A: Mimpi Buruk

8 1 0
                                        

Musim dingin sedang memasuki puncaknya bulan itu

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Musim dingin sedang memasuki puncaknya bulan itu. Seorang lelaki berjaket tebal hampir membeku sebab berada di luar semenjak satu jam yang lalu. Yang membuat kakinya masih mampu berdiri tegak tidak lain adalah pemandangan tidak jauh di hadapannya. Sebuah rumah kecil, cerobong asapnya menguap.

Meski dengan pandangan terbatas karena angin bersalju, ia bisa melihat sisi pekarangan rumah itu asri. Seolah pemiliknya menanam banyak cinta disana.

Lelaki itu akhirnya beranjak, ia putuskan untuk mengetuk pintu yang telah berminggu-minggu hanya ia pandangi dari jauh.

Tok, tok, tok.

Ketukan pertama, tidak ada yang merespon.

Tok, tok, tok.

Mulai terdengar suara langkah yang berlari di lantai kayu. Jadi lelaki itu menunggu.

Gagang pintu terbuka. Seorang anak laki-laki hendak keluar, terlihat akan menyambut siapapun yang sedang ditunggunya namun spontan urung saat melihat kehadiran sang lelaki dewasa. Anak itu langsung mundur, hanya melongokkan kepala. "Siapa? Ibu tidak ada di rumah." Anak kecil itu berbicara dalam bahasa Itali dengan nada yang ketus. Lalu dengan kasar ia membanting pintu.

Namun kaki orang dewasa itu lebih dulu menahan pintu sebelum benar-benar tertutup.

"Bukankah ini rumah Nyoya Nayaka?" tanyanya tidak kalah fasih.

Anak kecil itu sejenak terperangah. Namun tidak lama wajah ketusnya kembali.

"Ya! Ibuku tidak ada!" Akhirnya ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam, meninggalkan sosok dewasa itu tidak kalah terperangah.

Lelaki itu menghela napas, melihat-lihat ke jalanan barangkali sosok yang dicarinya tiba. Tahu-tahu anak kecil itu keluar lagi. Anehnya kali ini dengan pakaian berbeda.

"Tuan siapa?" nadanya sopan dan lembut.

Lelaki dewasa itu menoleh. Bukan hanya warna bajunya, sesuatu dalam diri anak itu seolah berbeda dari yang ia temui sebelumnya.

"Tuan tidak usah bingung. Aku adiknya. Kami kembar. Aku meminta maaf atas sikapnya, memang tidak sopan."

Seolah perkataan anak itu memiliki daya tarik, lelaki dewasa itu memutuskan berlutut di ubin untuk mensejajarkan tubuh mereka, agar bisa mendengarkan lebih baik.

"Kamu ayahku? Ibuku selalu menyimpan fotomu di laci kamarnya."

Saat lelaki itu hendak menanggapi, suara seorang perempuan memanggil dengan keras dari kejauhan.

"Bas!"

Mahesa terbangun dari tidur. Mimpi itu datang lagi, seolah tidak ada habisnya masa lalu itu terus menghantui dirinya.

Akhirnya Mahesa beranjak, sore ini ia ada jadwal latihan di Artha. Adiknya, Baskara, telah menyelesaikan sesi latihan di pagi hari karena secara khusus ia meminta untuk mengosongkan jadwal di sepanjang sore. Entah apa yang dilakukannya di waktu itu. Ada sebuah rahasia yang disembunyikannya dari seluruh orang rumah—bahkan dari Mahesa, kembarannya.

Alpha-BetaStories to obsess over. Discover now