang, kini mendadak berubah menjadi merah padam. Ia tidak menyangka Keana akan bereaksi secepat itu. Mata mereka bertemu; mata Keana yang jenaka dan penuh selidik menatap langsung ke dalam manik mata Arkan yang biasanya tajam, namun kini terlihat nanar dan penuh rasa malu.
Deg. Jantung Arkan berdegup kencang. Gengsinya sebagai pria dingin dan politikus yang disegani seolah runtuh dalam satu detik.
"A-aku..." Arkan terbata.
Wajah Arkan kini benar-benar memerah hingga ke telinga. Merasa sangat malu karena tertangkap basah sedang bersikap manja, Arkan segera menarik Keana kembali ke dalam pelukannya, namun kali ini ia menyembunyikan wajahnya yang merona hebat itu di lekuk leher Keana. Ia memeluk istrinya erat-erat, seolah ingin menghilang dari pandangan.
Keana sempat tertegun selama beberapa detik sebelum tawa kecil yang renyah keluar dari bibirnya. Ia bisa merasakan napas hangat Arkan yang tidak beraturan di lehernya, juga detak jantung pria itu yang berpacu cepat.
"Ya ampun, Mas... kamu mengagetkanku," ujar Keana sambil tertawa pelan. Tangan lembutnya terangkat, mengusap-usap bagian belakang kepala Arkan, membelai rambut hitam suaminya dengan penuh kasih. "Aku pikir tadi ada penyusup yang mau menculikku, ternyata suamiku sendiri yang sedang ingin dimanja."
Arkan tidak bergeming. Ia semakin menenggelamkan wajahnya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Keana yang menjadi candu baginya.
"Mas? Kamu kenapa? Tadi tiba-tiba datang langsung memeluk dan mencium di belakang leher begitu. Tumben sekali?" goda Keana dengan nada centil yang menjadi ciri khasnya.
Suara Arkan terdengar sangat kecil, nyaris menyerupai bisikan yang teredam oleh kulit leher Keana. "Maaf..."
"Apa? Aku tidak dengar," goda Keana lagi, sengaja ingin mendengar suara suaminya yang sedang manja tingkat akut itu.
"Maaf... aku pikir kamu sudah tidur," ulang Arkan dengan suara yang sedikit lebih jelas, namun tetap terdengar sangat malu.
Keana tersenyum lebar. Ia menjauhkan sedikit tubuh Arkan untuk melihat wajah suaminya. Benar saja, Arkan sedang memalingkan wajah, berusaha menghindari kontak mata. Pipinya masih menampakkan rona merah yang sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya kaku.
"Kenapa minta maaf? Aku ini istrimu, Mas. Boleh-boleh saja kalau mau begitu," Keana mencubit kecil pipi Arkan. "Tadi itu... Arkananta sang politikus tegas yang aku lihat di TV sore tadi, atau Arkananta-ku yang sedang kehabisan baterai?"
Arkan mendengus pelan, berusaha mengembalikan sisa-sisa harga dirinya meskipun gagal total. "Jangan dibahas. Aku hanya... lelah."
"Lelah, ya? Sini, peluk lagi kalau begitu," Keana merentangkan tangannya kembali.
Tanpa banyak bicara lagi, Arkan kembali merengkuh tubuh istrinya. Kali ini lebih tenang. Segala kepenatan dari dunia politik yang kotor dan melelahkan seolah luruh begitu saja. Di dapur yang sunyi ini, ia bukan lagi seorang pejabat negara yang harus menjaga citra. Ia hanyalah seorang suami yang butuh divalidasi dan disayangi oleh wanita yang ia cintai.
"Masak apa malam-malam begini?" tanya Arkan pelan, masih enggan melepas pelukannya.
"Sup hangat untukmu. Aku tahu kamu pasti pulang telat dan belum makan dengan benar," jawab Keana manis. "Tapi sepertinya, makanan yang kamu cari tadi bukan sup ya?"
Arkan kembali menyembunyikan wajahnya, membuat Keana lagi-lagi tertawa. Ternyata, di balik sosoknya yang tampak mustahil untuk ditembus, Arkan memiliki sisi rapuh yang hanya boleh dilihat oleh satu orang: istrinya.
YOU ARE READING
The Politician Who Melts
RomanceDi mata publik, Arkananta Wiranatakusuma adalah politikus muda yang dingin, tegas, dan nyaris tak pernah kehilangan kendali. Jas hitam, ekspresi datar, dan wibawa adalah citra yang selalu melekat padanya. Namun semua itu runtuh begitu ia pulang ke r...
