Sabtu, 8 November 2025
Aku duduk di depan jendela, menatap air hujan yang berjatuhan, sama seperti hari itu. Sesekali aku menopang dagu, mencoba memikirkan kalimat-kalimat yang akan kubuat kali ini. Kepalaku kembali memutar hal-hal yang telah lalu, mengingat apa yang sebelumnya terjadi.
Dalam hening, aku terus mencoba merangkai kata. Perasaan hangat mulai memenuhi hatiku, lalu terasa sedikit perih. Sesekali aku tertawa dan tersenyum, kemudian tiba-tiba terdiam, menggigit bibir, dan tersenyum getir. Namun aku tahu, aku tak apa-apa. Aku pasti baik-baik saja.
Aku membaringkan diri di kasur, menatap langit-langit kamar. Aku menarik napasku dalam-dalam. Aku ingin menyelesaikan sesuatu yang sebenarnya tak pernah dimulai. Aku ingin selesai. Aku ingin beranjak dari tempat di mana aku hanya diam, tak bergerak. Aku ingin melangkah, menyudahi sesak yang lama memenuhi dadaku. Kurasa, ini sudah cukup bagiku.
Setelah cukup lama berpikir sembari berbaring, aku bangun. Kuraih pulpen dan buku yang tergeletak, bersiap menulis lebih banyak. Hujan semakin deras sementara aku semakin larut dalam tulisan dari tinta yang ku goreskan. Jadi, mari kita ingat kembali semua yang terjadi pada hari itu. Kita urai satu per satu sebelum semuanya hilang, melebur dalam kesunyian. Jika kamu membacanya, mungkin kamu akan bertanya-tanya mengapa aku menulis buku ini. Aku harap kamu membacanya dengan saksama sebelum aku menyampaikan alasanku.
Semoga kamu menikmati karyaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan
RomansaAku ingin mengakhiri sesuatu seolah aku pernah memulainya. Aku ingin berhenti seolah aku pernah melaju. Aku ingin berhenti bodoh seolah aku pernah pintar. Aku ingin merasa lega, sebelum aku terlupa.....
