#horor

8 1 0
                                        

Bagaimana, mau berjalan denganku? Genggam tanganku erat, jangan lepaskan. Kita akan memasuki rumah tua di depan sana. Rumah yang menjadi tempat bersemayamnya banyak hal tentang diriku. Jangan takut. Aku akan mengungkapnya, menunjukkan semuanya padamu

Rumah itu tampak pengap, gelap, temaram, penuh lumut dan serangga menjijikkan. Tak terawat.

Kayu berderit di setiap langkah kita, baru berjalan beberapa langkah gema suara rintihan menyebar dari tiap sudut-sudut rumah menyambut kita berdua. Kau tercekat, menatapku dengan mata membulat. Aku hanya tersenyum.

Seketika pandanganmu terpaku pada sebuah ruangan di ujung sana. Bau anyir menyeruak, menyambutmu begitu kita melangkah masuk. Di sana, seorang wanita merintih. Darah berceceran di mana-mana. Wajahnya terkoyak, kulitnya penuh bekas cambukan. Matanya merah menyala, menatap kita tajam.

Hanya kasur rusak nan peyot, lentera yang menyala redup di pojok ruangan sana dengan sebuah meja yang menyangganya menghiasi ruangan, menemani wanita malang ini

Kau menutup telinga, tak tahan mendengar rintihannya. Seakan-akan rintihan itu merasuk ke jiwamu. Kau memelukku, mengerang ketakutan. "Kita keluar dari sini!" kau memohon. Aku mengangguk.

Begitu tiba di aula, kau melihat wanita yang tengah tergantung, kedua lengannya terbentang dengan indah seperti Yesus yang tersalib, di antara dua buah tiang penyangga. Aku terpanah melihatnya, kau berteriak histeris

Dengan sosok iblis bertanduk runcing, dan kuku kukunya yang panjang nan hitam berdiri di bawah mayat wanita yang tersalib itu.

Di sekitar iblis itu terdapat sisa sisa potongan kulit dari mayat wanita itu, berserta beberapa guci antik yang berisi darah

Aku yakin pastilah darah itu milik sang mayat, wanita yang malang. Kau terus saja menggerutu, mendekapkku semakin erat tak tahan dengan apa yang kau saksikan sekarang

Tapi hey, bisakah kau diam?!

Sang iblis beringas mensalib mayat wanita malang itu, memajangnya bak hasil ritual sekaligus karyanya, (ia poles dan ia pahat dengan indah tentunya) seakan akan ingin menunjukkan karyanya yang indah itu pada orang lain yang berani memasuki rumah tua ini

Sang iblis meminum tiap tetes darah dari mayat wanita itu. Jatuh ke mulutnya, lidahnya yang panjang nan hitam legam itu selalu menengadah, menjulur. Lalu mendesah puas, menikmati tiap tetes darah yang jatuh mengenai lidahnya itu

Lilin lilin menyala redup, bersama kelopak bunga mawar mengelilingi sang mayat, di tata sedemikian indah oleh sang iblis di bawah jari jemari kakinya. Kau semakin kelabakan, ketakutan

Aku menepuk bahumu, tersenyum tipis. "Jadi, kau masih berani melangkahkan kaki ke sini?"

Hawa semakin lembab dan panas. Kau mengeluh, keringat bercucuran. Tapi aku hanya tersenyum. Rumah ini, mayat itu, iblis itu semua adalah bagian dari kengerian yang ingin kau hadapi dan kau masih di sini, bersamaku.

Rumah ini adalah tempat ku bersemayam. Jadi, apakah kau memilih pergi? Atau tetap tinggal?

Kau berhak memilih, aku senang kau mau berkunjung ke sini untuk menyapa bagian tergelap dari dalam jiwaku

Jadi, bagaimana keputusanmu? Jika kau mengajakku untuk lari bersamamu, sudahh di pastikan tubuhku lah yang akan di gantung oleh iblis itu bukan jiwaku lagi, dan ragaku tidak akan pernah kau sentuh lagi, tak akan pernah menyapamu lagi. Kau juga mungkin akan terperangkap lebih buruk dariku

Rumah tua reyot ini telah mengurungku, membungkam ku dengan iblis yang telah menggerogoti diriku, merasuk ke dalam setiap atom dan hembusan napasku

Jangan kecewa, jangan marah. Kau boleh pergi meninggalkan ku dengan hati yang hancur berkeping keping

Tapi setidaknya, kau lah yang membuatku percaya, satu satunya orang yang ku tuntun untuk bertamasya menyapa jiwaku

Aku tidak akan memaksamu untuk tinggal, pergilah sejauh yang kau bisa, aku lebih senang jika kau pergi mengunjungi jiwa orang lain yang bisa membuatmu tenang, membuatmu bertahan untuk singgah. Bukan jiwa sepertiku

Jadi bagaimana, mau mengambil resiko?

Tapi hey, terimakasih telah berkunjung, terimakasih banyak telah sudi menyapaku sampai sedalam ini dan meninggalkan jejakmu di rumah ini.

Aku akan selalu mengingat jejak, aroma, dan setiap kenangan yang kau bawa masuk ke rumah ini. Itu akan selalu hadir berputar di kepalaku. Bahkan menambah aroma tempat bersemayamnya jiwaku ini.

Sampai jumpa di lain kesempatan jika kau berkenan kembali

#horor Where stories live. Discover now