Prolog & Chapter 1 (Awal)

16 0 0
                                        


"Di hutan yang sunyi,
cinta tumbuh tanpa izin.
Tenang, hangat,
namun salah arah."


◇☆◇


[Prolog]

Kadang hidup membawa kita ke arah yang terasa benar, padahal semua orang bilang itu salah.

Hutan selalu jadi tempat favorit Kirana Zetya sejak ia masih kecil. Bukan mall, bukan kafe, tapi pepohonan tinggi, tanah lembap, dan suara serangga yang membuat pikirannya tenang.

Di usia nya yang menginjak 17 tahun, Kiran sudah tahu satu hal tentang dirinya, yaitu, dia tidak ingin hidup di ruang operasi yang penuh dengan selang dan bunyi detak jantung.

Sayangnya, orang tua Kiran sudah menuliskan masa depan Kiran jauh sebelum dia sempat memilih.

Dokter, jas putih dan nama panjang di depan gelar.

“Petualangan itu hobi, Kiran. Bukan masa depan kamu. Petualangan ngga bisa menentukan arah yang benar, petualangan ngga bisa memberikan kamu kejelasan untuk kedepannya." Itu kalimat yang paling sering ia dengar.

Kiran hanya mengangguk, padahal dadanya selalu sesak setiap kali membayangkan hidup yang bukan miliknya, hidup yang selalu diatur hanya karena agar dia 'bahagia' itu kata orang tuanya.

Sementara itu di sisi lain kota, seorang wanita bernama Leona Azalia justru hidup di jalan yang berlawanan. Di usianya yang menginjak 27 tahun, ia merupakan anggota ekspedisi berpengalaman, terbiasa tidur di alam terbuka dan membaca arah dari bintang, mencatat segala tentang flora dan fauna, terkadang menemukan hal baru yang sedikit orang bisa lihat.

Hidupnya nyaris sempurna, hidup yang diinginkan Kiran sejak kecil. Penuh kebebasan dan jauh dari tekanan untuk masa depannya.

Namun, pada hari itu, Leona tidak pernah menyangka, sebuah perjalanan ke hutan yang awalnya hanya tentang penelitian dan jabatan akan mengubah arah hidupnya.

Dan juga arah hidup seorang siswi yang terlalu muda untuk jatuh cinta,
namun terlalu berani untuk menghindarinya.


◇☆◇


°Chapter 1 (Awal)°

Kiran duduk di kamar sambil menatap brosur lusuh yang ia sembunyikan di balik buku biologi.

“Program Edukasi Ekspedisi & Antropologi Lapangan”

Matanya berbinar, tapi tangannya gemetar.

“Kalau aku bisa ikut, ini bisa jadi kesempatan emas buat aku. Aku bisa buktiin ke mamah sama ayah kalau petualangan itu ngga selamanya buruk.” gumamnya pelan.

Di luar kamar, suara ibunya terdengar nyaring. “Kiran! jangan lupa les tambahan jam enam!”

“Iya, mah!” jawabnya cepat, lalu menghela napas panjang. Ia memasukkan brosur itu ke dalam tasnya.

Sebenarnya bukan salah orang tuanya, jika mereka ingin Kiran menjadi dokter. Mereka hanya ingin yang terbaik untuk Kiran versi mereka.

Tapi Kiran ingin hutan, bukan rumah sakit, Ia ingin belajar membaca jejak bukan hasil lab.

Terkadang versi orang tua dan versi anak memang selalu berlawanan, pilihan keduanya tak selalu sama. Tapi bukankah selalu ada yang menjadi pemenang diantara dua pilihan itu?

Sementara itu, di sebuah gedung tinggi, sebuah perusahaan bernama Nusantara Field Expedition (NFE) berdiri megah dan menjulang tinggi, di dalamnya terdapat barang-barang penelitian dan dinding yang dipenuhi peta serta foto-foto lapangan.

Bahkan terdapat foto para penjelajah senior yang terpajang di aula utama.

Di ruangan anggota ekspedisi.

Leona sedang merapihkan berkasnya lalu Michelle, temannya datang sambil membawa kopi di tangan kirinya.

“Denger-denger,” Michelle nyengir, “ada hutan di wilayah timur yang jarang banget dijamah penjelajah, kalau ga salah namanya hutan kristal.”

Leona mendongak. “Dan?”

“Dan katanya medan disana ekstrem, sinyal nol, budaya lokal nya juga masih kuat banget," Michelle mencondongkan badan dan matanya berbinar. “Cocok buat orang yang ngerasa udah kebal sama tantangan.”

Leona terkekeh kecil. “Lo nantang gua buat kesana?”

“Dikit,” Michelle mengangkat bahu.

Michelle meminum kopinya, lalu kembali berbicara, “Kebetulan perusahaan lagi buka program edukasi juga, gabungin peserta muda buat belajar langsung di lapangan.”

Leona terdiam sesaat.

Peserta muda? Maksudnya pemula?

Anak-anak yang matanya masih penuh rasa ingin tahu. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang muncul di dadanya.
Bukan ragu ataupun takut, tapi lebih ke firasat.

Michelle kembali berbicara dengan nada penasaran, "Lo ngga tertarik buat ikut?"

"Ngga" Jawab Leona singkat, ia kembali merapihkan berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.

Michelle berdecak kesal, "Ck ini kesempatan besar buat lo, leona."

Leona mengerutkan keningnya, "kesempatan besar? kegiatan itu cuma pembelajaran tentang hutan dan penjelajahan. Gua udah lakuin itu bertahun tahun."

"Ya, gua tau itu. Kesempatan yang gua maksud itu, jabatan buat lo. Dengan lo ikut ekspedisi ini, lo bisa mimpin anak anak muda itu buat penjelajahan, lo bisa dapet penghargaan karena berani ambil langkah yang besar," Michelle semakin mendekatkan kursinya. "Dan lo, lo akan naik jabatan. Itu yang lo mau kan Leona?"

Tangan Leona yang tadinya sibuk merapihkan berkas menjadi diam.

Michelle tersenyum tipis, "Lo tertarik? Inget Leona, kesempatan besar ngga akan datang dua kali"

Leona menatap Michelle.

“Kalau gua ikut,” ucap Leona akhirnya, “gua ngga mau cuma jadi pembimbing, tapi gua mau jadi pemimpin yang bisa pimpin mereka selama penjelajahan.”

Michelle tersenyum lebar. “Lo tenang aja. Gua yakin, perjalanan ini bakal ninggalin bekas buat semua orang, maksud gua perjalanan ini bisa ninggalin sesuatu yang istimewa buat semuanya.”

"Kapan programnya dimulai?" Tanya Leona.

Michelle tersenyum tipis dan terdiam sejenak, sebelum akhirnya kembali berbicara, "secepatnya."

Leona menatap peta hutan di dinding, sudah puluhan hutan ia jelajahi. Jadi bukan masalah yang besar kan kalau nanti dia berkesempatan menjadi pemimpin di ekspedisi hutan kristal itu? lagipula, ia bukan lagi anggota ekspedisi pemula tapi sudah resmi menjadi anggota ekspedisi berpengalaman.

Leona tersenyum tipis.

Tapi ia juga mungkin tidak akan tahu, di sanalah nanti ia akan bertemu seseorang, seseorang yang membuat kompas hatinya berputar ke arah yang salah.

Bersambung♧

Arah yang SalahStories to obsess over. Discover now