Malam itu, bar elit di pusat kota Bangkok dipenuhi cahaya lampu neon yang berkilau. Musik berdentum, orang-orang kaya bersulang dengan tawa mewah, sementara Than sibuk berkeliling dengan nampan di tangannya. Seragam pelayan yang pas di tubuhnya justru menonjolkan lekuk tubuhnya yang ramping, membuat beberapa tamu wanita—bahkan pria—tak bisa menahan pandangan.
Than menunduk sopan setiap kali melewati meja, wajah imutnya ditutupi senyum tipis profesional. Dalam hatinya, ia hanya ingin segera pulang, melepas sepatu sempit, dan beristirahat. Tapi malam itu berbeda, karena seorang pria dengan setelan mahal duduk sendirian di sudut VIP, gelas whiskey di tangannya tak pernah kosong.
Pria itu adalah Krit, pewaris tunggal sebuah perusahaan raksasa. Wajahnya tegas, tatapannya tajam meski diliputi kabut mabuk, dan auranya membuat siapa pun segan mendekat. Namun, Than ditugaskan mengurus meja itu.
“Khun, apakah Anda ingin saya panggilkan sopir?” tanya Than pelan, nada suaranya hati-hati.
Krit menoleh. Tatapan matanya menusuk langsung ke dalam diri Than, membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Senyuman miring terbit di bibir Krit, entah karena mabuk atau karena sesuatu yang lain.
“Aku tidak butuh sopir… yang aku butuh hanya kamu.” Suaranya dalam, serak, namun memerintah.
Than tertegun, darahnya berdesir aneh. Sebelum ia sempat menolak, Krit sudah berdiri, sedikit terhuyung, lalu meraih pergelangan tangannya dengan kuat. Tatapan mata itu membuat Than tak berani melawan.
Entah bagaimana, langkah kaki mereka akhirnya membawa mereka ke kamar hotel di lantai atas bar itu—ruangan khusus tamu VIP. Pintu menutup, dan dunia luar seakan lenyap.
“Aku… hanya pelayan, Khun…” bisik Than gugup, tubuhnya menegang.
Namun Krit tidak memberi ruang untuk mundur. Dengan dominasi yang alami, ia menekan Than ke ranjang, tatapannya mengunci seolah menelanjangi seluruh jiwa dan tubuhnya. Suasana kamar berubah panas, napas mereka bertaut, hingga Than tak lagi mampu membedakan antara rasa takut dan hasrat yang mulai membakar.
Malam itu, di bawah cahaya redup lampu hotel, tubuh mereka saling menyatu—tanpa ada lagi seragam, tanpa ada lagi jarak. Krit mendominasi, memimpin setiap gerakan, sementara Than yang awalnya kaku akhirnya luluh, tunduk pada tatapan tajam yang tak bisa ia lawan.
Malam itu bukan sekadar mabuk. Itu adalah awal dari sebuah rahasia besar yang akan mengikat mereka selamanya.
Udara kamar hotel itu seolah menebal, dipenuhi aroma alkohol bercampur parfum maskulin yang samar. Lampu kuning redup membuat bayangan tubuh Krit tampak semakin tegas, setiap garis ototnya terpahat jelas di mata Than.
Than masih terpaku di ujung ranjang, seragamnya setengah berantakan. Nafasnya terengah, jantungnya berpacu liar. Ia tahu harus menolak, tapi tatapan mata tajam Krit—gelap, penuh kuasa—membuat seluruh keberaniannya runtuh.
Krit menunduk, tangannya kasar tapi panas saat menarik dagu Than, memaksanya menatap langsung ke matanya. “Jangan pura-pura tak menginginkannya,” bisiknya berat.
Than menggigil, tubuhnya seolah lumpuh. Begitu bibir Krit menempel di lehernya, panas menjalar cepat ke seluruh tubuh. Seragam tipis itu satu per satu terlepas, hingga kulit Than tersingkap di bawah sentuhan pria yang lebih tua dan dominan itu.
Nafas mereka saling bertabrakan. Krit mendorong Than ke ranjang, menindihnya tanpa memberi ruang untuk lari. Suara erangan tertahan pecah dari bibir Than ketika sentuhan itu semakin dalam, semakin menuntut.
“Aku… aku tak bisa…” Than berbisik, setengah memohon, setengah tenggelam dalam sensasi yang membakar.
Namun tangan Krit tak berhenti menjelajahi, tatapannya mengunci Than seakan menegaskan bahwa malam itu hanya ada mereka berdua—tanpa status, tanpa aturan, hanya tubuh dan hasrat.
ВЫ ЧИТАЕТЕ
Hasrat yang Tersembunyi
Любовные романыDi balik gemerlap malam kota Bangkok, seorang pelayan muda bernama Than menjalani hidup sederhana dengan wajah imut, tubuh menggoda, dan pesona yang tak pernah disadari dirinya sendiri. Hidupnya berubah drastis saat tanpa sengaja ia menyeret Krit, p...
