Bab. 01

1.5K 149 4
                                        

Hari yang melelahkan untuk seorang pemuda mungil bernama Park Renjun. Meskipun ia hanya mahasiswa kupu-kupu, namun ia lelah dengan banyaknya tugas yang di berikan oleh Dosennya. Cukup hidupnya yang membuatnya ingin menyerah jangan lagi di tambah dengan hal lainnya.

Seusai kelas Renjun memutuskan untuk ke perpustakaan. Di sana ada sesuatu yang sedikit menarik perhatiannya. Tidak, Renjun tidak tertarik dengan siapapun karena ia sudah putuskan ingin hidup tanpa melibatkan orang lain di kehidupan, itulah keinginannya setelah di tinggal oleh kedua orang tuanya untuk selama-lamanya.

Setibanya di perpustakaan, Renjun langsung saja mencari buku yang ia lihat dua hari yang lalu. Hingga matanya berbinar saat melihat buku itu masih di sana tanpa di sentuh orang lain. Bagaimana ia tahu? karena buku itu sangat di penuhi dengan debu-debu halus. Kemudian Renjun membawa buku itu ke salah satu meja.

Tangan lentiknya mengusap sampul buku itu. Itu adalah sebuah novel fiksi tentang kerajaan. Renjun memang sangat gemar membaca atau mencari sesuatu yang berbau fiksi. Menurutnya itu menarik, karena ia bisa berimajinasi dan berfantasi sesuai keinginannya.

Ia membuka halaman pertama buku itu. Hal pertama yang ia lihat adalah gambar bayangan seseorang dengan bunga mawar merah. Baru saja halaman pertama namun ia sudah tertarik dengan ceritanya. Renjun mulai membuka halaman demi halaman tanpa melewatkan sekatapun yang tertulis di sana.

Tanpa ia sadari, ia hampir melewatkan kelas berikutnya. Renjun buru-buru merapikan barang-barang miliknya dan membawa buku tersebut pada penjaga perpustakaan untuk meminjamnya. Penjaga perpustakaan yang sudah mengenal Renjun langsung memberikan izin, asal ia harus mengembalikannya tepat waktu.

Renjun berlari keluar dari sana menuju kelasnya. Untung saja ia belum terlambat. Renjun mencari tempat yang menurutnya akan duduk sendiri tanpa berbaur dengan orang lain. Renjun itu bukan anti sosial hanya saja, ia tidak suka berbicara dengan orang lain saat ia sedang konsentrasi. Renjun memiliki banyak teman di kampus ia juga mudah berbaur dengan orang lain. Hanya saja kepribadiannya yang sedikit tertutup terkadang ia kesulitan saat berbicara dengan orang lain.

.

.

.

Seharusnya Renjun mengiyakan saja ajakan salah satu teman kelasnya untuk mengerjakan tugas bersama, dan andai ia tahu akan seperti ini ia akan pergi lebih dulu jika ia tahu akan bertemu dengan pemuda yang selama ini selalu ia hindari.

"Renjun tunggu."

Renjun mempercepat langkahnya untuk menghindari Eric pemuda yang menaruh perasaan padanya. Tidak, Renjun sebisa mungkin akan menjauh karena ia tidak menyukai Eric si playboy kampus yang menyebalkan.

"Renjun."

Renjun berdecak kesal. Ia berlari sekencang mungkin dan tidak peduli ia menabrak siapa di koridor itu. Sungguh menyebalkan jika bertemu dengan Eric. Dalam hati ia mengutuk Eric yang terus mengejarnya meski Renjun sudah berulang kali menolak perasaannya namun pemuda blasteran itu terus saja mengejarnya.

"Menyebalkan!"

Kini Renjun sudah berada di dalam kamarnya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Kini Renjun sudah berada di dalam kamarnya. Syukurlah ia masih memiliki rumah peninggalan kedua orang tuanya, jadi ia masih memiliki tempat untuk bertinggal. Meskipun ia harus tinggal sendiri sekarang ini. Renjun yang sedang sibuk dengan tugasnya, tiba-tiba ia teringat dengan buku yang ia pinjam di perpustakaan siang tadi.

Renjun kembali duduk di atas tempat tidurnya dengan buku itu yang sudah ada di tangannya. Renjun melanjutkan bacaannya yang sudah hampir setengah itu.

Selama ia membaca cerita tersebut ia belum menemukan tokoh favoritnya. Namun, ada satu tokoh yang sedikit menarik perhatiannya. Ia adalah tokoh antagonis tersebut, seorang gadis yang terobsesi dengan keenan pangeran.

Renjun bahkan sedikit heran dengan sang tokoh antagonis, jelas-jelas ia sudah di permalukan oleh keenam pangeran namun ia masih saja mengajar cinta keenamnya. Apalagi pada seorang pangeran yang di ceritakan memiliki wajah yang sangat tampan namun dingin itu.

Tanpa Renjun sadari, waktu sudah menunjukkan pukul empat subuh. Renjun membulatkan matanya menatap jam, bagaimana bisa ia begadang sampai waktu seperti itu? ia ada masih ada kelas pagi ini. Renjun merutuki dirinya sendiri.

"Nanggung sekali jika harus berhenti sekarang."

Cerita yang ia baca hampir selesai tinggal hitung lembar saja maka ending dari cerita itu ia akan tahu seperti apa. Namun entah mengapa kedua matanya sama sekali tak bisa di ajak kerja sama.

"Aku sangat penasaran."

Renjun menatap langit-langit kamarnya. Ia mengedipkan matanya berulang kali dengan perlahan. Hingga ia menutup matanya, dan jatuh tertidur dengan buku itu yang masih berada di atas dadanya. Dengkuran halus terdengar dari si manis. Dan suasana kamar menjadi dingin dan dentuman jam yang tiba-tiba berhenti.

Hembusan angin membuka jendela kamar itu dan masuk ke dalam sana meniup tubuh Renjun yang tak terselimuti, dalam kamar itu berubah menjadi gelap tanpa adanya satupun cahaya, hingga muncul tiga sosok bayangan yang mendekati tubuh Renjun yang tertidur.

"Dia tertidur."

"Renjunie..."

"Cepat bawa dia sebelum waktu kembali berjalan."

"Hei, hati-hati atau kau akan membangunkannya."

"Tidak usah bertengkar. Cepat, kita harus pergi."

"Aduh Gege, kau menarik bajuku."

"Tidak usah berisik! cepat bawa adik pergi."

.

.

.

Mr. Huang (Jaemren)Stories to obsess over. Discover now