Sion sibuk membaca dan menghafalkan materi-materi di dalam kepalanya sementara di sebelah ranjang Sion ada teman sekamarnya, Wonbin, sedang tertawa dan bersantai-santai dengan Anton di sudut ruangan. Mereka tampak menikmati waktu mereka, seolah-olah tekanan kuliah kedokteran tidak terlalu menjadi beban pikiran buat mereka.
Wonbin dan Anton memang berasal dari keluarga berada. Mereka punya cara sendiri dalam menjalani kuliah dengan cara yang 'ringan' buat mereka. Ada mata kuliah yang bisa mereka lalui dengan bantuan koneksi atau kemampuan finansial yang mereka miliki, mereka tidak ragu-ragu untuk melakukannya.
Sion bukannya orang yang kekurangan, dia mampu-mampu saja kalau harus melakukan hal yang sama seperti kedua sahabatnya ini. Tapi yang membawanya ke fakultas ini karena dia ingin bersungguh-sungguh. Agar suatu hari bisa menyembuhkan, menolong dan menjadi harapan untuk orang-orang yang seperti mendiang saudara parempuannya yang meninggal karena sakit kanker. Seharusnya dia masih bisa hidup lebih lama, tapi takdir berkata lain. Kakaknya terlambat mendapatkan bantuan medis karena terlalu lama menahan dan mengabaikan keluhan yang sebenarnya sudah lama ia rasakan.
Sion sudah hampir menyelesaikan bacaannya ketika Anton mencolek punggungnya.
"Belajar terus, kapan kamu mencari kekasih, Sion?"
"Aku kesini untuk belajar, bukan untuk tebar pesona seperti kalian." Ucapnya datar tanpa ekspresi, sambil terus sibuk menandai dan menggaris bawahi kalimat-kalimat di atas kertas yang dibacanya.
Wonbin dan Anton saling memandang lalu tertawa kering.
"Kamu ini benar-benar... Selalu bersikap seperti itu kalau sudah menyangkut gadis dan asmara."
"Lebih baik kalian belajar untuk besok, teman-teman." Tegur Sion.
"Alaaa, membicarakan makhluk berwajah manis lebih menyenangkan! Sion, sini dulu!" Anton merebut kertas yang dibacanya.
Sion memberinya tatapan protes.
"Kalian sekali-kali jangan bicara perkara perempuan terus bisa tidak?"
"No-no-no, kali ini berbeda. Ayolah, lima belas menit deh. Dengar dulu."
Sion memandang kedua temannya itu. Lalu menghembuskan nafas pasrah, "baik, lima menit."
Anton menyeringai senang. Dia memperbaiki posisi duduknya sebelum membuka mulut.
"Hey, jadi aku kenal lelaki ini, dari fakultas ekonomi tingkat empat, pokoknya seangkatan dengan kita." Kata Anton dengan antusias, "man... dia itu... lebih manis dari gadis manapun yang pernah kamu kenal, Sion."
Sion mengibas-ngibas tangannya menyuruh Anton berhenti bicara.
"Cukup! Aku sudah tidak ingin dengar lagi." Dia kembali menghadap meja di depannya.
"Dengar dulu! Belum juga satu menit!" Teriak Anton.
"Tidak penting, satu menit terbuang sia-sia mendengar omong kosongmu."
Dan kenapa pula harus seorang lelaki? Apa Anton sudah tidak tertarik pada payudara yang besar lagi? Dia mulai ikut-ikutan seperti Wonbin, temannya yang satu lagi itu, yang mengencani semua gender tanpa pandang bulu.
Park Wonbin itu... mukanya sangat cantik, suaranya pun lembut, seakan semua hal di dirinya memang diciptakan untuk memikat siapa saja. Tidak heran kalau lelaki maupun perempuan sama-sama berebutan mendekatinya. Tapi memang, adakah yang bisa secantik Wonbin teman sekamar Sion itu di kampus mereka? Dengan wajah serupa anime, hidung mancung, kulitnya yang bersih dan bibir halus merah jambu, serta sorot matanya yang membuat siapapun mudah jatuh hati, Wonbin tampak seperti definisi nyata dari 'cantik' dalam wujud seorang cowok.
YOU ARE READING
our tomorrow
Fanfiction"what if tomorrow never comes?" di dunia yang bisa merenggut waktu, hanya cinta Riku yang tetap abadi. . . . ⚠️❗️MAJOR CHARACTER DEATH❗️⚠️
