Bab 1 || She's-

11 1 0
                                        

PoV Almo

Aku bergegas mengenakan mantel keluar ke cuaca dingin sambil mengutuk alam sesekali, kunyalakan mesin motor yang mulai menderu, untuk dipanaskan sebentar sebelum menarik gas.

Rutinitas senin soreku: menyambangi satu jalur kota kala langit berubah warna menjadi jingga. Jalan ramai ditemani semilir angin yang membawa udara beku, tapi roda terus melaju tanpa mencari hangat tak perlu, sampai aku berhenti di parkiran belakang kafe. Setelah berputar menuju pintu depan, aku menengok ke arah toko bunga di seberang jalan. Lampu depan menyala benderang, beberapa bunga sudah dimasukkan ke dalam.

Sesaat, aku hanya diam. Melongok lebih dekat, terpesona seolah lampu menyorot pada satu orang.

Lalu, bergegas menyebrang, menghampiri gadis berambut kelabu yang masih mengenakan apron kuning noraknya. Yah, bukan berarti aku tahu soal fashion tapi warnanya cerah sekali. Kutepuk pelan pundaknya sehingga gadis itu berjengit, berbalik untuk memandangku tajam dengan manik biru yang indah.

"Hai," sapaku.

Dia masih memandangku. Matanya terkesan tak awas sekian detik, lalu anggukan dan dengkusan kuterima sebagai balasan.

"Lagi apa? Tumben kemari."

Gadis itu bilang 'tumben' seolah aku alien yang muncul hanya ketika gerhana bulan tiba. Aku terkekeh. Menggelengkan kepala mendengar itu. "Enggak, cuma ... kangen aja sih, Rai."

Riley tidak mengindahkan pengakuanku. Memang hal biasa menghadapi sikapnya yang dingin, tapi dia tidak begini sebelumnya. Berani sumpah, Riley yang acuh tak acuh itu dulu di SMA malah suka banget nyerocos, bahkan menurutku dia manusia paling cerewet di muka bumi. Anehnya, dia begitu cuma sama aku, Almo, temannya dari SD.

Kenapa dia berubah? Kalau itu ....

"Makan?" Tiba-tiba pertanyaan lolos dari gurat dingin Riley. "Tapi, biasanya kamu makan di kafe ya kalau sore begini."

Aku buru-buru menggelengkan kepala. "Kata siapa?" Berdehem untuk menyembunyikan tipu muslihat.

Dia tidak menatapku, dan sok sibuk mengurusi bunga-bunga di dalam vas. Menata mereka dengan asal. "Kata pacarmu," gumamnya, datar tapi jarinya gemetar.

Aku membolakan mata lantas menyeka keringat di pipi, lalu membalas usil. "Pacarku juga bilang kalo aku mau ngajak kamu makan ga, Rai?"

Senyum merekah tipis di garis bibirnya, kekehan mengudara berkitar ke telingaku. Aku terenyuh mendapati semburat merah di pipi tirus itu, seakan kami dibawa kembali ke masa lalu. Iya, masa itu. Sebelum semuanya hancur.

Jadi, barangkali semisal hidupnya adalah sebuah cerita, tolonglah scene manis begini jadi epilog. Jangan masukkan konflik-konflik berat. Kumohon, hapuskan semua peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa orang tersayangnya.

Kuperhatikan Riley sejenak. Ada detak yang berhenti satu kali, kemudian deham setelah berdoa dalam hati.

"Udah, makan sana!" usirnya dengan tega, mengayunkan tangan menyuruhku menjauh.

Tangan terayun menggenggam pergelangan Riley, aku gelagapan oleh tingkah sendiri. Tapi, ada rasa awas yang hadir tiba-tiba. "Mau pulang kan, kamu, Rai?" Entah kenapa peganganku makin erat. "Aku antar, ya."

Dia tidak tahu aku baru sampai ini.

"Ngapain ...," Riley menolak, menepis tanganku dari pergelangannya.

Setelah dia hilang dibalik pintu, aku menegakkan tubuh. Memperhatikan cahaya yang mulai hilang di dalam toko lalu berniat beranjak pergi untuk makan. Ketika sampai di kafe, kuambil menu dan memandangi sekitar, berpikir soal campuran makanan yang akan masuk ke mulutku nanti.

The Go, Go BackCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang