1. Who did You Find?

266 26 4
                                        

Wang Yibo berdiri di depan sebuah rumah kos dua lantai dengan papan bertuliskan “Rumah Kost Putra Harmony.” Ia menatap bangunan itu dari atas ke bawah dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. Dari luar saja, tempat itu tampak bersih dan terawat.

“Jadi… ini yang namanya kos?” gumamnya pelan, masih sulit percaya.

Sejak lahir, Yibo tumbuh di keluarga kaya. Ia terbiasa tinggal di rumah besar dengan banyak pelayan, di mana semua kebutuhannya selalu terpenuhi, dan apa pun yang ia inginkan akan segera diberikan. Ibunya sering menggambarkan tempat seperti ini sebagai lingkungan kumuh, berisik, dan tidak layak huni. Namun, kenyataan yang dilihat Yibo hari itu jauh dari bayangannya. Dinding bangunan itu berwarna putih bersih, dengan halaman cukup luas untuk memarkir beberapa sepeda motor. Tidak ada kesan kumuh sama sekali.

Ia menarik napas panjang.
Mungkin ini tidak seburuk yang Ibu bilang, pikirnya sambil menenteng koper besar di satu tangan dan ransel di pundaknya.

Karena semua urusan administrasi sudah diurus oleh temannya, Yibo hanya perlu menerima kunci kamar dari penjaga kos. Ia diberitahu bahwa kamarnya berada di lantai atas, nomor enam, di pojok kanan. Suasana kos tampak sepi, hanya terdengar suara burung gereja di atas genteng.

Yibo menaiki tangga perlahan, melewati beberapa pintu berwarna cokelat tua yang masing-masing memiliki nomor di bagian tengahnya. Dalam hati, ia sempat membayangkan seperti apa para penghuni kos di tempat ini, mungkin para mahasiswa yang sibuk, atau anak-anak rantau yang berjuang sendiri jauh dari rumah.

Saat akhirnya membuka pintu kamarnya, Yibo tertegun sejenak. Kamar itu bersih dan rapi, meski tidak besar. Ada kamar mandi di dalam, tempat tidur sederhana, lemari pakaian, meja kecil, kipas angin, dan jendela yang menghadap ke jalan kecil di depan kos. “Hmm… lumayan,” ujarnya singkat.

Ia meletakkan koper dan ranselnya di lantai, menarik napas panjang, lalu duduk di tepi kasur. Untuk pertama kalinya, Wang Yibo merasa benar-benar bebas, tanpa orang tua, tanpa perintah, tanpa jadwal ketat yang selalu mengikatnya.

Senyum tipis muncul di wajahnya.
Mungkin… kehidupan seperti ini tidak seburuk itu.




Beberapa saat kemudian, rasa lapar perlahan menyingkirkan kantuknya. Yibo bangkit dan melangkah menuju meja kecil di pojok ruangan. Di atasnya tergeletak selembar kertas berisi peraturan kos. Tulisan rapi di sana menyebutkan bahwa dapur umum berada di lantai bawah, dan setiap penghuni diwajibkan memberi label pada makanan masing-masing. Ia mendengus pelan.

Yibo akhirnya memutuskan untuk keluar mencari makanan di sekitar kos. Ia menuruni tangga, melewati halaman sempit yang dipenuhi jemuran pakaian para penghuni lain. Langkahnya terhenti ketika sampai di depan gerbang.

Di sanalah ia melihat seseorang.
Seorang pria manis tengah jongkok di tepi jalan, menuangkan makanan kucing ke dalam mangkuk logam kecil di hadapan seekor kucing jalanan. Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana dengan lengan digulung hingga siku. Rambut hitamnya tertiup lembut oleh angin sore, dan ada ketenangan aneh yang terpancar dari dirinya, jenis ketenangan yang sulit dijelaskan, namun langsung menarik perhatian.

Yibo berdiri di depan gerbang, matanya tak lepas menatap pria itu yang sedang memberi makan beberapa kucing. Ia terpaku. Wajah pria itu lembut, dengan tahi lalat kecil di sudut bawah bibirnya. Bibirnya tampak merah alami, seolah warna itu memang miliknya sejak lahir.

Yibo berdehem pelan, berusaha menarik perhatian. Namun pria itu tidak bereaksi, seakan terlalu tenggelam dalam dunianya sendiri. Tak pantang menyerah, Yibo mencoba lagi. Kali ini ia melangkah mendekat sambil bersenandung ringan, lagu berbahasa Inggris yang tiba-tiba saja muncul di kepalanya. Suaranya lembut, tapi percaya diri.

My dear LandlordStories to obsess over. Discover now