Book One

279 23 16
                                        

Pagi itu pagi yang cerah seperti biasanya. Tidak ada yg spesial, hanya mungkin matahari bersinar sedikit lebih cerah dari kemarin, membuat si pemilik kamar tersenyum manis ketika ia membuka jendela kamarnya.

"Selamat pagi, Dunia!" Gumamnya pada diri sendiri.

Cowok melankolis ini suka sekali dengan langit biru yg cerah. Dengan semangat empat lima, cowok manis itu kemudian turun ke ruang tengah untuk menyapa ayah dan bundanya.

"Pagi bundaku sayang!" Sapanya ketika ia melihat bunda tercinta sedang menyiapkan sarapan favoritnya, roti panggang isi selai stroberi dan susu vanila hangat.

"Selamat pagi anakku sayang." Jawab bunda sambil tersenyum ketika putra bungsunya mencium pipi wanginya sebagai salam selamat pagi darinya.

"Ayah mana Bun?" Junseo bertanya pada bunda ketika ia melihat ayahnya masih belum bergabung dengan mereka di meja makan.

"Ayah sudah berangkat, ayah kan ada tugas keluar kota, lupa ya? Ayah kan sudah pamit adek kemarin." Sahut bunda sambil mencubit pipi chubby Junseo, membuat remaja itu tersenyum cengengesan.

"Junseo lupa bun!"
"Sudah cepet sarapan. Nanti terlambat ke sekolah lho!"
"Iya Bu, eh kakak mana?"
"Tahu tuh, kakak masih tidur kayaknya. Kemarin kakak begadang mengerjakan tugas kuliah."

Junseo hanya manggut-manggut sambil mengunyah roti panggangnya. Kak Donghan emang makhluk noturnal. Junseo tidak habis pikir bagaimana kakaknya bisa begadang semalaman kemudian tidur seharian. Junseo sudah sakit kepala duluan membayangkan jam tidurnya kebalik seperti itu.

"Bun, adek berangkat sekolah dulu!"
"Hati-hati nak, dijalan. Jangan meleng kalau jalan!" Bunda sedikit berteriak ketika beliau melihat anak kesayangannya itu telah berlali keluar dari rumah. Bunda hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan putranya itu.


******

Seperti hari-hari sebelumnya, Junseo berjalan ke sekolah nya dengan air bud di kedua telinganya, ia suka sekali dengan pagi yang cerah seperti ini, angin sejuk sepoi-sepoi menyibak rambut hitamnya. Burung-burung kecil terbang di atas pohon di tepi jalan..

Junseo adalah anak yang sederhana, dia suka berfikir seperti itu. Melihat anak anjing yg lucu sudah bisa membuat nya tersenyum bahagia, bertemu dengan teman-temannya di sekolah setiap hari membuatnya semangat ke sekolah. Berkumpul dengan keluarga kecilnya pada sore hari di rumah nyaman mereka sudah membuatnya puas. Hal-hal kecil yg diremehkan orang lain, adalah hal-hal yang dianggap berharga oleh anak remaja tersebut.

Junseo sudah sampai di sekolahnya. Di depan gerbang, Pak guru olahraga sudah siap menyambut anak-anak yang datang dan siap untuk menghukum anak-anak yang terlambat.

Junseo tidak pernah terlambat, dia melepaskan air bud nya kemudian menghampiri Pak Hanbin dengan senyum cerianya.

"Selamat pagi bapak!" Junseo menyapa Pak Hanbin sambil membungkuk sedikit di hadapan gurunya.
"Selamat pagi, Junseo!" Pak Hanbin tersenyum sambil menatap murid kelas XI yang tidak pernah absen menyapa dirinya.

Pak Hanbin menyadari ada daun kecil di poni Junseo, segera Guru ganteng itu mengangkat tangannya dan mengambil daun tersebut, tidak lupa beliau juga merapikan rambut muridnya yg agak berantakan ditiup angin.

"Pak Hanbin, saya juga mau pak dielus-elus rambutnya!" Teriakan seseorang di samping Junseo sukses membuat remaja itu kaget sambil sedikit berteriak. Dia tidak suka dikejutkan dari belakang.

Junseo cemberut masam ketika ia mendapati sahabatnya sudah melingkarkan tangannya ke lehernya dan memeluknya dari belakang.

Sangwon juga menunjukkan wajah tidak suka kepada sahabatnya itu, yg selalu menerima perhatian lebih dari guru populer itu.

Pak Hanbin hanya tertawa melihat kelakuan dua sahabat itu, yang sama-sama cemberut di depannya. Mereka kelihatan seperti berumur lima tahun bukan tujuh belas tahun.

"Sangwon selamat pagi. Hari ini Sangwon juga terlihat manis, sudah jangan cemberut. Nanti manisnya hilang lho." Kata-kata Pak Hanbin sukses membuat bibir dua remaja itu merekah di wajah mereka.

"Pak Hanbin, jangan berbincang-bincang dengan murid saja, itu lihat ada yang tidak memakai seragam dengan lengkap!" Lee Jeong, sang ketua OSIS yang terkenal galak berdiri di depan gerbang dengan lengan yang diletakkan di kedua sisi pinggangnya.

"Hey, Lee Leo, sudah berapa kali bapak bilang, kancingkan yang benar seragam sekolahmu, dan mana dasimu? Kenapa tdk dipakai lagi?"

"Cih, cerewet sekali!" Lee Leo berhenti di depan gerbang, Lee Jeong menghentikan langkahnya ketika remaja yang terkenal nakal itu ingin masuk ke dalam sekolah.

Sangwon melirik sejenak kepada Leo, memberikan tatapan sinis kemudian menarik pergelangan tangan Junseo dan membawa mereka masuk lebih dalam ke halaman sekolah.

Junseo masih melihat ke belakang, dimana Leo dihukum untuk push-up oleh Pak Hanbin. Dia sendiri heran, kenapa teman sekelasnya itu suka sekali dihukum oleh guru.


******

Cutie PieWhere stories live. Discover now