Kabut Kelabu dalam Raut Wajah Sendu

58 4 2
                                        

Matahari baru saja menampakkan diri. Udara masih segar, daun-daun di tepi jalan pesantren bergoyang pelan tertiup angin. Sejuknya udara pegunungan Cipanas, Lebak, Banten, menyelimuti pagi itu. Kabut kelabu menggantung, menahan lembutnya sinar matahari yang baru muncul. Dari kejauhan, gapura besar bertuliskan “Pondok Modern La Royba” berdiri kokoh, memantulkan wibawa yang tak lekang dimakan waktu.

Pak Abdullah berdiri di pertigaan jalan raya, agak jauh dari gerbang utama. Tangannya cekatan mengatur arus kendaraan yang terus berdatangan. Peluit pusaka di bibirnya sesekali terdengar nyaring, memberi aba-aba agar lalu lintas tetap lancar. Gerakan tangannya khas dan tegas, namun penuh perhitungan.

Ia tahu, hari ini hari besar. Mobil-mobil mewah berpelat A, B, D, dan F datang bertubi-tubi. Hari Jumat memang waktu yang dinanti, ketika para santri dijenguk oleh orang tua mereka. Pak Abdullah hafal betul, tidak semua wali santri bisa datang setiap pekan. Namun, setiap Jumat, pondok selalu dibanjiri kendaraan dari luar daerah. Tugas Pak Abdullahlah memastikan semuanya berjalan tertib: tak boleh ada kemacetan, tak boleh ada yang terganggu.

Menjelang pukul setengah sebelas, barulah ia sempat duduk di pos penjagaan. Keringat mengalir di pelipis, tapi wajahnya tetap tenang. Di tangannya tergenggam sebuah mushaf kecil, teman setia di setiap sela tugas. Dengan gerakan hati-hati, ia membuka lembaran itu di balik meja agar tak terlalu mencolok. Bibirnya mulai bergerak pelan, lirih, cepat, seolah takut kehilangan waktu. Bacaan itu mengalun bagai aliran air di tengah hiruk pikuk kendaraan yang hilir-mudik.

Bagi yang mengenalnya, pemandangan ini bukan hal aneh. Jauh sebelum menjadi satpam di Pesantren La Royba, Pak Abdullah memang dikenal rajin bertadarus. Ia meyakini, bahwa ketenangan hidupnya hanya datang dari kalam Allah yang ia baca setiap hari.

Selepas salat Jumat, beberapa santri datang ke pos membawakan air minum dan membantu menjaga gerbang. Mereka tahu kebiasaan Pak Abdullah, setelah salat, barulah ia menutup mushaf. Santri-santri itu menghormatinya karena ketenangan yang terpancar dari sikapnya.

“Assalamu’alaikum, Pak Abdullah,” sapa seorang santri sambil tersenyum.

“Wa’alaikumussalam. Bagaimana kabar hari ini?”

“Tetap semangat, Pak!”

Pak Abdullah tersenyum kecil.
“Luar biasa... Belajar yang semangat, Nak. Ilmu itu cahaya, jangan padamkan dengan malas,” ujarnya lembut namun sarat makna.

Dari kejauhan, tampak sosok Ustadz Hasan berjalan cepat sambil menggandeng tangan anak kecil. Sumayah, begitu gadis mungil itu dipanggil, berlari kecil dengan tawa renyahnya.

“Abi, ayo cepat! Aku mau lihat ayam di belakang asrama!” serunya riang.

Pak Abdullah tersenyum samar. Ada sesuatu di wajah Hasan yang membuatnya terdiam sejenak. Sorot mata ustadz muda itu tampak letih. Ia bisa menebak, ada beban yang sedang dipikul Hasan. Sudah lama ia mengenal ustadz itu, dan hafal benar bagaimana raut wajahnya saat sedang dilanda gundah.

“Ustadz Hasan,” panggilnya ketika keduanya semakin dekat dengan pos satpam.

Hasan menoleh, sedikit terkejut.
“Ah, Pak Abdullah. Saya kira Mang Dudin,” ujarnya seraya menghampiri.

“Sumayah makin besar saja. Sehat-sehat ya, Nak,” kata Pak Abdullah sambil mengelus kepala bocah itu.

Sumayah terkikik, lalu berlari mendahului ayahnya.
“Teteh, salim dulu sama Abah!” ujar Hasan lembut, menuntun tangan putrinya dengan penuh kasih.

Pak Abdullah memperhatikan mereka berdua. Suara langkah mereka semakin menjauh, sebelum akhirnya ia berkata pelan,
“Kalau sempat, mampir ke pos, Ustadz. Sudah lama kita tak mengobrol seperti dulu.”

Hasan mengangguk tanpa banyak kata. Namun di mata Pak Abdullah, ia bisa membaca sesuatu yang lebih dalam dari sekadar anggukan. Ada kegelisahan yang tak terucap.

Dan dalam keheningan siang itu, ketika suara anak-anak santri mulai redup di kejauhan, Pak Abdullah kembali menatap mushafnya. Ia tidak tahu apakah Hasan akan datang nanti sore. Namun entah mengapa, di lubuk hatinya, ia yakin Hasan akan mampir.

Ayah Apa Kabar? Stories to obsess over. Discover now