Bagian 1

184 27 1
                                        


Haechan dikenal sebagai pencuri paling handal di seluruh kota. Dalam dunia kejahatan, namanya dikenal seperti bayangan yang sulit dilacak, hantu yang tidak pernah tertangkap. Ia sudah mencatat rekor seratus kali pencurian tanpa pernah sekali pun terendus oleh pihak berwenang. Bagi Haechan, mencuri bukan sekadar hobi atau pekerjaan, melainkan seni. Ia mencuri dengan elegan, meninggalkan teka-teki, dan tak ada satu pun kamera keamanan yang mampu merekam wajahnya dengan jelas.

Kecerdikan dan kemampuan bertarungnya membuatnya seolah mustahil dikalahkan. Tubuhnya lentur seperti kucing, otaknya tajam seperti pisau, dan setiap langkahnya selalu terencana. Namun di balik reputasi itu, Haechan menyimpan sisi lain ia pecandu game. Di balik layar komputer, pencuri legendaris itu berubah menjadi gamer fanatik yang bisa bermain selama berhari-hari tanpa henti.

Suatu hari, sebuah game baru menarik perhatiannya. Game itu disebut *“Elyndra”* sebuah dunia digital tempat pemain dapat menciptakan karakter sesuai keinginannya. Yang membuatnya istimewa, game ini menggunakan sistem realitas buatan yang mampu menyesuaikan bentuk karakter berdasarkan kepribadian sang pemain.

Tertarik, Haechan membuat karakternya sendiri. Ia menamainya sama seperti dirinya Haechan. Namun bukan sebagai pencuri. Dalam game ini, ia menciptakan sosok yang jauh lebih hebat Dewa Perang, penguasa sebelas elemen dan pemimpin sebelas kesatria pelindung.

Masing-masing kesatria memiliki cincin   di jari telunjuk mereka, lambang kesetiaan abadi kepada sang Dewa Perang. Sedangkan Haechan sang dewa memiliki cincin yang sedikit berbeda. Di tengahnya, terukir batu permata hitam berbentuk bunga,melambangkan kekuatan absolut dan penguasaan atas kehidupan serta kematian.

 Di tengahnya, terukir batu permata hitam berbentuk bunga,melambangkan kekuatan absolut dan penguasaan atas kehidupan serta kematian

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Di dunia game itu, Haechan adalah makhluk tak terkalahkan. Ia bisa mengendalikan api, air, udara, tanah, cahaya, kegelapan, petir, es, logam, jiwa, dan waktu. Ia menjelajahi dunia, menantang dewa jahat, dan menaklukkan setiap pertempuran dengan strategi sempurna. Dua minggu tanpa tidur, tanpa istirahat, ia menuntaskan seluruh alur permainan hingga akhir.

Saat menatap layar kemenangan, Haechan tersenyum puas. “Selesai juga,” gumamnya sebelum menekan tombol *logout.*

Ia tak tahu, bahwa malam itu akan menjadi awal dari sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.

---

Dua bulan berlalu. Hidupnya kembali seperti biasa pencuri di malam hari, gamer di siang hari. Sampai suatu sore, temannya, Jaemin, datang dengan wajah terkejut.

“Chan! Kau nggak akan percaya ini,” katanya sambil membuka ponsel dan menunjukkan foto dari berita. “Cincin yang sama seperti di game *Elyndra* dipamerkan di museum nasional! Lihat, bentuknya sama persis seperti cincin milik Dewa Perang!”

Haechan menatap layar itu tanpa berkedip. Cincin perak dengan batu merah menyala di tengahnya. Pola naga. Ukiran halus di sisinya. Mustahil… tapi bentuknya benar-benar identik dengan cincin yang ia ciptakan di dalam game.

ElyndraWhere stories live. Discover now