BAB 1

2.3K 13 1
                                        

Aku masih bisa mendengar degup jantungku sendiri ketika berdiri di depan pintu apartemen Selin malam itu. Kami sudah lama saling ngobrol di sosmed, berbagi cerita tentang BDSM, tentang keinginan-keinginan yang jarang bisa diucapkan ke orang lain. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, kami sepakat bertemu… bukan hanya untuk ngobrol, tapi benar-benar melakukan scene.

Begitu pintu terbuka, aku melihat Selin tersenyum. Wajahnya lebih cantik daripada yang terlihat di layar, ada kehangatan sekaligus aura misterius yang bikin aku makin penasaran. “Masuk, Shinta,” katanya lembut. Aku hanya mengangguk, mencoba menutupi rasa gugupku.

Beberapa menit setelah basa-basi, suasana bergeser. Lampu apartemen ia redupkan, dan aku bisa merasakan tatapan matanya yang penuh kepercayaan padaku. Selin mengenakan dress sederhana berwarna hitam, yang membentuk tubuhnya dengan indah.

Aku melangkah mendekat, tanganku menyentuh bahunya. “Kak Selin…,” bisikku, “malam ini aku yang atur, ya?” Dia mengangguk pelan, matanya menatapku penuh rasa ingin tahu.

Aku menarik kedua pergelangan tangan Selin ke atas, lalu mengikatnya dengan tali yang sudah kusiapkan. Dengan sedikit tenaga, aku kaitkan ikatan itu pada balok melintang di langit-langit apartemennya. Tubuh Selin pun terangkat, membuatnya harus sedikit berjinjit agar bisa bertahan.

“Ugh…” keluhnya pelan ketika jari kakinya terpeleset dari lantai, matanya menatapku penuh ketidakpastian.

Aku hanya tersenyum, menikmati pemandangan di depanku. Kedua lengannya terbuka, memperlihatkan lengan bagian dalam hingga ke lekuk ketiak yang bersih dan indah. Ada sesuatu yang membangkitkan rasa ingin berlama-lama di sana sebelum aku melanjutkan rencana berikutnya.

Aku biarkan jariku berjalan perlahan dari sikunya, menelusuri lengannya sampai ke ketiaknya. Selin menggeliat, bahunya bergerak kecil. “Shin… jangan” suaranya nyaris seperti rengekan manja.

Aku mendekatkan wajahku, merasakan kehangatan tubuhnya. Jemariku terus bermain, membuatnya sedikit berkeringat meski jelas-jelas dia sudah memakai deodorant sebelumnya. Ada kontras menarik: harum lembut bercampur dengan aroma alami tubuhnya.

Selin berontak kecil, tapi ikatan membuatnya tak bisa pergi ke mana-mana. Aku hanya tersenyum nakal, lalu mendekatkan bibirku ke ketiaknya. Ia menahan napas, tubuhnya menegang sejenak, sebelum akhirnya pasrah di bawah kendaliku.

Aku bisa merasakan tubuhnya yang tegang saat wajahku makin dekat dengan ketiaknya. Nafas Selin terdengar terburu, matanya terpejam seakan berusaha menahan sesuatu.

Aku sengaja memberi jeda, hanya membiarkan bibirku berhenti di dekat kulitnya tanpa benar-benar menyentuh. “Shinta…” ia memanggil lirih, nada suaranya campur antara resah dan penasaran.

Aku tersenyum nakal. “Kenapa, Kak? Nggak tahan nunggu?” Lalu tanpa peringatan, ujung lidahku menempel pada ketiaknya yang hangat itu. Aku sapukan dengan lembut, pelan tapi pasti, seolah menulis garis tipis di atas kulitnya.

“Ah—!” Selin berontak kecil, tubuhnya bergerak kaku karena rasa geli yang tak bisa ia lawan. Ikatan di pergelangannya bergoyang, membuat tubuhnya makin tak berdaya. “Shinta… jangan… a-aku nggak kuat….”

Aku menahannya dengan tangan di pinggang, tetap menyapu lidahku sekali lagi, lebih lambat. Peluh tipis mulai muncul di kulitnya meski udara ruangan tidak panas.

“Ternyata Kakak gampang banget dibuat pasrah gini,” bisikku di sela-sela usahaku. Selin menggeliat lagi, tapi aku bisa merasakan dibalik keluhannya ada kepuasan aneh yang membuatnya tak benar-benar ingin kabur.

Aku menjauhkan wajahku perlahan, meninggalkan jejak basah tipis yang membuatnya merintih pelan. Tubuhnya masih bergoyang kecil, berusaha menenangkan diri dari rasa geli yang menumpuk.

one night sceneWhere stories live. Discover now