Pacaran Tengah Malam

1.1K 67 55
                                        

BRAK!!

​Suara pintu yang dibanting keras membuat Zayyan hampir menjatuhkan gelas susu di tangannya.

​Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Di luar, langit seolah sedang menahan beban air yang siap tumpah kapan saja. Namun, badai yang sesungguhnya justru baru saja masuk ke ruang tamu rumah mereka.

​"Bangsat! Anjing! Liat aja lo, Sing! Gue patahin leher lo kalau ketemu lagi!"

​Zayyan menghela napas panjang. Dia meletakkan gelas susunya di meja makan, merapikan sedikit piyamanya yang bergambar beruang cokelat, lalu mengubah ekspresinya.

​Dalam hitungan detik, tatapan matanya yang tadi bosan berubah menjadi bulat, polos, dan penuh kekhawatiran. Mode 'Adik Manis Penurut' diaktifkan.

​Zayyan berjalan tergesa menuju ruang tamu. Di sana, Hyunsik, kakak laki-lakinya sekaligus satu-satunya wali yang ia miliki, sedang melempar jaket denimnya ke sembarang arah.

Keadaannya kacau balau. Ada sobekan di lengan kaos hitamnya, debu jalanan mengotori celana jinsnya, dan yang paling parah, ada lebam ungu kemerahan di sudut bibir serta pelipisnya. ​Jalan Hyunsik pun pincang.

​"Kak Hyun!" Zayyan memekik, suaranya dibuat se-drama mungkin. "Ya ampun, Kakak kenapa lagi?!"

​Hyunsik menoleh, matanya yang tadi menyala-nyala karena amarah langsung melembut begitu melihat adiknya. Dia berusaha menegakkan tubuh, menutupi rasa sakit di kaki kirinya.

"Eh, Zay... Belum tidur? Besok kan ospek hari pertama."

​"Gimana aku bisa tidur kalau Kakak pulangnya kayak gini?" Zayyan mendekat, menyentuh pelan lengan Hyunsik yang lecet. "Berantem lagi? Sama siapa kali ini? Geng motor sebelah lagi?"

​Hyunsik mendengus kasar, kembali teringat kejadian satu jam lalu di jalan layang bypass. "Siapa lagi kalau bukan 'Red Viper' sialan itu. Ketuanya, si Sing brengsek itu, mainnya keroyokan. Coba kalau sendiri, udah gue jadiin perkedel tuh anak."

​Zayyan menahan napas sejenak saat nama itu disebut.

​Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang menjalar di perutnya. Namun, di wajahnya, Zayyan hanya memasang ekspresi ngeri.

​"Udah, Kak, duduk dulu. Aku ambil kotak P3K," kata Zayyan sambil menuntun kakaknya duduk di sofa tua mereka.

​Hyunsik menurut. Dia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa sambil memejamkan mata, meringis pelan saat adrenalin di tubuhnya mulai surut dan rasa nyeri mulai mengambil alih.

​Zayyan kembali dengan kotak obat dan baskom kecil berisi air hangat. Dengan telaten, dia mulai membersihkan luka di wajah kakaknya.

Kapas yang dibasahi alkohol menyentuh luka sobek di pelipis Hyunsik, membuat cowok bertato itu mendesis.

​"Aaww... Pelan-pelan, Zay. Perih, anjir."

​"Makanya jangan tawuran terus," omel Zayyan lembut. "Kakak itu udah tua. Udah 27 tahun. Malu sama umur. Lagian apa sih yang direbutin? Jalanan doang."

​"Ini bukan soal jalanan, Zay. Ini soal harga diri," potong Hyunsik berapi-api, meski matanya masih terpejam. "Si Sing itu... wah, bener-bener dia. Tadi dia nyerempet motor anak buah gue, si Gyumin, sampai spionnya patah. Ya gue nggak terimalah! Pas gue samperin, dia malah senyum-senyum ngeremehin. Mukanya tuh... pengen gue parut di aspal."

​Zayyan menahan senyum tipis. Dia bisa membayangkan wajah Sing yang 'tengil' itu. Pasti dia senyum miring sambil mainin gas motornya, batin Zayyan.

​"Terus luka Kakak ini... gara-gara dia juga?" tanya Zayyan hati-hati sambil menempelkan plester.

​"Iya! Dia nendang tulang kering gue pas gue lagi lengah ngurusin anak buahnya yang lain. Licik banget," gerutu Hyunsik. Tangan besarnya kemudian terulur, mengacak-acak rambut halus Zayyan.

Pacarku adalah Musuh Kakak ku (END)Stories to obsess over. Discover now