Gedung Fakultas Arsitektur Universitas Baskara sudah tua, sangat tua. Bahkan lampunya terasa mengeluarkan cahaya yang lelah. Pukul 22.30 WIB, hanya ada satu orang yang tersisa di seluruh gedung
Petra, mahasiswi tingkat akhir dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya, menekuri masterpiece-nya di Ruang Gambar 304. Ruangan itu adalah ruang drafting terluas, tetapi paling jarang digunakan karena terletak di sayap gedung yang dingin dan lembap. Kabar burung mengatakan bahwa di sanalah seorang mahasiswi bunuh diri puluhan tahun lalu, frustrasi karena desain maketnya hancur.
“Satu jam lagi, Petra. Hanya satu jam,” gumam Petra pada dirinya sendiri, menyuntikkan semangat buatan. Jari-jarinya dengan hati-hati menempelkan detail miniatur atap.
Keheningan malam kampus terasa mematikan, hanya dipecahkan oleh suara kipas angin tua yang berputar pelan dan desis lem perekat di ujung jarinya.
Tiba-tiba, suara gesekan keras memecah keheningan. Krrk!
Petra tersentak, menjatuhkan pinsetnya. Suara itu datang dari sudut terjauh ruangan, tempat tumpukan kursi kayu yang jarang dijamah. Angin, pikir Petra, mencoba meyakinkan diri. Pasti hanya angin yang menggeser kursi.
Namun, tidak ada angin malam ini. Dan bau aneh mulai menyebar. Bau besi, tajam dan anyir, seperti darah segar yang baru tumpah di lantai keramik.
Petra menarik napas dalam-dalam, menahan mual. Ia memutuskan untuk mengabaikannya dan kembali ke maket. Saat ia menoleh ke papan gambarnya, retina matanya menangkap sesuatu.
Bayangan hitam pekat.
Bayangan itu tinggi, kaku, dan berdiri diam, tepat di belakang papan gambarnya. Jantung Petra melompat ke tenggorokannya. Ia menahan napas, menoleh perlahan.
Di sana. Sosok itu ada.
Itu adalah sesosok wanita. Gaunnya lusuh, model rok lipit era lama, dipadukan kemeja putih yang kini berwarna kusam. Ia tidak bergerak. Tubuhnya miring sedikit, seolah sedang mengamati maket Petra.
“Ma-maaf?” Suara Petra bergetar hebat. Ia yakin tidak ada orang lain di sini.
Sosok itu akhirnya bergerak. Sangat perlahan.
Dan kemudian Petra melihatnya: Wajah. Atau lebih tepatnya, ketiadaan wajah.
Di tempat seharusnya ada mata, hidung, dan mulut, hanya ada cekungan kulit rata, pucat, seolah wajah itu telah dipotong dan dilekatkan kembali, dengan kulit tertarik kencang. Dari lekukan lehernya hingga ke dada, darah hitam kental mengalir tanpa henti, menetes ke bahunya, membasahi kemeja yang tadinya putih.
Hantu Tanpa Wajah. Cerita seram itu nyata.
Petra tak bisa bergerak. Ia lumpuh oleh teror dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubun. Hantu itu mengangkat tangan kanannya. Jari-jari kurus, panjang, dan kaku seperti ranting kering, kini perlahan maju, mengarah tepat ke maket Petra yang hampir sempurna.
“Jangan!” teriak Petra, sekuat tenaga ia mendorong kursi kerjanya ke belakang, memutus kebekuan di kakinya.
Terlambat. Ujung jari kaku itu menyentuh menara miniatur. Hanya dengan sentuhan lembut, menara arsitektur yang sudah ia kerjakan selama dua minggu itu remuk, luntur, dan hancur menjadi tumpukan gabus yang basah oleh cairan hitam dari tangan hantu.
Petra menjerit keras, mengambil tas ranselnya, dan berlari menuju pintu. Ia menarik kenop besi dengan panik. Terkunci.
Ketika Petra menoleh ke belakang, Hantu Tanpa Wajah sudah tidak berada di samping meja. Sosok itu sudah berdiri di depannya, hanya dua langkah.
Bau anyir darah kini menusuk, dan Petra mendengar bisikan. Suara itu bukan berasal dari mulut, melainkan dari udara di sekitarnya, samar, berdesir, penuh kesedihan dan dendam.
“Kau tidak boleh... kau tidak boleh menyelesaikannya...”
“Tinggal di sini... temani aku... Kita akan gagal bersama...”
Petra merasakan rasa dingin ekstrem menusuk kulitnya. Ia tahu hantu itu ingin dirinya menyerah, frustrasi, dan berakhir sama tragisnya di ruangan terkutuk ini.
Ia tidak menyerah.
Dengan mata terpejam, Petra menabrakkan dirinya ke samping, berusaha melewati hantu itu. Ia jatuh tersungkur di lantai. Saat ia mendongak, hantu itu hanya menoleh ke arahnya, kepalanya miring aneh, dan darah hitam di lehernya kini mengalir lebih deras.
Petra merangkak menuju jendela yang hanya bisa dibuka sedikit. Ia memasukkan tangannya ke dalam tas, meraba-raba mencari ponsel, berharap sinyal sekecil apa pun bisa memanggil bantuan, atau setidaknya menyalakan senter.
Ketika ia berhasil menyalakan lampu kilat, Petra mengarahkan cahayanya ke wajah hantu itu. Cahaya putih terang itu langsung menghantam area tanpa wajah yang berdarah.
Hantu itu mengeluarkan suara gemuruh yang bukan jeritan, melainkan suara rintihan patah hati yang tak tertahankan. Sosok itu mundur sejenak, terhuyung-huyung.
Itu adalah kesempatan Petra. Ia langsung menendang kursi di dekatnya, menyebabkan suara berisik yang memekakkan telinga di ruang yang sunyi.
“Aku tidak akan tinggal! Aku tidak akan gagal!” teriak Petra putus asa, entah kepada hantu itu atau dirinya sendiri.
Bunyi keras kursi itu tampaknya mengganggu fokus entitas tersebut. Hantu itu kini mengayunkan tangannya, seolah ingin meraih ke dalam kepala Petra dan menghisap jiwanya.
Tiba-tiba, terdengar bunyi “Klak!” dari pintu masuk Ruang 304. Kenop besi yang terkunci kini berputar.
Fajar telah menyingsing. Penjaga malam telah tiba untuk membuka kunci gedung.
Saat cahaya pagi pertama menyelinap masuk melalui celah pintu yang terbuka, Petra melihat Hantu Tanpa Wajah itu perlahan menyusut, cairan darah hitamnya menguap menjadi asap dingin, dan sosoknya menghilang ke dalam bayangan di bawah meja.
Petra terengah-engah. Ia melompat, berlari melewati pintu yang terbuka, nyaris menabrak penjaga malam yang bingung.
“Ada apa, Nona Petra? Kenapa basah dan kotor?” tanya penjaga itu, menunjuk ke rok Petra.
Petra menunduk. Di roknya, ada beberapa bercak cairan hitam kental yang kini mulai mengering dan berbau amis. Bukan hanya basah, ia juga merasakan dingin yang menusuk.
Ia tidak menjawab. Petra hanya berlari, meninggalkan maket yang hancur, meninggalkan Ruang 304 yang kembali sunyi.
Ketika matahari telah meninggi, Petra duduk di kantin, gemetar memegang cangkir kopi. Ia gagal menyelesaikan tugasnya, dan maketnya hancur. Ia tahu dosennya akan marah.
Tapi, saat ia menoleh ke jendela, Petra melihat bayangan dirinya terpantul di kaca. Dan di pundaknya, ia melihat sehelai kain putih lusuh yang tertinggal. Kain yang sudah kering dan kaku... diwarnai dengan bercak darah hitam legam.
Ia berhasil melarikan diri, tetapi ia membawa pulang bukti dari teror yang nyaris merenggut jiwanya. Dan ia tahu, suatu saat nanti, Hantu Tanpa Wajah itu pasti akan datang lagi untuk tugasnya yang belum selesai.
YOU ARE READING
TANPA WAJAH DI RUANG 304
HorrorGedung Fakultas Arsitektur, Kampus Universitas Baskara. Khususnya, Ruang Gambar 304-ruangan yang terkenal angker dan sudah lama tidak digunakan, namun dibuka kembali untuk mahasiswa yang mengejar tenggat waktu. Mahasiswi arsitektur, Petra, dikenal...
