I present to you the ex

93 7 0
                                        

Doyoung baru saja selesai dari part-time-nya di supermarket. Rambutnya agak berantakan, kantong plastik berisi roti dan susu di tangan kirinya. Dia menghela napas pelan, bersiap untuk memesan ojek online.

Namun, sebuah motor berhenti tepat di depannya. Helm hitam itu, bahu yang lebar, dan tatapan yang begitu ia kenal-Jaehyun. Mantan kekasihnya yang baru sebulan lalu mereka akhiri hubungan.

"Mau pulang?" suara Jaehyun berat, tenang, tapi terdengar canggung.
"I-iya," jawab Doyoung cepat, menunduk sedikit.

Ada jeda canggung. Lalu Jaehyun melanjutkan, "Mau bareng nggak?"
Doyoung buru-buru menggeleng, "Nggak usah, Jae. Aku pesen ojol aja."

Jaehyun mendengus. "Udah malem, kayanya juga mau ujan. Ntar keujanan kalau nunggu lagi."
Doyoung ragu. Angin memang makin kencang, lampu jalan berkedip sebentar. Dalam hati, ia bergumam, 'nggak apa-apa kan ya, mantanan tapi pulang bareng...'

"Ngerepotin nggak?" akhirnya Doyoung menyerah.
"Ngerepotin kalau lu lama naiknya. Ayo, cepet."
"Hih, sabar!"
Jaehyun menoleh sebentar, sudut bibirnya terangkat tipis.

Perjalanan pulang berlangsung dalam diam, hanya suara mesin motor dan rintik hujan yang mulai turun membasahi jalan. Doyoung menggenggam erat plastik belanjaannya, matanya tak lepas dari punggung Jaehyun di depan. Sementara Jaehyun, meski fokus mengendarai, pikirannya penuh dengan memori yang susah diusir. tawa Doyoung, kebiasaan cerewetnya, bahkan pertengkaran-pertengkaran kecil yang sudah menjadi kenangan.

Tak lama, hujan deras benar-benar mengguyur. Baju mereka basah, jalanan licin. Jaehyun melaju cepat sampai akhirnya berhenti di depan kos Doyoung.

"Masuk dulu, nunggu hujan reda," tawar Doyoung dengan suara pelan, hampir seperti ragu apakah itu ide yang benar.
Jaehyun membuka helm, rambutnya basah menempel di dahi. Dia menatap Doyoung sebentar, lalu mengangguk.

Begitu sampai di dalam kosan, suasana canggung langsung menyelimuti keduanya.
"Lu mau ganti baju nggak? Basah banget itu," tanya Doyoung akhirnya, berusaha memecah hening.
"Boleh. Baju gue juga masih ada kan di sini?" jawab Jaehyun santai.

Damn. Kenapa dia harus ngingetin soal itu?
"Ye, tunggu... gue ambilin."

Sambil menunggu, Jaehyun memperhatikan sekeliling kosan yang nyaris tak berubah sejak terakhir kali ia datang. Pandangannya tanpa sengaja jatuh pada sudut ruangan-tempat Doyoung selalu menaruh foto-foto mereka. Sudut kecil yang dulu jadi saksi perayaan apa pun. Entah gaji pertama Doyoung, anniversary, bahkan hal-hal sepele yang mereka jadikan alasan untuk merayakan.

Doyoung yang baru keluar dari kamar mendapati arah tatapan Jaehyun. Matanya langsung melebar.
"Gue belum sempet nurunin foto-foto itu!" serunya cepat.

Jaehyun menoleh dengan senyum miring. "Pft, bilang aja belum move on."
"PD amat lu. Ngapain gue belum move on dari cheater kayak lu!" balas Doyoung sengit.

Kata-kata itu membuat Jaehyun menundukkan kepala. Hening kembali menyelimuti ruangan, dan kali ini lebih berat. Doyoung, yang merasa bersalah karena emosinya meledak, buru-buru menyodorkan pakaian dan handuk.
"N-nih. Bawa. Mandi sana."

Jaehyun hanya mengangguk pelan, mengambilnya, lalu menghilang ke kamar mandi tanpa sepatah kata.
'Mulut gue! Damn! Bisa nggak sih diem aja?' rutuk Doyoung dalam hati.

Tak lama, Jaehyun keluar dari kamar mandi. Doyoung yang duduk di sofa segera berdiri, siap masuk ke kamarnya.
"N-nginep aja! Kayaknya hujan nggak bakal reda malam ini. Kalau mau makan ada di kulkas, panasin aja."
"Oke. Makasih, Doy."
"Y-ya... gue tidur duluan."

Jaehyun hanya sempat menatap punggung Doyoung yang menghilang ke balik pintu kamar. "Nite," ucapnya lirih.
Doyoung menempelkan punggung pada pintu yang baru saja dikuncinya. Ia mendengar samar suara itu, dan dalam hati membalas, 'nite, Jae.'

Malam makin larut, hujan di luar semakin deras. Doyoung baru teringat, ia lupa memberi selimut untuk Jaehyun. Dengan ragu, ia membawa selimut keluar. Benar saja, Jaehyun tampak menggigil di sofa. Perlahan, Doyoung menyelimutinya. Namun sebelum sempat kembali ke kamar, tangannya ditahan.

"Kenapa?" Doyoung menoleh, terkejut.

Jaehyun menatapnya dengan mata penuh kesungguhan. "Gue nggak selingkuh, Doy... demi Tuhan."

Keheningan menelan keduanya. Jaehyun bangkit dari sofa, selimut yang baru saja diberikan jatuh begitu saja. Tatapan Doyoung mengikuti gerakannya, bingung.
"Gue nggak selingkuh," ulang Jaehyun tegas.

"Y-ya terus apa? Ciuman itu?" suara Doyoung bergetar.

"Lu liat sendiri, gue lagi sama keluarga besar. Gue dijodohin. Malam itu gue sengaja mabuk karena kesel, dan gue nggak sadar cium dia. Itu salah, gue tahu. Tapi sama sekali nggak ada niat selingkuh."

Hati Doyoung kembali terasa diremas. Ia menunduk, mencoba menahan perih yang muncul lagi.
"Y-ya udah... udah putus juga. Nggak usah dibahas lagi."

Tapi Jaehyun kembali menggenggam lengannya, tak membiarkan ia pergi.
"Gue masih sayang sama lu, Doy. Gue masih mau berjuang buat kita."

Doyoung menatap mata itu, mata yang dulu membuatnya jatuh. Saat itu mereka sama-sama emosi, sama-sama dikuasai ego. Kini, jarak itu mendadak terasa tipis. Perlahan, tangannya terangkat, menyentuh sisi wajah Jaehyun. Sentuhan yang begitu ia rindukan.

Jaehyun menutup mata, merasakan hangatnya belaian itu. Dan entah siapa yang lebih dulu, kerinduan mereka pecah. Bibir saling bertemu, berat, penuh luka, tapi juga penuh rindu.

JAEDO; Oneshoot Where stories live. Discover now