Raka, seorang mahasiswa muda dengan tubuh atletis yang selalu menjadi pusat perhatian, tak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis setelah kedekatannya dengan Aulia-gadis cantik yang diam-diam sudah lama menyimpan rasa padanya. Hubungan merek...
Di sebuah kampus swasta ternama di Jakarta, dua sosok menonjol selalu jadi perhatian.
Raka, mahasiswa semester empat jurusan manajemen, tubuhnya kekar hasil latihan keras di gym sejak SMA. Bahunya lebar, dadanya bidang, lengan berotot dengan urat-urat yang menonjol jelas setiap kali ia mengangkat barang atau sekadar merapikan rambut. Meski masih 20 tahun, fisiknya lebih mirip atlet profesional. Tak heran banyak mahasiswa-bahkan dosen-yang sering mencuri pandang saat ia berjalan di lorong dengan kaus ketat yang melekat di tubuhnya.
Di sisi lain ada Aulia, mahasiswi jurusan manajemen, teman satu angkatan Raka. Cantik, feminim, dengan lekuk tubuh menggoda. Kemeja putih kampus selalu tampak sedikit ketat di tubuhnya, membuat banyak pasang mata sulit berpaling. Meski terlihat anggun, Aulia punya sisi hangat dan jenaka yang membuatnya mudah didekati.
Keduanya sudah lama saling mengenal, tapi hanya sebatas teman satu angkatan. Hingga suatu hari, sebuah insiden kecil mengubah segalanya-insiden yang memperlihatkan sisi Raka yang selama ini tak pernah benar-benar diperhatikan Aulia, dan sebaliknya.
Suasana kelas kampus siang itu cukup ramai. Beberapa mahasiswa sedang bercanda sambil menunggu dosen masuk. Raka datang dengan tergesa sambil membawa segelas susu. Entah karena terlalu cepat duduk atau tidak fokus, sebagian susu tumpah ke dadanya.
"Ah, sial..." gumamnya pelan, lalu ia berdiri dan mulai membuka kemejanya untuk membersihkan noda susu yang menempel.
Gerakan spontan itu langsung menarik perhatian Aulia, yang duduk di sampingnya. Ia sempat terdiam, menatap tubuh Raka yang basah oleh cairan putih, otot-ototnya jelas terlihat di balik cahaya kelas.
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
"Rak... kamu kok buka baju di kelas sih? Semua orang lihat," bisik Aulia dengan nada kaget, tapi matanya tak bisa benar-benar berpaling.
Raka hanya tersenyum, separuh menggoda. "Mau gimana lagi? Kalau nggak aku bersihin sekarang, malah lengket." Ia mengusap dadanya dengan tisu, lalu menoleh ke Aulia yang masih memandanginya dengan wajah sedikit merah.
"Apa kamu mau bantuin?" tanyanya setengah bercanda.
Aulia tercekat, mencoba mengatur napas. Ia ingin marah, tapi rasa penasaran bercampur degup jantungnya justru membuat suasana makin canggung sekaligus... menegangkan.
Keringat bercampur dengan susu yang menetes di dada Raka, membuat kilau basah di atas kulit sawo matangnya. Ia sudah tak peduli dengan sorakan teman-teman yang menggoda dari kejauhan; kemeja sudah dilepas dan teronggok di meja, meninggalkan tubuh bagian atasnya terekspos penuh.
Otot perutnya terlihat jelas, tiap guratan six-pack memantulkan cahaya lampu kelas. Bahunya bidang, bisepnya mengencang saat ia mengusap dada dengan tisu. Gerakan sederhana itu malah membuat setiap serat otot di lengannya menonjol.
Aulia duduk kaku di kursinya. Dari jarak sedekat itu, ia bisa merasakan kehangatan tubuh Raka yang masih telanjang dada. Matanya berkali-kali berusaha menghindar, tapi pandangan selalu kembali ke lekuk dada bidang dan garis halus otot yang seakan "memanggil."
"Rak..." suara Aulia nyaris bergetar, "kamu nggak bisa kayak gini di kelas."
Raka menoleh, senyum tipis di bibirnya. "Kenapa? Kamu terganggu?" Ia mencondongkan tubuh, otot dadanya bergerak ketika ia bersandar ke meja. "Atau... kamu sebenarnya menikmati pemandangan ini?"
Aulia tercekat. Pipinya memanas, tangannya tanpa sadar meremas ujung rok. Nafasnya sedikit lebih cepat. "Jangan bercanda di sini."
Raka mendekat lebih jauh, jarak wajah mereka tinggal beberapa senti. Napas hangatnya menyentuh pipi Aulia, membuat bulu kuduknya berdiri. "Aku serius," ucap Raka pelan, nada suaranya berat, dalam, penuh sugesti. "Aku lihat caramu ngeliatin aku dari tadi."
Aulia menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, tak tahu harus menjawab apa. Otot-otot Raka bergerak halus tiap kali ia menarik napas, seolah menegaskan kedekatan mereka. Situasi di kelas yang masih riuh seakan memudar; dunia hanya berisi mereka berdua, dan detak jantung yang saling bertubrukan.
Sorakan teman-teman kembali terdengar: "Wih, ada yang makin mesra!" "Udah, jadian aja sekalian!"
Aulia buru-buru menggeser kursinya, tapi tatapan Raka masih menempel padanya, intens, tak terputus. Ada sesuatu dalam cara Raka memandang yang membuatnya gemetar-sebuah campuran antara rasa aman, dominasi, dan godaan yang membuatnya sulit bernapas normal.