"kisah tentang reinkarnasi dari 1000 tahun silam. Isaac dengan nama lengkap Miguel Damian Isaac, ia sosok pemuda tuna netra yang lahir di keluarga kerajaan. Seorang pangeran yang seharusnya mendapat gelar sebagai putra mahkota namun, dengan kondisinya yang sangat tidak memungkinkan, posisi itu telah tergantikan"
"sang Baginda raja memberikan gelar putra mahkota nya kepada Arshaka Izz Malviano putra dari salah satu selir raja "
"Isaac dengan senang hati menerima. Dengan begitu pemuda itu tak harus mengemban beban berat untuk kedepannya, pikir sang pemuda itu. Isaac menghabiskan hidupnya di istana khusus di buat untuk dirinya, tempat nya detak jauh dari kerajaan utama "
" istana itu tak terlalu besar namun di kelilingi taman yang begitu luas dan indah "
" sehari hari pangeran Isaac hanya akan duduk di taman meskipun kedua matanya tidak dapat untuk melihat keindahan bunga, namun bagi nya tempat itu begitu nyamanan dan menenangkan ".
"Kian Savva Haidar anak dari pelayan kerajaan di tugaskan langsung oleh sang Baginda raja untuk menemani dan mengawal sang pangeran Isaac "
" Kian adalah sosok pemuda yang lembut dan penyayang, setiap hari Kian akan menemani pangeran Isaac di taman, kian membantu mengenalkan berbagai jenis bunga yang ada di taman ".
hufft...
hembusan nafas yang begitu berat terdengar dari mulut pemuda berparas cantik bernama Nathan Charles.
kedua tangannya menutup kembali buku bersampul kan warna hitam berjudul Isaacan.
"Nat, kenapa berhenti baca?"
pemuda tampan itu yang awalnya berbaring di pangkuan Nathan membuka kedua matanya, menatap lekat wajah cantik dari sahabatnya, lalu beranjak duduk.
"jen..." lirih pemuda cantik itu.
Jenson berdeham
Jenson Georgi nama lengkap pria tampan yang kini terus menatap wajah Nathan.
"Jenson aku sudah membacakan buku ini untuk mu hampir setiap hari, aku bosan .kamu baca sendiri saja" eluh pemuda cantik itu lalu memberikan buku nya kepada Jenson dengan wajah kesal .
"tapi nat, gue suka cerita itu kalo lo yg bacain"
Nathan mendengus kesal, pemuda itu memilih untuk beranjak berdiri dan meninggalkan sahabatnya yang kini tengah tersenyum puas karena sudah berhasil membuat sahabat cantiknya itu merasa kesal.
"nat tunggu !" teriak Jenson, pemuda itu lupa bahwa dirinya kini tengah berada di perpustakaan, alhasil pemuda itu mendapat tatapan tajam dari orang orang.
***
"Nathan, tunggu !" Jenson berlari kecil mengejar Nathan yang mulai menjauh, pemuda itu terus berjalan dan mengabaikan panggilan dari Jenson.
Nathan hendak menyebrang jalan namun pemuda itu tak melihat jika lampu lalulintas sudah berganti warna kuning.
"Nathan awas!"
tiinnn.... tiinnn...
Jenson berlari cepat dan segera menarik tangan sahabatnya itu. mereka terjatuh namun keduanya selamat, Nathan meringis kesakitan tak kala merasakan tangannya yg lecet akibat benturan yg keras ke jalan.
"lo gapapa kan?" tanya Jenson begitu kawatir dengan keadaan sahabat nya itu.
Nathan menggeleng "tapi ini sakit" ujarnya sambil mengulurkan kan tangan kanannya yang berdarah.
"makanya kalo mau nyebrang liat sekitar! tadi kalo ga ada yang liat gimana nasib lo hah!" Jenson berdiri dengan kesal pemuda itu tetap membantu sahabatnya untuk berdiri .
"ko yakin gapapa? keliatannya lo tadi bengong pas mau nyebrang, mikirin apa lagi ? bokap lo yang ga jelas itu!"
kesabaran Jenson hampir saja habis, ingin sekali rasanya memaki terus pemuda di hadapannya itu.
sedangkan Nathan, pemuda itu hanya diam sambil menatap tangannya yang mulai mengeluarkan cairan merah.
"nat, ck. ayo ke klinik kampus" Jenson menarik lengan Nathan yang satunya .
tak lama kedua pemuda itu sampai di klinik, perawat yg mengobati sedang tidak ada, dokter pun tak ada, ruang klinik itu terasa begitu sunyi , namun salah satu tempat istirahat tirai nya tertutup, Jenson membawa Nathan untuk duduk di atas kasur sebelahnya .
" tunggu sini, gue ambilin obatnya dulu"
Nathan mengangguk, lalu menatap kasur di sebelahnya yg tertutup itu, rasa penasaran mulai menyelimuti pikiran pemuda itu, ingin sekali mengintip siapa orang yang tengah berada di sana .
namun pikiran itu segera hilang setelah Jenson kembali dan membawakan kotak p3k .
"jen"
" hmm.."
" itu siapa yah yang di dalam ?"
" entah. mana tangan lo"
Nathan mengulurkan tangannya yang terluka pada Jenson, pemuda itu pun segera mengobati luka nya dan membalut nya dengan kain kasa .
" selesai" ucapnya pada Nathan, Jenson kembali merapikan kotak p3k tersebut dan mengembalikan nya ke tempat semula .
" lo istirahat di sini dulu, gue masih ada satu kelas lagi, nanti pulang bareng gue "
"tapi Jen, aku juga masih ada kelas, kita kan satu jurusan"
"dengan tangan lo yg terluka? istirahat aja biar nanti gue yg minta ijin buat lo" Jenson berjalan keluar.
Nathan membaringkan tubuhnya di atas ranjang, pemuda itu terdiam sambil menatap langit-langit atap. wajahnya cantik nya terlihat murung .suasana di tempat itu begitu sunyi, sehingga hembusan nafasnya terdengar jelas, Nathan mengambil hp di saku celananya, membuka pesan yang suda h lama masuk. pesan itu dari ayahnya, Nathan kembali meletakkan hpnya setelah membaca pesan itu.
tak lama tirai di sebelahnya terbuka, menampakan sosok pemuda yang begitu cantik.
"kamu " panggil pemuda itu
Nathan segera beranjak duduk di tepi kasur , kedua pemuda itu saling berhadapan .
"anak baru?" tanya pemuda itu, lalu mengulurkan tangannya sambil tersenyum "kian " ucapnya
Nathan terdiam sambil menatap wajah pemuda di hadapannya itu.
"hai. aku kian, siapa namamu? " kian menepuk bahu Nathan pelan.
"o oh iya, kak. aku Nathan " ucapnya gugup.
kian tersenyum manis pada Nathan " salam kenal, aku ambil jurusan sejarah. kebetulan aku ikut kelompok jurnalis, jika kamu berminat bisa datang langsung ke ruang jurnalis sejarah"
"o oh, mm... iya"
" haha.. kenapa kamu kelihatan gugup sekali, aku tidak akan melukaimu, ini kartu namaku, nanti bisa langsung hubungi aku jika berminat" kian memberikan selembar kertas kecil berisi nama dan nomor telepon nya kepada Nathan.
"i iya terimakasih "
"baiklah, aku harus segera pergi, jangan lupa hubungi aku" kian beranjak dari dudukannya, lalu melangkah keluar klinik.
" cantik " gumam Nathan, pemuda itu tersenyum lebar setelah kian berlalu.
" kian?, kenapa namanya terdengar begitu familiar?".
kedua mata nya terbelalak melihat nama lengkap kian dalam kartu namnya.
" tidak mungkin. pasti ini hanya kebetulan, tapi kenapa namanya sama persis ?"
KIAN SAVVA HAIDAR
itu nama lengkap kian yg tertulis di kartu namanya.
