Prolog

1.3K 89 19
                                        

Cast :
Na Jaemin as Nara Nazief (Nana)
Lee Jeno as Rajen Kalyan Pradipta
Mark Lee as Mark Ivander Pradipta

Other :
Huang Renjun as Rana Razief (Rara)
Shotaro as Tara Tazief (Tata)
Yuta as Yuda (Jaemin's dad)
Winwin as Erwin (Jaemin's Baba)
Yangyang as Yori
Soobin as Shaka
Bae Jinyong as Jason
Hyunjin as Hari


Prolog
.

Rajen tengah belajar bersama sang kakak di ruang tengah ketika Papa membawa seseorang yang ia sebut sebagai temannya memasuki rumah. Tangan kecil Rajen meraih tangan besar yang terjulur ke arahnya untuk bersalaman, mengikuti apa yang dilakukan sang kakak.

"Ayaaah!" Sepasang mata kecilnya beralih pada tiga anak yang terlihat seusianya, berlari menghampiri teman Papa. Salah satunya bahkan meloncat ke pelukan sang ayah.
"Tata mau digendong Ayah!" pintanya, kedua tangannya sudah melingkar di leher sang ayah. Dua saudaranya yang lain hanya memandang dengan ekspresi berbeda.

"Nara sama Rana di sini dulu, ya, sama Rajen dan Mark. Nanti Ayah balik lagi."

"Ayah ninggalin Nana lagi nggak?" Suara lirih itu membuat Rajen mengedipkan mata beberapa kali. Ia tidak sepenuhnya mengerti, namun rasa iba muncul saat melihat mata anak itu memerah, nyaris menangis.

"Nggak, sayang. Ayah masih di sini, kok."

"Kenapa nggak Nana yang ikut Ayah? Kenapa Tata terus?"

"Tapi Tata mau ikut Ayah!"

"Nana di sini dulu, ya. Ayah cuma sebentar. Rara aja nggak apa-apa, kan ada Rajen sama Abang Mark. Oke?"

"Mark, Rajen, ajak Nananya." pinta Papa Mark dan Rajen.

"Ayo, Nana, main sama Abang aja. Kita ke belakang. Di belakang ada kelinci gendut," bujuk Mark. Nara melebarkan mata dengan berbinar, terlihat tertarik.

"Ada kelinci?"

"Ayo! Rara juga mau lihat kelinci!" Salah satu anak yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
"Tata nggak boleh ikut. Tata nggak bisa lari-lari sama kelinci!"

"Rara, nggak boleh bilang begitu," sang ayah menegur.

"Nanti Tata sakit," jawab Rara polos. "Ayo, Abang, Rara sama Nana mau main sama kelinci!"

"Tapi Abang beresin buku dulu, ya?"

"It's okay, boys. Beresinnya nanti saja. Ajak Rana dan Nara main dulu."

Keempat anak itu berjalan beriringan. Mark memimpin di depan, sementara Rajen mengamati dari belakang. Rana dan Nara bergandengan tangan di tengah-tengah mereka.

Sejak awal kedatangan mereka, perhatian Rajen tak pernah lepas dari Nara. Kini anak itu duduk beristirahat di salah satu kursi di halaman belakang rumah. Rajen melangkah mendekat, lalu duduk di sebelahnya.

"Capek?" tanyanya.

Nara mengangguk pelan.

"Di rumah Nara nggak ada kelinci?"

Nara menggeleng. "Iya! Di rumah Nana gak ada kelinci."

"Jadi nama kamu Nara atau Nana?"

"Ayah sama Baba panggilnya Nana."

Rajen membeo paham. "Kenapa Nana gak pelihara kelinci?"

"Nggak boleh sama Baba."

"Kenapa gak boleh?"

"Soalnya Tata nggak boleh lari-lari. Nanti Tata capek."

"Kalau capek kan bisa istirahat."

Nana menggeleng. "Kata Baba, Tata sakit. Jadi Tata nggak boleh lari-lari, nanti capek terus sakit lagi."

Meski tak sepenuhnya mengerti, Rajen memilih mengangguk. "Nana mau minum?"

Kali ini Nara mengangguk dengan semangat.

"Ayo ikut Rajen ke dapur. Rajen nggak bisa bawa, takut tumpah."

Nara segera meraih tangan Rajen. Anak bermata sipit itu menatapnya heran sesaat, lalu mengangguk ketika Nara menatapnya bingung. "Ayo."

Saat berjalan menuju dapur, Rajen memperhatikan Nara yang berkali-kali menoleh ke arah ruang keluarga, seolah mencari seseorang.

"Ayah Nana di mana?" tanya Rajen.

"Di ruangan Papa Rajen."

"Ruangan Papa Rajen di mana?"

"Di lantai atas," jawab Rajen. Ia kembali memperhatikan Nara. "Nana kenapa?"

"Nana takut ditinggal Ayah lagi."

"Emang Ayah pernah ninggalin Nana?"

Nara mengangguk. "Pernah. Ayah sama Baba ninggalin Nana sama Rara. Terus nggak dijemput-jemput. Nana takut."

Rajen menyerahkan segelas air dengan kedua tangannya. Nara menerimanya dengan hati-hati, menggenggam gelas yang terasa besar bagi tangan mungilnya. Ia meneguk perlahan, lalu menyerahkannya kembali. Rajen meletakkannya di meja paling rendah.

"Udah, jangan sedih. Sekarang kan Nana sudah sama Ayah sama Baba lagi."

"Tapi kalau Tata sakit, Baba suka marahin Nana. Terus kata Baba, Nana mau ditinggalin di sana lagi." Air mata Nara mulai menggenang. "Baba nggak sayang Nana."

Rajen memiringkan kepalanya, lalu menepuk kepala Nara pelan. "Bubu Rajen juga pergi. Kata Nenek karena Rajen nakal, tapi kata Abang karena Nenek jahat. Tapi Bubu nggak balik lagi."

"Bubu Rajen pergi?"

Rajen mengangguk cepat. "Tapi Rajen sudah nggak sedih, soalnya Rajen punya Abang. Nana juga punya Rara, kan?"

Senyum kecil tersungging di wajah Rajen saat Nara mengangguk. "Nara punya Rara."

"Nanti kalau Nana ditinggal lagi, pulang ke sini aja. Ada Rajen. Rajen temenin."

Nara tersenyum, lalu mengangguk lagi—kali ini lebih yakin.

Sejak saat itu, persahabatan di antara mereka perlahan tumbuh. Nara dan Rana semakin sering menghabiskan waktu bersama Rajen—bermain dan belajar—hingga Ayah menjemput mereka sepulang kerja.

Hari-hari berlalu begitu saja, sampai suatu waktu Nara dan Rana tak lagi datang, meski Rajen dan Mark sudah menunggu berhari-hari.

Pernah suatu hari Rajen bertanya pada Papanya tentang mereka. Papa hanya menjawab bahwa Nara dan Rana tidak bisa lagi bermain bersama mereka.

Dan sejak saat itu,
mereka tidak pernah bertemu lagi.

HavenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang