[ T W I N F L A M E S :
A C R O S S T I M E L I N E S ]
.
.
.
.
.
Angin menderu di luar kediaman Henituse, membawa kepingan salju menembus langit yang gelap. Malam yang tadinya damai telah berubah menjadi badai, hawa dingin merayapi dinding-dinding batu rumah besar itu.
Di dalam perkebunan besar itu, udara dipenuhi ketegangan.
Para pelayan bergerak panik, mata mereka dipenuhi kekhawatiran saat mereka bergegas bolak-balik, membawa air hangat, selimut bersih, dan apa pun yang dibutuhkan bidan. Istri sang Count, Jour Thames Henituse, sedang dalam proses melahirkan.
Dan bayinya lahir lebih awal.
Jour berbaring di ranjang besar, wajahnya yang biasanya cerah tampak pucat karena kelelahan. Namun, mata emasnya menyala penuh tekad sementara keringat membasahi kulit porselennya.
Rasa sakit mencengkeramnya, tajam dan tak henti-hentinya, tetapi ia menolak berteriak terlalu keras. Ia adalah Thames. Ia kuat.
Dia menggigit bibirnya, mencengkeram seprai saat gelombang rasa sakit lainnya menghantamnya.
Deruth Henituse, suami tercintanya, duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat-erat. Ekspresi tenangnya yang biasa kini sirna, digantikan oleh kekhawatiran yang mendalam.
Ia menyeka keringat di dahinya, mencium tangannya, dan tak pernah sekalipun melepaskannya. Ia terus membisikkan kata-kata penyemangat untuknya.
"Jour, semuanya akan baik-baik saja," bisiknya sambil menyingkirkan helaian rambut merah yang basah dari dahinya.
Jour tersenyum lemah padanya. "Kau mencoba menghiburku atau dirimu sendiri, suamiku tersayang?" Rasa sakitnya luar biasa, tetapi Jour tak mau menyerah.
Ia menghela napas tajam saat kontraksi lain datang. Ia menggigit bibir, berusaha menahan tangis kesakitan.
Genggaman Deruth di tangannya semakin erat. "Jour, bernapaslah. Sedikit lagi."
Dia tertawa lemah, meskipun kesakitan. "Gampang bagimu untuk bilang... bukan kamu yang melahirkan bayi kita."
Deruth memaksakan senyum, sekali lagi menyingkirkan helaian rambut merah yang basah dari wajahnya. "Andai aku bisa menanggung rasa sakit ini untukmu."
Jour menatapnya lelah sebelum terkekeh pelan. "Manis sekali... tapi kurasa kau takkan sanggup menanganinya."
Deruth tertawa gugup. Ia tak bisa menyangkalnya.
Bidan itu, seorang perempuan tua yang berpengalaman bertahun-tahun, berkata dengan tegas. "Nyonya, Anda harus mengejan. Bayinya sudah hampir lahir."
Napas Jour bergetar. Ia menoleh ke arah Deruth, matanya menatap tajam ke arah Deruth. "Bagaimana kalau terjadi sesuatu?"
Ia menangkup pipinya dengan lembut. "Tidak akan terjadi apa-apa. Kamu kuat, Jour. Dan anak-anak kita juga akan kuat."
YOU ARE READING
Twin Flames: Across Timelines
FanfictionSinopsis : Cale dan Tae Henituse lahir bersama, dibesarkan bersama, dan selalu berdiri berdampingan. Meskipun bertolak belakang-yang satu adalah cahaya nakal, yang lain adalah bayangan pendiam-ikatan mereka tak tergoyahkan. Tak perlu kata-kata ketik...
