Keluarga Prawira baru pulang dari pemakaman Olive. Ladya, Indar, dan Armand tengah beristirahat di dalam. Sementara itu, Ariana ditemani Dito dan Kei, duduk di teras.
"Aku tau semua ini berat buat kamu," ucap Kei pelan. "Tapi aku yakin kamu bisa melewatinya. Kamu orang yang kuat, Na."
Dito yang sejak tadi diam ikut menambahkan. "Olive udah tenang di sana. Dia pasti bangga sama kamu. Karena sampai akhir, kamu nggak pernah berhenti berjuang buat dia. Kamu udah berusaha lindungi Olive."
Ucapan itu membuat Ariana tak kuasa menahan tangis. Bahunya bergetar hebat, air mata jatuh tanpa henti. Kei dan Dito sama-sama iba melihatnya. Kei merogoh saku, mengeluarkan sapu tangan. Tapi Dito lebih cepat, ia menyodorkan tisu dengan tatapan penuh peduli. Ariana menerimanya, menutupi wajah dengan tisu itu. Air matanya semakin berjatuhan.
Kei menghela napas, kembali menyimpan sapu tangannya.
Beberapa menit kemudian, tangis Ariana mulai mereda. Kei lalu berkata, "Aku pamit, ya. Kalau kamu masih sedih, atau butuh teman cerita, kamu bisa telpon aku."
Dito cepat menimpali, seolah tak mau kalah. "Ke aku juga bisa, Na. Kapanpun kamu butuh, aku pasti ada buat kamu. Aku akan langsung ke sini secepat kilat kalo kamu telpon aku."
Kei sempat menoleh ke Dito, heran, tapi memilih diam. Ariana hanya mengangguk lemah, matanya masih sembap.
"Makasih ya, Kei. Mas Dito," ucap Ariana lirih sambil berusaha tersenyum.
Kei dan Dito membalas senyum itu. Tak lama, keduanya berdiri, lalu meninggalkan teras kontrakan.
*****
Ariana terduduk lesu di pinggir ranjang. Wajahnya pucat, matanya sembap, tak sanggup lagi menangis. Pandangannya kemudian jatuh pada sebuah kamera yang tergeletak di meja rias.
Perlahan ia mengambilnya, duduk di kursi, lalu menyalakan kamera itu. Begitu layar menyala, napasnya tercekat. Video lama yang pernah ia rekam bersama Ladya dan Indar mulai berputar.
Di layar, wajahnya sendiri tersenyum, menyapa Olive yang masih bayi. "Olive sayang... ini Aunty Ariana. Kamu nanti panggil Aunty Na aja, ya."
Air mata yang sempat tertahan kembali mengalir deras. Ingatannya menyeretnya pada momen-momen bersama Olive; pertama kali ia menggendong bayi mungil itu, saat Armand mengadzankannya dengan penuh khidmat; hari-hari sibuk ketika ia ikut merawat Olive; hingga saat di klinik, berdiri di samping Dito sambil menggenggam tangan kecil Olive.
Suara Ariana dalam video kembali terdengar, lirih namun jelas.
"Suatu hari nanti, Aunty Na berharap kamu punya hati yang pemaaf seperti ibu kamu... keberanian untuk menerima takdir yang paling berat sekalipun... dan kesetiaan yang tidak akan pernah meninggalkan orang yang dia sayang."
Ariana menutup kamera itu dengan tangan gemetar, tak sanggup menontonnya lebih lama. Ia jatuh terduduk di lantai, meraih kain gendongan bayi yang tergeletak di dekatnya. Dipeluknya kain itu erat-erat, seakan Olive masih ada di sana.
"Olive..." isaknya dalam hati. "Aunty Na minta maaf. Aunty janji kasih kamu hidup yang penuh cinta dan rasa aman... tapi Aunty gagal. Aunty nggak bisa lindungin kamu."
Tangisnya pecah kembali, memenuhi seisi kamar yang terasa semakin hampa.
Air mata Ariana belum berhenti, tapi pikirannya tiba-tiba melayang pada...
"Mas Dito... pasti juga lagi sedih banget karena kehilangan Olive," batinnya lirih.
Tangannya meraih ponsel di meja samping. Dengan ragu ia membuka kontak, lalu menekan nama Dito. Beberapa detik kemudian, suara berat itu terdengar dari seberang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semesta Lain
FanfictionSetelah kematian Olive yang mengguncang semua orang, Ariana terjebak dalam pusaran tuduhan kejam yang menjadikannya kambing hitam. Di tengah keterpurukan itu, Dito justru tak pernah meninggalkan Ariana sendiri. Dari kebencian, keraguan, hingga simp...
