1

82 7 0
                                        








Pagi itu cerah. Langit biru terhampar luas di atas kompleks Universitas Ratchaphruek - kampus yang terkenal dengan bangunan klasik dan taman-taman hijaunya.
Suara burung bercampur riuh mahasiswa baru yang sedang mencari ruang orientasi.

Di antara kerumunan itu, seorang pemuda dengan tas selempang hitam berdiri kikuk sambil memandangi gedung fakultas seni yang menjulang.

"Hmm... kampus baru," gumamnya pelan.

Teeradach. Mahasiswa baru jurusan Desain Komunikasi Visual. Seorang omega dengan wajah lembut dan mata yang penuh rasa ingin tahu. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. Hari pertama memang selalu bikin gugup, apalagi di tempat sebesar ini.

"Maaf-"

DUG!

Tee menabrak seseorang yang juga sedang terburu-buru keluar dari tangga.

"Eh, maaf banget! Aku nggak lihat jalan!"

Cowok itu menatapnya, wajahnya kalem tapi tajam. Rambut hitam pendek, kacamata tipis di hidung, dan ekspresi datar yang entah kenapa malah bikin tenang.

"Gak apa-apa," jawabnya singkat. "Aku juga nggak lihat."

Tee nyengir. "Hehe, aku Teeradach. Panggil aja Tee."

"...Nani," jawabnya pendek.

"Oh! Nama kamu unik, ya!"

Nani cuma mengangguk kecil.

Mereka sempat diam sebentar sebelum bel tanda mulai kuliah orientasi berbunyi. Nani melirik jadwal di tangannya.
"Eh, kamu juga kelas DKV 1A?"

Tee cepat membuka kertasnya. "Iya! Wah, kita sekelas!"

"Hmm."

Dalam hati Nani hanya mendesah. Sepertinya hari ini akan panjang.

Ruang kelas 1A fakultas seni tak terlalu besar, tapi dindingnya dipenuhi karya mahasiswa senior. Cahaya matahari menembus jendela lebar, memantulkan bayangan lembut di meja-meja kayu.

Tee dan Nani duduk berdampingan di tengah. Tee tampak bersemangat, sementara Nani sibuk mengamati sekeliling.

Beberapa mahasiswa baru mulai saling mengenal. Ada yang heboh, ada yang tenang.

Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka. Seorang dosen muda berjas kasual masuk dengan langkah tegap.
"Selamat pagi semuanya. Saya Force, dosen pembimbing kalian untuk mata kuliah dasar desain. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik."

Suaranya tegas tapi ramah.

Tee tersenyum kecil. "Dosennya keren juga, ya."

Sesi perkenalan dimulai. Saat giliran Tee tiba, dia berdiri gugup.
"Namaku Teeradach. Tapi teman boleh panggil aku Tee. Aku suka... emm, menggambar."

Beberapa mahasiswa tersenyum. Nani menoleh.
"Tadi kamu kelihatan malu. Gaya kamu beda waktu nabrak aku."

"Hehe, itu baru pemanasan," bisik Tee sambil nyengir.

Waktu istirahat.

Kantin fakultas seni penuh dengan mahasiswa baru yang sibuk antri makanan. Bau kopi, nasi goreng, dan cat akrilik entah kenapa bercampur jadi satu.

Tee dan Nani membawa nampan masing-masing sambil mencari tempat duduk.

"Wah, aku lapar banget," kata Tee.

Namun, nasibnya berkata lain. Saat berbalik, siku Tee tak sengaja menyenggol seseorang yang sedang lewat.

SPLASH!

WIBUKU!!! [DEWtee]Where stories live. Discover now