Love affair

309 34 6
                                        








Jennie ruby jane idol kpop yang tengah berada di dalam mobil maybach yang di Kendari oleh manager nya ia bersandar di kiri dengan ponsel di tangannya, iphone yang terus menyala dengan panggilan yang tak terjawab sejak tadi.

"Ck kemana sebenarnya dia" gerutu jennie mengerutkan bibirnya dengan kesal, di layar ponselnya nama babe di sana tertera sejak tadi

"masih saja tak mau mengangkat" gumam jennie memasukan ponselnya kedalam chanel bag

Mobil maybach hitam meluncur kencang di jalanan gangnam, jennie melipat tangannya di dada memandang ke depan di mana jeremy tengah menyetir.

"di depan macet kenapa?" tanya jennie memajukan kepalanya, hingga di tengah-tengah kursi kemudi

"seperti ada kecelakaan" jawab jeremy yang menoleh kearah jennie ia memutar setir melewati kerumunan polisi yang menutupi mobil tabrak beruntu

Jennie kembali duduk dengan nyaman, menoleh kearah bag dimana pinselnya berdering ia segera mengangkat melihat nama yang sejak tadi ia tunggu menelpon.

"aku baru selesai meeting" ujar suara lembut di seberang

Jennie memutar bola mata nya menempelkan ponselnya di telinga.

"pulang jam berapa? aku sudah di jalan sebentar lagi sampai" balas jennie sedikit ketus ia masih sebal dengan lisa yang sejak tadi mengabaikan telepon darinya

"jam 9 malam sayang, aku harus mampir ke apartemen sena untuk ambil berkas disana"

Bibir kecil itu menyeringai sebal mendengar ucapan kekasihnya.

"aku sudah bela-belain pulang cepat kau malah mau kemana-mana lagi" pekik jennie ia benar-benar sebal sekarang

"hanya mengambil berkas dan mengantar kue peranannya"

"seterah beli breads untuk breakfast besok" balas jennie yang segera menutup mulutnya, matanya sejak tadi memejam ia ingin lisa segera pulang namun ada saja kegiatan lisa yang membuat waktu mereka tertunda terus untuk berduaan

"oke jangan tunggu aku, istirahat lebih dulu aku akan segera pulang, aku tutup dulu"

Jennie tiba lebih dulu, begitu mobil berhenti di spot privat yang hanya dimiliki penghuni tertentu, turun dari mobil hitam yang lampunya meredup otomatis begitu memasuki basement apartemen, ruang bawah tanah itu hening, hanya suara mesin pendingin udara yang berputar pelan dan gema langkah yang terdengar lembut di lantai semen,
lampu-lampu sensor menyala satu per satu mengikuti gerakannya.

Dengan langkah kecil, heelsnya menyentuh lantai dan memantulkan bunyi yang sangat halus,  ruangan itu dibuat untuk menjaga privasi, ia merapikan kerah coatnya sambil menatap pintu lift pribadi yang menunggu dengan lampu kecil berwarna biru.

Pintu lift terbuka, hanya orang yang memiliki izin  yang bisa mengaksesnya, lift privat yang langsung menuju lantai apartemen tanpa berhenti di mana pun, suara mekaniknya hampir tidak terdengar saat pintu menutup kembali.

Di dalam lift, jennie mencondongkan tubuh sedikit, menatap pantulan dirinya di dinding kaca hitam, ia mengembuskan napas.

"besok jadwalku padat sekali hugg" gumam jennie memejamkan matanya

Ketika lift berhenti, lampu berubah menjadi warna hangat, pintu terbuka langsung ke ruang masuk apartemen yang luas, tanpa lorong umum, tanpa suara penghuni lain, langit-langit tinggi, lantai marmer pucat, aroma diffuser vanila lembut menyambut seolah ruangan mengenali siapa yang datang.

Jennie melangkah masuk, lampu-lampu menyala perlahan, mengikuti ritme sensor kedatangan, ia  meletakkan tas di meja kecil livingroom, berjalan menuju kamar.

Mr general Hikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin