Lemonade Pertama

11 0 1
                                        

Kafe kecil itu seperti napas pendek di tengah hiruk-pikuk kota Chengdu. Bukan tempat penting, bukan pula tempat yang ingin diingat siapa pun. Lampu neonnya bersinar lelah, seakan sudah menyimpan terlalu banyak malam. Dari balik kaca, dunia luar tampak seperti lukisan yang belum selesai diwarnai. Senja turun perlahan, menggores langit dengan warna oranye yang mulai memudar.

Di balik counter, y/n berdiri dengan gerakan yang sudah menyatu dengan tubuhnya. Mesin kasir berbunyi pip dengan ritme yang monoton, seperti ikut bosan menghadapi hari-hari panjang tanpa kejutan. Di tengah rutinitas itu, pikirannya kadang melayang pada hal-hal kecil yang ia temui setiap sore.

Seperti seekor kucing putih yang selalu berbaring di depan kafe. Kucing itu tidak pernah masuk, tapi selalu ada. Diam, tenang, hanya membungkus tubuhnya seperti gumpalan salju, dan menatap jalan dengan mata yang waspada namun lembut, seakan ia penjaga kecil dari dunia yang tidak mempedulikannya. Tapi keberadaan kucing itu ada sesuatu yang menenangkan, entah apa. Mungkin sekadar rasa bahwa ada makhluk lain yang diam di tempat yang sama setiap hari, sama sepertinya.

"tring!" pintu otomatis berbunyi, nada yang biasanya menandai tugas berikutnya. Tapi y/n tidak langsung menoleh.

Langkah itu terdengar pelan, seperti seseorang yang datang tanpa tergesa-gesa, tapi juga tidak santai.
Langkah seseorang yang jelas datang untuk membeli sesuatu.

Ketika y/n menengok, ia melihat seorang pemuda masuk. Seorang pemuda dengan hoodie hitam, rambut sedikit berantakan, dan aura letih yang menempel halus di raut wajahnya. Tatapannya ... berhenti sejenak.
Bukan hampa. Lebih seperti seseorang yang tenggelam dalam pikiran sendiri hingga lupa memakai ekspresi apa pun.

Dari dekat, ia terlihat lebih muda daripada kesan pertamanya. Hidungnya mancung, garis rahangnya lembut, dan kulitnya terawat meski ada sisa kantuk di pelupuk matanya. Kantuk yang terasa seperti bekas malam panjang yang tak selesai, seperti seseorang yang sudah berlari jauh tapi masih harus terus berlari untuk mencapainya.

Ia berhenti di depan kasir.

"Lemonade ...," suaranya rendah, nyaris seperti gumaman. Setelah jeda, ia menambahkan, "large."

Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi. Tapi suaranya...jenis suara yang membuatmu ingin menoleh dua kali.

"Silakan tunggu sebentar." Ucap y/n, sambil mengetik pesanan.

Pemuda itu mengangguk kecil, dengan gerakan halus yang hampir tidak terlihat.

Saat menyiapkan minuman, y/n tanpa sadar mencuri pandang. Rambut pemuda itu memantulkan cahaya kuning lampu kafe, menciptakan bayangan tipis di sekitar matanya.

Ada jeda panjang antara mereka.
Jeda yang biasanya canggung antara kasir dan pelanggan asing.
Namun hari itu, jeda itu...tidak terasa kosong. Ada semacam ketenangan aneh. Seperti ketika seseorang duduk diam di sampingmu tanpa bicara apa pun, tapi entah kenapa hanya keberadaannya sudah cukup untuk membuatmu merasa tidak sepenuhnya sendirian.

Setelah gelas penuh es dan lemon, y/n menempelkan secarik nota kecil, kebiasaan kecil yang ia lakukan tanpa berpikir.

"Terima kasih, semoga harimu berjalan dengan lancar." Isi nota kecil itu.

Pemuda itu menerimanya dengan dua tangan sopan.

Ia membaca nota kecil itu.
Wajahnya tidak banyak berubah, namun ada sesuatu yang melunak di ujung matanya. Seperti embun tipis yang tiba-tiba muncul di kaca jendela.

"Terima kasih." Ucapnya, suara yang kini terdengar sedikit lebih hangat.

Hanya itu, tidak ada percakapan, tidak ada tatapan yang terlalu lama.

Ketika ia berbalik dan melangkah pergi, suara pintu berbunyi 'tring' lagi, mengembalikan sunyi ke tempatnya. Langkahnya menghilang bersama angin dingin senja, disertai aroma lemon dingin yang masih menggantung di udara.

y/n menatap punggungnya menghilang. Tidak lama, tidak sebentar. Hanya cukup untuk bertanya-tanya kenapa waktu bergerak dengan cara yang berbeda hari ini.

Di luar, kucing putih itu masih berbaring di depan kafe, seakan menyaksikan semua itu tanpa benar-benar peduli.

POV MINGRUI

Sementara itu, di arah lain, pemuda yang tadi memesan lemonade itu berjalan menyusuri gang yang penuh grafiti. Tangan kirinya menggenggam gelas lemonade yang membasahi kulitnya dengan embun dingin. Setiap langkahnya terasa ringan, seperti ia diberi jeda kecil sebelum kembali pada dunia yang menuntutnya bicara lebih keras dari hatinya sendiri.

Di dalam ranselnya, ada buku catatan kecil dengan halaman belakang yang penuh coretan: potongan dialog, nada, hingga kalimat-kalimat pendek yang ia tulis setiap kali kata-kata terasa lebih aman ditulis daripada diucapkan.

Hari-harinya terbagi antara latihan di konservatori, kelas teori yang memusingkan, dan beberapa kali audisi yang menguras energi. Ada momen ketika ia merasa suaranya bukan lagi miliknya, ketika naskah seperti berbicara dalam bahasa asing. Namun ada juga saat-saat kecil yang menjadi jangkar: sebuah komentar hangat dari dosen, sebuah tepukan tangan setelah latihan bernyanyi yang baik, atau sebuah nota kecil di gelas minumannya.

POV Y/N

Langit semakin gelap saat y/n menutup kafe. Gerakannya sudah menjadi ritual: memutar gagang pintu, menyapu lantai, menata kursi agar tidak ada yang miring. Udara malam menerobos masuk ketika ia membuka pintu.

Di luar, kucing putih itu masih bertahan di depan kafe. Kini duduk tegak dengan punggung lurus, ekor melingkar rapi, seolah ia bersiap untuk pergi dari sana dan beralih ke tempat lain.

Y/n menutup kafe, mengunci pintu. Di jalan pulang, langkahnya ringan. Udara malam menggesek wajahnya seperti sapuan kuas dingin. Pikirannya melayang ke hal-hal yang tidak penting: apakah hari ini ada anime yang seru, apakah ada lagu baru yang cocok untuk menemani malamnya. Pikiran kecil itu mengikuti langkahnya, seperti bayangan kecil yang menolak pergi.

Sesampainya di kamar indekos, ia menyalakan lampu. Cahaya kekuningan menimbulkan kehangatan di antara dinding sempit. ia menaruh tasnya, membuka kulkas kecil, mencari sisa indomie untuk makan malamnya. Saat ia merebus air, pikirannya kembali pada adegan tadi, pada jeda hening antara ia dan pemuda yang memesan lemonade, ia ingat bagaimana mata pemuda itu sedikit melunak.

Y/n bersandar di balkon kecilnya, memandang ke jalan, mendengar suara kendaraan yang lewat. Di antara suara itu, ada orang-orang singgah, memberi sedikit bagian dari hari mereka, lalu pergi. Dan pada saat-saat tertentu, kebaikan kecil yang tidak direncanakan bisa terasa seperti benang halus yang menautkan dua jiwa asing.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 01, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Pertemuan Kecil yang Tidak Direncanakan [Gou Mingrui x Reader]Stories to obsess over. Discover now