FANTASY LIAR

1.7K 8 0
                                        

Kenalkan, nama gua Rendra.

Saat ini, gua adalah seorang siswa kelas 12 SMA yang sedang berjuang menyelesaikan masa-masa putih abu-abu. Ya, berjuang. Sebenarnya, gua lebih sering merasa terombang-ambing, berusaha keras agar tidak tenggelam dalam pusaran tekanan dan ekspektasi yang menyesakkan ini. Tapi, ya sudahlah. Hari-hari terakhir menjelang kelulusan terasa seperti beban yang kian berat.

Jujur saja, dari segi penampilan, gua benar-benar biasa banget. Bahkan, bisa dibilang enggak ada yang menarik sama sekali. Gak ada fitur wajah yang menonjol, gak ada gaya yang bisa menarik perhatian, gak ada pesona yang bisa membuat orang lain berhenti dan menoleh.

Tinggi gua hanya 165 cm, sebuah angka yang selalu membuat gua merasa kurang, merasa tidak pantas. Badan gua kurus seperti batang lidi-nyaris tanpa otot yang terbentuk, tanpa lekuk tubuh yang menarik perhatian. Kulit gua sawo matang yang cenderung kusam, atau lebih kasarnya, dekil. Kelihatan jelas kalau gua lebih sering menghabiskan waktu di dalam rumah, berkutat dengan buku-buku tebal yang berbau apek, daripada berjemur di bawah sinar matahari. Penderitaan fisik gua makin lengkap dengan kacamata berlensa tebal yang selalu bertengger di hidung. Aksesori itu membuat mata gua terlihat kecil dan memancarkan simbol bahwa gua lebih suka bersembunyi di dunia teks daripada berinteraksi dengan dunia nyata, sekaligus menambah kesan suram yang benar-benar mematikan aura-aura yang memang tidak pernah gua punya.

Gua adalah definisi cowok yang nyaman jadi bayangan, bukan pusat perhatian. Sebuah pilihan yang mungkin terkesan menyedihkan, tapi buat gua, itu adalah cara gua bertahan, cara gua untuk tidak terlalu menonjol, cara gua untuk merasa aman. Gua lebih suka mengamati, lebih suka menjadi pendengar, lebih suka menjadi bagian dari latar belakang yang sunyi.

Gua tinggal di sebuah kompleks perumahan kelas menengah yang lumayan padat. Tapi, ya kalian tahu sendiri, kehidupan di perumahan seperti ini seringkali sepi. Dari siang sampai malam, kalian bakal jarang banget menemukan orang lalu lalang di jalanan. Paling ramai hanya di pagi hari, ketika para ibu komplek berbondong-bondong mengerumuni mas-mas tukang sayur yang mendorong gerobak, atau saat mereka terburu-buru mengantar anak-anak ke sekolah. Sisanya? Sepi, senyap, nyaris seperti kuburan-hanya terdengar suara siulan angin dan kadang-kadang anjing menggonggong di kejauhan.

Namun, di tengah kesunyian yang hampir membekukan itu, ada satu orang yang selalu berhasil menarik perhatian gua. Bukan karena dia membuat gaduh, tapi justru karena kehadirannya yang kontras dengan lingkungan sekitar, kehadirannya yang entah bagaimana terlalu terang untuk tempat sesepi ini.

Namanya Arka. Rumahnya persis di seberang jalan, berhadapan langsung dengan jendela kamar gua. Usianya sekitar 23 tahun. Kelihatannya sih dia adalah mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas bergengsi, dilihat dari gaya dan cara dia berpakaian yang selalu rapi dan effortless.

Penampilannya? Jauh, sangat jauh dari gua. Jaraknya seperti bumi dan langit. Dia adalah definisi cowok sempurna tanpa cela. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang terukir tajam, nyaris seperti patung Yunani klasik. Kulitnya bersih, rambutnya tertata rapi, dan dia didukung dengan tinggi sekitar 175 cm yang proporsional. Semua pakaian yang ia kenakan terlihat pas dan sempurna, seolah baru saja diambil dari majalah fashion. Hampir tiap kali gua melihatnya, rasanya gua seperti sedang bercermin, hanya saja di cermin itu terpantul sosok yang ribuan kali lebih baik dari gua. Dan itu, entah kenapa, selalu membuat gua minder setengah mati.

Badannya? Beh, ini yang paling gila. Kalau soal badan, dia memang juara.
Dia punya postur atletis yang padat, hasil dari rutinitas nge-gym yang sepertinya sudah mendarah daging. Ketika dia keluar rumah hanya mengenakan kaus oblong atau tank top-entah mau lari pagi, mengangkat barang, atau sekadar berjemur-semua detail fisiknya langsung terekspos tanpa ditutup-tutupi. Otot bisep dan trisepnya menyembul tegas, besar, membuat gua menelan ludah, dengan urat-urat tangan yang menonjol di sepanjang lengan bawahnya. Bahu lebarnya selalu membuat kaus yang dia kenakan terlihat penuh, membingkai dada bidang yang solid dan kokoh, sebuah tempat yang secara konyol gua bayangkan ingin bersandar di sana. Jika dia membungkuk atau melakukan peregangan ringan, lu bisa melihat samar-samar guratan perut sixpack yang keras dan terdefinisi, bukti dedikasi total pada tubuhnya-sebuah dedikasi yang jauh berbeda dari gua yang lebih memilih rebahan. Semua itu dibalut dengan kulit putih bersih yang mulus dan terawat, membuat gua iri setengah mati, sementara kulit gua... yah, kalian tahulah.

UNEXPECTED BOTTOM 2.0Stories to obsess over. Discover now