☁️ Chapter 28 - run!

201 95 511
                                        

⚠︎ 𝐏𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠𝐚𝐭𝐚𝐧
Bab ini mengandung adegan tembakan dan darah.

ᯓᡣ𐭩

Café mendadak hening. Speaker lofi lagi rusak, gak ada suara mesin kopi, cuma gumaman kecil para karyawan. Jadi ketika pintu ruangan manajer ketutup-

PLAK.

Bisik-bisik langsung meletup di luar, "Daisuke ditampar?"

Di dalam ruangan, Daisuke pegang pipinya, shock. "Put, kenapa nampar gue?"

Putri berdiri dengan napas berat, matanya merah karena menahan semuanya sendirian. "Jangan ikut campur urusan gue. Lo di sini cuma kerja. Kenapa lo ngadu ke abang sampe dia yang ganti uang Café?"

"Gue cuma mau bantu..."

"Gue gak butuh bantuan lo," Putri jatuh duduk ke kursinya, nahan dorongan buat nendang meja. "Gue gak mau tergantung sama siapa pun. Paham?"

Suara Daisuke kecil. "Maaf..."

"Mana uang gue yang lo ambil dari Sae?"

Daisuke buru-buru ngeluarin uang itu. "Ini."

"Transfer ke abang. Gantiin duit dia yang harusnya gak perlu keluar."

"Tapi, Put..."

"Atau lo gue pecat!" Kalimat itu datar, capek, tanpa tenaga tapi justru lebih sakit dari teriakan.

Daisuke langsung diam.

Putri nyandarin dada ke meja, suaranya pelan tapi tajam. "Jangan sok tau. Jangan bertindak duluan. Jangan bikin gue keliatan lemah padahal gue lagi nyoba berdiri sendiri."

Dia tunjuk pintu. "Sana kerja!"

Putri menutup wajahnya setelah Daisuke keluar, tapi gak ada air mata.
Yang ada cuma napas berat—kayak seseorang yang berdiri di tengah badai dan maksa bilang aku bisa walau lututnya gemeter.

Setelah kejadian pagi itu, suasana café ganjil. Semua karyawan kerja sambil curi-curi pandang ke Putri, sementara Daisuke cuma diem, tapi jelas kepikiran.

---

Di atas jam operasional, setelah café tutup dan lampu udah diredupkan, Daisuke duduk di depan komputer CCTV di ruang belakang. Kazuma yang nyuruh dia pantau sistem baru—karena semua karyawan gak dikasih tau kalau café ternyata punya kamera tersembunyi di beberapa titik.

"Kalo ada yang aneh, laporin gue," kata Kazuma sebelumnya. "Gue mau tau siapa yang bisa dipercaya."

Dan ya... rekaman semalam terlihat jelas: Shiori berdiri di depan kasir, matanya waspada kiri-kanan. Dia buka laci perlahan, ambil uang beberapa lembar, lalu ngantongin cepat. Setelah itu dia pura-pura beresin meja dan keluar seperti gak terjadi apa-apa.

Daisuke langsung nahan napas. "Gila... jadi beneran dia."

---

Besok paginya, Kazuma dateng lebih awal dari biasanya. Aura dinginnya udah kerasa dari jauh. Semua karyawan langsung diem begitu liat dia masuk.

"Rapat. Sekarang."

Café langsung ditutup sebentar.

Shiori berdiri santai sambil lipat tangan, tapi begitu Kazuma muter laptop dan nunjuk rekaman CCTV, wajahnya pucat kayak maling yang ketangkap basah.

"Lo ambil uang café," suara Kazuma rendah, tenang, tapi tajam kayak pisau.

"S-saya... itu, itu editan!"

Kazuma gak jawab. Dia hanya narik napas dalam, lalu bilang, "Shiori, lo gue pecat. Efektif sekarang. Gak ada pesangon. Gak ada surat baik-baik. Keluar."

TᗩᗰEᗪ (ᗴNᗪ)Where stories live. Discover now