Siang datang tanpa benar-benar terasa seperti siang.
Cahaya matahari menyelinap masuk lewat celah tirai yang sama, tapi kini jatuhnya lebih terang, seolah tidak peduli pada apa yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Jam dinding di kamar asrama berdetak pelan, terlalu pelan, pelan, dan pelan. Namun setiap detiknya terasa menghantam kepala Erine seperti palu kecil yang tak henti bergerak.
Erine terbangun dalam posisi meringkuk.
Tubuhnya terasa berat, seperti tertindih sesuatu. Setiap tarikan napas membuat dadanya nyeri terus-menerus, seakan ada beban yang belum diangkat. Tenggorokannya kering, terasa pahit, dan kepalanya berdenyut. Ia butuh beberapa detik, atau... mungkin menit untuk menyadari di mana ia berada.
Kamar itu sunyi. Terlalu sunyi. Sangat sunyi. Hanya sunyi. Kehampaan dan sunyi.
Tidak ada suara napas lain. Tidak ada bayangan tubuh di sampingnya. Tidak ada aroma familiar yang biasanya menempel di udara setiap kali ia ada di ruangan.
Hanya bau sprei yang kusut, udara AC yang dingin.
Erine menelan ludah dengan susah payah.
"O-Oline?" suaranya keluar terasa serak, seperti bukan miliknya sendiri.
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba menggerakkan tangannya. Nyeri menjalar dari bahu ke pergelangan, membuatnya meringis. Ada rasa perih di beberapa titik tubuhnya, ia tidak berani langsung melihat, hanya merasakannya sebagai sinyal bahaya yang membuat perutnya mengencang.
Pelan-pelan, Erine memaksakan dirinya duduk.
Kasur berderit. Bunyi kecil itu saja membuatnya tersentak, jantungnya berdegup lebih cepat. Matanya menyapu kamar dengan waspada, seperti hewan yang baru lolos dari jerat.
Oline tidak ada. Ia tidak ada disitu.
Dia dimana?
Pikirnya beberapa kali.
Lemari setengah terbuka. Rak sepatu kosong di satu sisi. Jaket hitam yang biasanya tergantung di belakang pintu hilang. Bahkan ponsel yang tadi pagi tergeletak di meja kini tidak terlihat.
Ia pergi.
Kesadaran itu tidak langsung terasa sebagai kelegaan.
Yang datang justru kekosongan. Kosong yang dingin namun berisik di dalam kepala. Seperti setelah badai besar, ketika semua hancur tapi angin berhenti, menyisakan puing-puing dan keheningan yang menakutkan.
Erine memeluk lututnya, menunduk.
Tangannya gemetar. Ia tidak tahu apakah itu karena dingin atau karena sesuatu yang lebih dalam.
Ia menoleh ke jam.
11.47.
Siang hampir tiba sepenuhnya.
Ia merasakan mual di perut-nya.
Biasanya, saat ini Oline sudah ada di sini. Entah itu tidur lagi. Entah itu duduk sambil memainkan ponsel. Tapi sekarang, kamar itu terasa seperti ruang asing yang ditinggali sendirian.
Erine mencoba berdiri.
Kakinya hampir tidak kuat menahan berat badan. Ia berpegangan pada sisi meja belajar, menunggu sampai pusingnya mereda.
Ia tidak ingat kapan terakhir kali minum. Atau makan. Atau tidur dengan tenang.
Di cermin kecil di atas meja rias, pantulan dirinya terlihat berbeda. Wajahnya pucat, mata sembab, bibirnya kering. Ada bekas-bekas samar di lehernya yang membuat napasnya tercekat ketika melihatnya.
Erine segera memalingkan wajah. Ia tidak sanggup menatap terlalu lama.
Dengan langkah tertatih, ia menuju kamar mandi kecil di dalam kamar. Lampu dinyalakan. Cahaya putih menyilaukan matanya. Ia memegang wastafel, menunduk, lalu membuka keran dan membasuh wajahnya berkali-kali.
YOU ARE READING
My Roommate (ORINE)
FanfictionLanjutan dari cerita kemarin (akun baru) #gen12jkt48 🥇 | 16-desember-2025
