Prolog

1.1K 60 5
                                        

Tiga bulan yang lalu...

Gedung berlantai dua puluh itu menjulang gagah di kawasan Jakarta Selatan. Pagi itu, sinar matahari menembus kaca besar lobi, memantul di lantai marmer yang dipoles mengilap. Milly berdiri canggung sambil menggenggam map cokelat berisi salinan kontrak yang baru saja ia tanda tangani di ruang HRD.

Hatinya berdebar tidak karuan. Statusnya kini resmi sebagai pegawai kontrak di PT. FinCore Tax & Accounting Consultant, yang baru berdiri di tahun 2020 namun sudah bekerja sama dengan beberapa perusahaan terkemuka, dari yang ia cek di website kantor ini.

"Milly?"

Gadis itu mengerjapkan kedua mata merasakan tepukan di bahunya. "Ya?"

"Ayo, saya anter ke lantai tujuh. Sekalian saya tunjukkin meja kerja kamu nanti." ujar Jonas. Lelaki berkacamata yang merupakan pegawai bagian Human Resources yang mendampinginya dari tes akademik sampai penandatangan kontrak barusan.

"Baik, pak."

"Eh? Jangan panggil pak. Saya masih muda banget. Punya pacar aja enggak." ucap Jonas tertawa kecil yang membuat Milly hanya mendengus geli. Keduanya keluar dari lift saat tiba di lantai tujuh, Milly mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang penuh dengan tumpukan kertas dan kardus di beberapa meja karyawan.

"Alasan perusahaan nyewa dua lantai, soalnya bagian Tax sama Accounting ya kayak gini. Kasian bagian Legal sama Public Relation kalo harus kesandung kardus atau kertas disini."

Milly mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Ia mengikuti langkah Jonas yang menuju sisi kiri ruangan, yang ternyata tempat divisi Tax. Ada sekitar sepuluh karyawan yang diabsen kedua mata Milly saat ini, pandangannya pun berhenti pada seorang laki-laki yang berdiri di dekat jendela besar. Lelaki itu mengenakan kemeja putih lengan panjang yang rapi, dasi navy, dan celana bahan hitam. Posturnya tegap. Tangan kirinya berkacak pinggang, sementara tangan kanannya memegang ponsel.

"Untuk divisi Tax, cuma ada sebelas orang. Satu manajer sama sepuluh karyawan, kamu gak perlu hapalin jabatan mereka soalnya semuanya disini Tax Senior Staff. Kalo buat petinggi, mereka semua ada di ruangan bawah. Nah, cowok yang telponan itu, manajernya. Terus—"

Milly mendengarkan penjelasan Jonas yang menyebut semua nama karyawan di divisi Tax satu per satu. Ia menyapa para karyawan tersebut saat Jonas membawanya untuk diperkenalkan ke mereka. Milly menjawab beberapa pertanyaan ringan yang diajukan karyawan.

"Yo,"

Milly menatap Jonas dan lelaki yang menarik perhatiannya waktu masuk tadi. Ia memalingkan wajah ketika tak sengaja bersitatap dengan lelaki itu.

"Ini Milly. Dia bakal ngisi posisi Junior Tax Staff buat percobaan selama tiga bulan." ujar Jonas membuat Milly menampilkan senyumnya dan menjulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan lelaki itu.

"Milly."

"Sergio."

Milly memperhatikan Jonas dan Sergio yang membahas soal rekonsiliasi akhir bulan, tanpa memedulikan kehadirannya disana. Hingga seorang karyawan yang sepertinya melihat Milly berdiri sambil menatap kedua lelaki itu bergantian pun bersuara.

"Nanti aja kali mas-mas sekalian bahas kerjaannya. Itu anak baru masa dikacangin." ucap Adel, pegawai perempuan yang menegur Jonas dan Sergio. Milly hanya tersenyum, apalagi melihat ekspresi Sergio yang datar ketika menoleh ke arahnya.

"Eh iya, lupa. Bentar, Yo. Gue anter dia balik dulu." ujar Jonas. Milly menundukkan kepala sekilas saat melewati Sergio kemudian mengikuti langkah Jonas menuju lift.

"Saya ambil kartu akses sama perintilan kantor buat kamu dulu, ya. Nanti laptop dan peralatan kerja, saya sediain pas hari Senin aja."

"Baik, mas."

"Tunggu disini sebentar, ya."

Milly menganggukkan kepala lalu berdiri di dekat lift seraya menatap Jonas yang berjalan menuju lounge yang bersebelahan dengan ruangan Legal & Public Relation. Beberapa menit kemudian, Milly menerima satu goody bag berwarna biru tua dengan logo perusahaan yang disodorkan Jonas.

"Mulai Senin jangan telat, ya, Mil."

"Oke, mas. Makasih atas kesempatannya."

"Semangat kerjanya. Semoga betah."

Milly mengangguk lalu menekan tombol panah turun sembari memesan ojek online menggunakan ponselnya. Ia mengangkat pandangannya saat mendengar suara pintu lift terbuka dan terkejut melihat Sergio di depannya. Gadis itu masuk ke lift, menyapa Sergio sekilas, dan berdiri di pojok usai melihat tujuan mereka sama, yaitu ke lantai G. Jantungnya berdegup kencang karena aroma parfum woody bercampur segar citrus memenuhi lift — maskulin, tajam, seperti karakter lelaki itu.

Bahkan, saat Sergio keluar terlebih dahulu dan Milly sengaja melambatkan langkahnya agar tidak berbarengan dengan lelaki itu, wanginya bertahan lama. Melekat di udara sekitar Milly bahkan setelah ia berlalu, membuat gadis berzodiak Libra itu sedikit salah tingkah.

♡☆♡

shineccinos proudly present

COLLIDING PATHS

With:

Sergio Nathaniel - 30 y

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

Sergio Nathaniel - 30 y.o

Odellia Emily - 25 y

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

Odellia Emily - 25 y.o

♡☆♡

WARNINGS⚠️

1. Cerita ini mengandung banyak kata kasar dan sedikit adegan dewasa, dimohon kebijaksanaannya sebagai pembaca.

2. Cerita ini hanyalah FIKSI. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan asli para idol.

3. Umur tokoh diubah untuk kepentingan cerita.

4. Dilarang salah lapak atau menghujat para visualisasi di cerita ini.

5. Cerita ini bergenre BXG.

Jika kamu menyukai cerita ini, jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan komentar! Terima kasih <3

tertanda,
taca.

[✅️] Colliding Paths | Shinyu, MokaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora