Apa?

217 13 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.





Aku berlari setelah turun dari bis, tidak peduli teriknya matahari membakar kulitku. Keringat mulai berjatuhan di pelipisku. Baru saja aku mau pulang setelah kegiatan kampusku selesai. Tapi sebuah panggilan di ponselku mengurungkan niatku untuk kembali ke rumah.

Sesaat setelah menaiki bis, Ginny, senior sekaligus sahabatku menelpon sambil menangis. Buru-buru aku turun di halte yang bukan tujuanku dan berlari ke halte lain yang akan membawaku kembali ke kampus.

Dan di sinilah aku sekarang. Taman kampus. Kulepas topiku dan mengubah fungsinya jadi kipas. Ya panas, ya musti lari-lari. Capek banget gila! Mana masih harus nyari Ginny yang katanya sudah menungguku di tempat ini.

Oh, itu dia. Ginny duduk di bangku pinggir taman yang dilindungi pohon tabebuya. Kepalanya tertunduk, beberapa kali jari tangannya mengusap air mata yang seolah tak berhenti mengalir dari mata indahnya. Lah kenapa dia? Siapa yang bikin Ginny gue nangis?

Aku segera berlari kecil ke arahnya. Buru-buru kuseka keringatku dan mengatur irama napasku sebelum Ginny menyadari kalau aku habis lari dari kenyataan. Nggak deng. Dia tahunya aku masih di kampus saat ditelepon karena aku memang berbohong padanya supaya dia tidak merasa gak enak.

"Kenapa lagi?" Aku langsung duduk di sampingnya.

"Ah, Jay kamu di sini?" Ginny menoleh dengan mata yang masih memerah.
"Kok lama sih?"

"Aku BEABOD dulu," bohongku.
"Hah?" herannya.

"Oh, maksud aku poof. Perut aku mules." Aku mengkoreksi kosakta absurdku.

"Dapat bahasa dari mana itu?"

"Kaya ga kenal aku aja." Senyumku hambar.
"Aiih, coba lihat wajah kamu ini. Air mata semua. Kalo kamu duyung dah tajir aku." Aku mengusap kedua pipinya yang menggemaskan.
"Siapa sih orang yang tega buat makhluk secantik ini nangis?" Kali ini tanganku menyentuh rambut panjangnya yang hitam.
"Sekarang, apa lagi masalah kamu sama Kak Bryan?"

"Dia tuh nyebelin banget. Ga peka. Masa dia diem aja pas aku bahas tas chanel keluaran terbaru?" Penjelasannya membuat perutku beneran mules.

"Ahelah, dia bukannya ga peka. Itu sih dia bakalan bokek kalau harus beli tas mahal itu buat elo kak," timpalku dan membuat dia semakin cemberut.
"Jadi, karena ini kamu nelpon aku sambil nangis?"

"Ga." Kepalanya menggeleng.

"Terus?"

"Kak Bryan harus pergi ke Jepang pas ulang tahunku nanti."

"Aah, dia ga bisa temenin kamu di hari spesial kamu?"

"Iya, padahal tahun lalu juga dia ga bisa." Ginny cemberut. Aku segera menyandarkan tubuhnya di dadaku dan memeluk Ginny.

"Kan masih ada aku dan temen kamu." Kucoba untuk menghiburnya.

"Tetap aja rasanya beda."

"Oh... Aku ngerti. Hmm, apa aku harus dandan ala cowok dan jadi pacar semalam kamu aja nanti?" Ide itu tercetus begitu saja.

Friend ZoneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang