Elena, dengan seragam sekolah yang rapi membingkai tubuh mungilnya, tampak begitu memikat; rambut hitam pekatnya jatuh perlahan di sisi wajah, seakan menyimpan cerita dalam setiap helainya, sementara mata kecoklatan yang teduh memantulkan cahaya lembut, menghadirkan pesona yang menenangkan, anggun, dan sulit dialihkan dari pandangan.Ia berjalan perlahan menyusuri koridor, langkahnya tenang dan penuh kepercayaan diri, membuat suasana seolah mengikuti iramanya; senyum tipis yang terselip di bibirnya menambah kesan hangat, sehingga siapa pun yang menatapnya tak hanya melihat seorang siswi biasa, melainkan pribadi dengan pesona alami yang menyejukkan hati dan meninggalkan jejak kagum di benak setiap orang.
Saat Elena melangkah tenang di koridor sekolah yang dipenuhi cahaya pagi, riuh rendah suara siswi terdengar semakin jelas dari arah depannya. Dari kerumunan itu, tampak seorang pria berwajah blasteran Rusia-Indonesia muncul dengan langkah tegap, sorot matanya tajam bagaikan es yang tak mudah ditembus, namun senyum tipis yang menghias bibirnya justru mampu meruntuhkan dinding hati siapa pun yang menatapnya. Dialah Mikhail Andrei, sosok baru yang seketika menjadi pusat perhatian, membawa aura berbeda yang membuat suasana koridor berubah seakan waktu melambat saat ia berjalan mendekat ke arah Elena.
Mikhail Andrei memang menjadi sosok idaman di sekolah itu—ketampanannya yang khas blasteran membuatnya menonjol, ditambah lagi keahliannya di lapangan basket yang kerap membawa tim sekolah pada kemenangan, serta kepiawaiannya memetik gitar yang mampu memikat hati siapa saja yang mendengarnya. Tak heran jika setiap kali ia lewat, tatapan penuh kagum dari para siswi selalu tertuju padanya, bahkan sering kali membuat mereka terpana dan tak berkedip. Namun, berbeda dengan kebanyakan gadis di sekolah, Elena tidak pernah larut dalam pesonanya. Baginya, Mikhail memang tampan, tetapi tak lebih dari sekadar itu. Bukan karena hatinya dingin atau tak mampu merasakan cinta, melainkan karena didikan ayahnya yang begitu keras melarangnya untuk menjalin hubungan asmara selama masih duduk di bangku sekolah. Aturan itu membentuk Elena menjadi gadis yang hanya berfokus pada belajar, menjadikan dirinya teladan yang disegani. Bahkan ketika banyak pria mencoba mendekati dan menyatakan perasaan, Elena tetap tegas menolak—beberapa dengan halus, namun tak jarang ada yang ditolaknya mentah-mentah, meninggalkan kesan tegas bahwa hatinya bukanlah sesuatu yang mudah disentuh.
Saat langkah mereka berpapasan, suasana seketika terasa berbeda dari biasanya. Elena tetap melangkah mantap ke depan, menatap lurus ke arah tujuan tanpa sekalipun menoleh ke Mikhail, seolah dunia di sekitarnya hanya miliknya sendiri. Mikhail, yang terbiasa disambut tatapan kagum dan senyum manis dari para siswi, tersentak sejenak. Ia menoleh perlahan ke arah Elena saat gadis itu hendak menjauh, tak dapat menyembunyikan rasa penasaran yang muncul di matanya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ada seorang siswi—Elena—yang tetap tenang dan tak terpana oleh pesonanya. Perasaan itu, campuran antara terkejut dan penasaran, membuat langkahnya sedikit melambat, seakan ingin memahami siapa gadis yang berani menolak pesona Mikhail Andrei..............
YOU ARE READING
Mencintai tidak harus memiliki
RomanceElena, dengan rambut hitam dan mata coklat yang menatap dunia tanpa gentar, hidup dalam keteguhan dan ilmu. Namun, saat Mikhail Andrei hadir, senyum dan tatapannya meretas dinding hati yang lama tertutup, membuka lembar baru di mana belajar tidak la...
