Part 1

21 0 0
                                        

6 Bulan sebelum insiden di Kalibaru


"Kapten, semua unit kita sudah siap, menunggu perintah selanjutnya."

"Stand by."

"Baik Kapten."

Kali ini gue di Kabupaten Nduga, gue mimpin satu unit kecil. Kita akan ngelakuin satu serangan diam-diam kepada pasukan pemberontak, menurut kabar burung yang gue denger. Mereka pakai virus tipe baru, yang pada saat itu. Ketika orang sudah terinfeksi sama virus itu, tubuhnya bakal berkerak, lalu menjadi kayak kepompong. Dan dari kepompong itu bakal keluar satu mahkluk yang gue sama sekali nggak ngerti mahkluk apa itu. Nggak lama kemudian gue nerima telegram dari salah satu pasukan gue.

"Tim jaguar, anda diijinkan bergerak esok pagi, jam empat." Baiklah kayaknya hari esok bakal panjang banget. Gue lalu masuk ke dalam tenda yang disediakan kesatuan gue. Ketika gue udah masuk ke dalam tenda, handphone gue berbunyi. Ooh... ternyata dari Kak Yona.

"Kalo udah balik, jangan lupa beliin oleh-oleh buat gue." Iya-iya, dasar nenek-nenek.

"Iya." Cuma itu yang gue bales.

"Kak, minggu depan aku udah mau konser. Hadir dong."

"Iya sis, udah ya. gue tidur dulu. See u soon." Gue lalu naruh handphone gue di nakas tempat tidur, gue lalu memejamkan mata. Tepat ketika pukul tiga pagi, gue terbangun karena suara alarm yang berbunyi di koramil. Gue lalu berlari menuju ke lapangan, bersama dengan pasukan-pasukan gue.

"Selamat pagi rekan-rekan. Di pagi ini kita akan melakukan penyerangan terhadap tentara pemberontak, lepaskan dog tag kalian. Jangan sampai ada satupun jejak kalian. Jaga satu persatu rekan kerja kalian sama kayak kalian ngejaga keluarga kalian sendiri." Gue lalu melirik ke anggota yang baru saja bergabung ke dalam skuad.

"Jadi nama lu Patrick."

"Siap Kapten, saya siap mengabdi." Anggota itu ngebales dengan berapi-api. Jujur gue keinget pas masa-masa ketika gue jadi tentara.

"Patrick, gue tau lu pasti gugup ya, apalagi ini tugas pertama lu. Tapi lu jangan khawatir, tim lu selalu nge support lu. Termasuk gue."gue menepuk pundak dia, lalu ninggalin dia.

"Apa dia selalu sekharismatik ini." samar-samar gue ngedenger omongan dia. Hmm... bener-bener tipikal anak muda banget. lalu tak lama kemudian, pasukan-pasukan kami mulai berangkat, gue mimpin tim A, dan kami akan bergerak menyusuri lembah-lembah dimana pasukan pemberontak biasanya melakukan aksinya, sedangkan tim B dibawah pimpinan mayor Ferdy. Sekitar sejam kami berjalan, gue mulai melihat ada pemukiman di kejauhan.

"Tim A sudah di lokasi." Gue berbicara.

"Tim B sudah di lokasi."

"Menunggu perintah markas."

"Lanjutkan, tidak ada warga sipil disitu." Perintah dari markas terdengar. Tak menunggu lama, tim B menembakkan rocket launcher ke arah pemukiman itu, ledakan terdengar di sekitar pemukiman itu.

"Maju, maju, maju." Tak lama kemudian, unit yang gue pimpin masuk menyerbu ke dalam markas pemberontak itu, gue maju merangsek, dan tiba-tiba ada pemberontak yang maju ke arah gue. Gak pake lama, gue nembak kepala pemberontak. Satu orang jatuh. Namun ada yang aneh, kenapa perilaku orang itu sangat aneh. Ini gue nggak ngimpi kan? Kenapa orang itu terbakar? Dan kenapa kok mereka membatu begini?

"Gua saranin kalian semua mundur." Suara seorang perempuan? Nggak lama dari suara itu, muncul seorang perempuan dengan rambut pendek dengan pakaian berwarna ungu yang kayaknya designer pakaian nya nggak selesai dalam mengerjakan pakaian itu. Sontak semua pasukan gue menodongkan senjatanya kearah perempuan itu.

Naabot mo na ang dulo ng mga na-publish na parte.

⏰ Huling update: Sep 06, 2025 ⏰

Idagdag ang kuwentong ito sa iyong Library para ma-notify tungkol sa mga bagong parte!

Zombie Attack Inferno (Samuel POV)Mga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon