Kazuma nggak cuma punya gym biasa. Di samping gym, dia bangun sebuah café kecil yang masih satu manajemen dengan gym-nya—kayak perpanjangan tangan dari tempat latihan itu sendiri. Member gym bebas nongkrong di situ setelah workout, tapi café-nya juga tetap terbuka buat umum. Jadi walaupun branding-nya nyambung, vibe café-nya lebih santai: tempat orang istirahat, ngopi, atau work from café sambil ngeliat kaca besar ke area gym.
Café itu posisinya bukan "terpisah", tapi bagian resmi dari bisnis Kazuma, cuma fungsinya beda: gym buat keringetan, café buat napas dan ngobrol. Kazuma sengaja bikin dua space itu saling ngedukung biar member ngerasa lebih "belong".
Pagi itu aroma kopi masih ngambang tipis di udara. Putri datang lebih awal, hoodie oversized, rambut dicepol asal, tapi matanya udah tajam kayak siap perang. Kazuma yang lagi ngecek mesin espresso cuma ngelirik sebentar.
"Mulai hari ini, Putri gue tunjuk sebagai Operations Assistant," katanya ke tim. Suaranya datar, tapi potongannya mirip bilah dingin.
Beberapa karyawan langsung saling tatap.
Seseorang nyeletuk—pelan, tapi sengaja, "Cepet amat naiknya... baru juga masuk."
Putri narik napas, senyum tipis nongol. Bukan senyum manis—lebih kayak 'gue denger, tapi gue skip'.
Daisuke muncul dengan kemeja rapi sambil bawa map lamaran. "Saya dukung penuh. Putri jago kok. Jangan diremehin."
Cara dia ngomong tuh kayak berdiri di depan Putri, ngehalangin semua tatapan iri.
Tapi tetep ada yang nyeletuk, "Iya, Bu Putri pasti bisa."
Putri langsung berhenti. Badannya ngefreeze sepersekian detik. Dia balik badan pelan, kayak horror slow-mo. "Jangan panggil gue bu. Gue belum setua itu masih dua puluh dua," Nada suaranya lembut, tapi dinginnya kayak hujan salju jam tiga pagi.
Barista lain ngakak kecil, "Sensian amat. Profesional dong, Bu—eh, Kak Putri."
Putri ngangkat alis. "Jangan manggil 'kak' juga."
Dia ngeswipe tablet kerjaan santai banget, "Oke. Kamu shift cleaning dua kali hari ini. Kayaknya kamu masih banyak tenaga buat bercanda."
Baristanya manyun. "Serius?"
"Serius. Tulis di SOP: kurang ajar = kerja ekstra," Jawab Putri sok tegas.
Kazuma tiba-tiba nyeletuk sambil nunjuk Daisuke, "Bentar. Lo ngapain di sini?" Jarinya hampir nusuk mata Daisuke.
"Saya direkomendasiin Pak Sion buat kerja di sini, Pak," jawab Daisuke sopan.
"Mana boleh. Lo tuh modus deketin Putri!" Kazuma udah sotoy duluan.
"Enggak, Pak. Saya cuma mau kerja," Daisuke geleng cepet, hampir kayak please percaya lah pak.
"Udah, gak usah childish. Gue yang ngatur dia, oke?" Putri kedip ke Kazuma—usaha ngeredain situasi.
Kazuma mau nyeplos, "Biar lo selingk—" tapi langsung berhenti karena Putri melotot.
Dia nurunin suara, bisik, "Kasih tugas yang berat."
Putri nyengir, "Oke. Dai, lo langsung keterima."
"Hah?! Gak interview?" Daisuke langsung sumringah.
"Ya, tapi harus ikut aturan gue," Putri jawab sok tegas.
Kazuma cuma angguk kecil dari belakang, kayak good, she's not soft.
Tapi belum lima menit, ada karyawan cewek yang nyeletuk sinis sambil nyusun roti, "Manager baru, kelakuan anak TK."
Putri berhenti. Tangannya masih nahan apron yang belum dipake. "Gue gak minta lo hormat sama gue. Gue cuma minta lo profesional."
Cewek itu langsung bungkam.
Daisuke melirik, impressed. Anjir galak juga.
YOU ARE READING
TᗩᗰEᗪ (ᗴNᗪ)
RomancePutri nggak pernah nyangka hatinya bisa tersangkut sama Kazuma-teman abangnya yang terkenal dingin dan menakutkan, pemimpin komunitas gelap keluarga mereka. Dia pikir cinta datang dari dirinya sendiri, rasa yang nggak bisa dia jelasin, tapi kenyata...
